Beranda oase Lukisan Jansen Jasien Dihargai Rp5 Miliar, Ada Enkripsi Tersembunyi

Lukisan Jansen Jasien Dihargai Rp5 Miliar, Ada Enkripsi Tersembunyi

744
0
Dibantu layar proyektor, Jansen Jasien dalam press conference menjelaskan Master Piece Three Kingdom yang dibanderol Rp5 M.
Dibantu layar proyektor, Jansen Jasien dalam press conference menjelaskan Master Piece Three Kingdom yang dibanderol Rp5 M.

SICOM Jansen Jasien terus menorehkan sejarah. Mempersiapkan secara khusus sejak 2012 untuk pameran tunggal ketujuh, akhirnya lahir 250 lukisan karya Jansen Jasien (JJ) yang dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal bertajuk Jelajah Jagad di sekolah Selamat Pagi Indonesia, Desa Pandan Rejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Pameran dibuka Minggu 20 Desember 2015 dan berlangsung hingga 3 Januari 2016. Dalam pameran ini banyak kejutan yang dibuat JJ. Di antaranya berupa karya masterpiece JJ berjudul Three Kingdom.

Lukisan ini dikerjakan di atas kanvas terdiri dari 7 panel dengan ukuran masing-masing  80x 180 cm. Media cat minyak di atas kanvas. Bukan hanya karena hasil visualnya yang cukup besar sehingga layak jadi perhatian, melainkan juga banderol Rp 5 miliar yang dicanangkan sang pelukis untuk satu lukisan ini.

Lukisan ini sarat simbol-simbol menginspirasi. Juga merangkum visualisasi tujuh wajah pendekar dari jaman Dinasti Han dengan gaya ekspresionis khas JJ. Lapis demi lapis obyek pun demikian menyatu dalam lukisan itu. Termasuk unsur rajah yang disebut JJ sebagai enkripsi tersembunyi. Dan proses penyematan enkripsi itu, kata JJ, meski pun spontan namun mewujud dalam enkripsi yang cukup rumit karena harus dilukis saat cat minyak sedang basah.

“Dan hasilnya seperti bisa anda lihat, lapis demi lapis dari visualisai karya ini akan menarik selain kaya pesan dari cerita dari tujuh tokoh,” kata Jansen Jasien peraih penghargaan Full Moon Award Belanda dalam rilisnya, Minggu (20/12/2015).

Lukisan dengan harga fantastis tersebut, diharapkan bukan hanya merangkum jiwa dan ide kreatif pelukis, melainkan juga peluh dan doa yang dirangkai JJ bersama anak yatim piatu di sekolah entrepreneur Selamat Pagi Indonesia. Pameran ini terasa istimewa buat JJ karena karyanya kali ini merupakan buah ‘pergumulan’ intuisi berkeseniannya dengan anak-anak sekolah Selamat Pagi Indonesia.

“Benar, dua tahun ini, bukan hanya proses kreatif yang terjalin bersama anak-anak yang akhirnya jadi jalinan batin yang kuat. Tapi akhirnya terselenggara pameran ini. Dan nantinya, sebagian dari hasil penjualan lukisan ini akan didonasikan untuk pendidikan anak yatim piatu dari lima agama di Sekolah Selamat Pagi Indonesia ini,” tutur Jansen Jasien ketua Kelompok Pekerja Seni Pecinta Sejarah atau KPSPS Surabaya.

Dalam pameran tunggal ketujuh pelukis JJ ini, ada 3 tema besar yang diusung JJ dalam pameran tunggalnya. Dimulai dari tema tentang bocah, yaitu tentang rekaman ingatan dan imajinasinya tentang dunia anak-anak di Kampoeng Kidz. “Tiada cukup bingkai kanvas untuk mengurai semua kisah. Terlalu luas dan lengkap kisah para bocah. Mereka tumbuh bersama lingkungannya dalam dunia yang lucu, seru, dan alami,” kata JJ.

Budaya adalah tema kedua dlama pameran kali ini, yang menyajikan pergumulan batin JJ memaknai untaian gerak seni tradisi dalam bingkai lukisan. Dalam tema ini, JJ berupaya menarik benang, betapa kebudayaan itu berkaiut erat dengan hidup dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Seni tari, wayang, music tradisi, sampai arsitektur sejarah. Semuanya adalah pengejawantahan hidup di masanya.

Sedangkan religi adalah tema ketiga dalam pameran tunggal lukisan JJ, yang merupakan area kontemplasinya pada Sang Pencipta. Di mata JJ, enam agama yang diakui negeri ini punya daya tarik berbeda untuk dikisahkan dalam lukisan. Interaksi di Sekolah Selamat Pagi Indonesia antara JJ dan anak-anak beragam agama begitu rukunnya, menyulut inisiatifnya untuk mengurai pandangannya dalam bingkai lukisan. Guratan-guratan cat minyak di atas kanvas pelukis kelahiran Gresik 15 April 1974 ini seolah mengingatkan kita tentang toleransi di tengah perbedaan.