Beranda Headline “TKP Bicara” Cerita Polisi Inafis Mengungkap Kasus Pembunuhan dari Rumput

“TKP Bicara” Cerita Polisi Inafis Mengungkap Kasus Pembunuhan dari Rumput

2090
0
Buku TKP Bicara karya Aiptu Pudji Hardjanto.
Buku TKP Bicara karya Aiptu Pudji Hardjanto.

Piter Napa menjadi sosok yang menginspirasi Aiptu Pudji dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Muncullah teori membaca rumput dan jejak dalam setiap olah TKP.

Badannya gempal. Tatapan matanya dingin. Tapi jika sudah mengenalnya, sosok Aiptu Pudji Hardjanto termasuk anggota Polri paling grapyak. Humoris juga. Tidak segan untuk belajar dan melemparkan pertanyaan, terutama terhadap wartawan. Yah, anggota dari unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polrestabes Surabaya ini sangat familiar di kalangan jurnalis.

Pudji sapaan akrabnya, mempunyai ciri khas tersendiri. Dia selalu mengenakan kacamata hitam. Selain dipakai untuk bois-boisan, kacamata itu sering dipakai untuk mengecoh lawan bicara. Pernah beberapa kali dia mengecoh tersangka pembunuhan di Kapas Kerampung. Setiap kali tersangka diajak bicara, Pudji bersikap cuek bahkan memalingkan wajah. Hanya saja matanya diam-diam membaca gerak tubuh tersangka. Itulah fungsi kacamata hitam ala Pudji.

Kali ini Pudji dan kacamata hitamnya nongol di sebuah buku berjudul TKP Bicara. Buku ini bukan sembarang buku. Buku TKP Bicara ditulis Pudji dari hasil pengalamannya olah TKP selama menjadi tim Inafis Polrestabes Surabaya.

Sebenarnya sejak awal Pudji tidak memiliki niat untuk menulis. Padahal banyak teman sejawat maupun wartawan menyarankan dia untuk membukukan pengalamannya. Hal ini wajar saja mengingat banyak kasus-kasus besar pembunuhan yang berhasil diungkapnya. Yah, keahlian Pudji boleh dibilang menguasai apa yang disebut Jeffrey Deaver dalam novel-novel kriminalnya: hukum pertukaran materi.

Sayangnya, Pudji tidak pernah tertarik untuk menulis. Jangankan angan-angan untuk menulis pun jauh. “Menulis bukan bidang saya, kendati saya sering membuat laporan hingga bertumpuk-tumpuk. Tapi saya tidak pernah ingin menulisnya,” kata Pudji kepada Lensa Indonesia.

Namun tidak demikian dengan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Drs. Yan Fitri Halimansyah. Nampaknya Kapolrestabes melihat ada bakat yang dimiliki anak buahnya tersebut. Pudji rupanya di mata Yan Fitri, selain memiliki keahlian mengungkap kasus pembunuhan, juga punya bakat menulis.

“Suatu hari saya dipanggil Kapolrestabes menghadap ke ruangannya. Beliau perintah saya menulis buku. ‘Kamu nulis buku saya kasih waktu dua minggu’, demikian kata Kapolrestabes kepada saya. Saya kaget dan bilang tidak bisa menulis. Tapi kemudian Bapak Yan Fitri bilang sering membaca laporan saya bertumpuk-tumpuk dan meyakinkan saya bisa menulis,” cerita bintara kelahiran 24 Oktober 1973 tersebut.

Rupanya perintah Kapolrestabes juga diamini Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Takdir Mattanete yang berada di ruangan itu. “Pudji bisa menulis. Dia punya banyak pengalaman,” kata Pudji menirukan ucapan Takdir.

Sejak itu Pudji mulai menulis. Awalnya dia kesusahan menuangkan pikirannya dalam tulisan. Tapi dengan deadline yang mepet itu, Pudji berhasil membuktikan pada atasannya membuat karya yang fenomenal. “Saya bikin buku molor hingga tiga bulan, tapi itu sudah termasuk mengumpulkan data foto dan revisi. Sekarang sudah selesai, Alhamdulillah!” serunya.

Pudji mengatakan buku TKP Bicara akan terbit dua minggu lagi. Sebab, saat ini dia masih kata pengantar dari Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji dan Kapusinafis Mabes Polri Brigjen Pol Bakti Suhartono.

Dia juga mengaku menaruh bangga terhadap Kapolrestabes Surabaya yang telah memberinya perintah menulis buku. “Kalau tidak diperintah beliau mungkin buku ini tidak akan ada,” ucapnya.

Pria 42 tahun itu memaparkan materi dalam buku itu diambil dari semua dokumen-dokumennya, dan tentunya pengalaman semasa bertugas. Dalam TKP Bicara Pudji mengawali cerita saat pertama kali bertugas di Atambua. Pengalamannya berurusan dengan mayat didapat dari pedalaman Nusa Tenggara Timur. Di situlah awal-awal dia mengusut kasus pembunuhan yang melibatkan suku.