Beranda oase Maulid Sang Nabi

Maulid Sang Nabi

381
0

Sudah lama aku tak melihat umbul-umbul. Warna warni mereka menari nari lurus di batang bambu. Di bawah tenda biru bergaris kuning, Orang-orang menyandarkan perhatian. Sebuah gelas belimbing berisi air teh berwarna rendaman daun ketapang. Sementara kaki-kaki kursi pelampang saling menyilang mulut mereka agar tidak terlalu banyak berbincang. Anak laki-laki berpeci. Para perawi baru saja menyalami kisah nabi. Aku ikut berdiri mengamini. Shalawat datang menggaungi nurani. Ibu mengelus kepalaku yang diam-diam mencuri pandang pada wajah Nurjanah. Katanya, kita harus meneladani sikap nabi. Suatu saat aku harus menjadi perawi. Agar aku lebih baik lagi mengenali Nabi. Pak ustadz menegakkan mimbar. Orang-orang diam mendengar. Jilbab Nurjanah berwara hijau. Sementara sarungku berwarna cokelat. Kata pak Ustadz, Nabi mencintai perbedaan. Jangan menggunakan kekerasan untuk saling memaksakan.

Malam baru saja jatuh di kaki rembulan. Gending duli menyisir desir di atas pasir. Puncak-puncak jabal menghilang ditelan wajah langit yang telah terbelah. Seorang anak lelaki diam-diam hidup sendiri. Menyusuri Sudut kota Mekah yang masih jahiliyah. Berdagang bermodal pekerti. Dipercaya orang karena jujur dan rendah hati. Malam – malam kadang datang tanpa bintang. Sementara orang – orang masih hidup seperti binatang. Muhammad tak bisa berdiam dan tak perduli. Ia kemudian pergi menyendiri. Empat puluh tahun usia tiba. Jibril datang masuk ke dalam sebuah gua. Muhammad kaget tanpa kata. Badan menggigil menggoyang jiwa. “Baca!” “Aku tak bisa baca!” “Baca dengan nama Tuhanmu” Muhammad membaca alam semesta. Ayat-ayat sang Maha Kuasa. Kenabian baru saja tiba. Ia bercerita pada istri tercinta. Siti Khodijah, perempuan beriman pertama. Orang-orang di dekatnyapun mulai ikut menerima. Hidup damai mengikuti ajaran yang disampaikannya.

Perlawanan mulai menyerang. Paganisme tergerus ajaran yang baru datang. Mereka sungguh tidak senang. mengancam menghunus pedang. Perang Badar sampai perang Tabuk. Umat islam gigih berjuang. Hijrah merupakan awal perhitungan Hijriah. Lewat piagam Madinah sang Nabi menyatukan suku-suku di sana. Setelah delapan tahun bertahan atas serangan suku Mekkah. Sang Nabi menaklukan Mekkah dengan sepuluh ribu tentara. Sang Nabi menghancurkan berhala-berhala. Tahun enam ratus tiga puluh dua sang Nabi kembali ke kota Madinah. Haji Wada telah usai dilaksanakannya. Sang Nabi jatuh sakit. Sang Nabi Wafat meninggalkan wasiat. Semenanjung Arab yang bersatu dalam pemerintahan islam yang hebat.

Sang Nabi memang telah pergi. Namun ajaran dan teladannya harus tetap di ikuti. Menghargai dan jangan saling menyakiti. Sering-seringlah untuk saling berbagi. Maulid sang Nabi jangan sampai hanya sekedar seremonial sehari. Karena yang terpenting adalah memperbaiki diri sendiri. Menjadi umatnya yang selalu patuh mengikuti. Menjadi insan bermanfaat di muka bumi. Mari kita meneladani ajaran dan sikap hidup sang Nabi. Jangan lantas berhenti mengkaji Alquran dan hadits-hadits Nabi.

Depok, 24 Desember 2015

Oleh Andri Sipil

sumber : http://fiksiana.kompasiana.com/andrisipildepok/maulid-sang-nabi_567bd7c3a7afbdd408c8a161