Peringatan HUT Topografi Ke 70, Pamerkan Pesawat Tanpa Awak

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Dalam memperingati Hari Ulang Tahun (Hut) Topografi yang ke-70, Direktorat Topografi (Dittopad) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) memamerkan beberapa jenis pesawat tanpa awak (UAV) atau drone yang digunakan untuk pemetaan dan pemantauan (surveillance) di Markas Dittopad, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (26/4/16).

Menurut Direktur Topografi TNI AD Brigjen TNI Dedy Hadria, fungsi utama pesawat tanpa awak (UAV) atau drone ini untuk pemetaan, tetapi juga bisa dikembangkan desain pesawat tanpa awak ini, digunakan untuk mengirim barang (dropping) dan pemantauan, terutama di daerah perbatasan.

“Indonesia perlu mendesain sendiri pesawat tanpa awak atau drone tersebut agar bisa disesuaikan dengan kondisi medan dan iklim negara tropis. Karena itu kita desain sedemikian rupa agar drone cocok untuk medan kita seperti pegunungan, daerah sungai, daerah pantai, dan laut,”kata Direktur Topografi TNI AD.

Direktur Topografi TNI AD, Mengingat pentingnya fungsi pemetaan dan pemantauan lanjutnya, Direktorat Topografi TNI AD terus berupaya memberikan dukungan pesawat tanpa awak ke berbagai satuan di lapangan, terutama yang menjadi prioritas tahun ini yakni di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Dukungan dari negara ke perbatasan untuk multirotor jarak dekat jumlahnya sudah puluhan disediakan, sedangkan untuk drone jarak jauh tahun ini disiapkan sepuluh unit.

“Jadi beberapa pesawat tanpa awak yang dipamerkan Dittopad TNI AD antara lain jenis multirotor seperti TOPX6-01 dilengkapi dengan kamera pemotretan udara berbasis koordinat GPS dan TOPX4-RF yang dilengkapi kamera video untuk pemantauan bahkan dalam kondisi hujan.

Ia menambahkan, untuk drone jenis multirotor TOPX8-HL dilengkapi dengan kemampuan daya angkat hingga delapan kilogram sebagai prototype (purwa rupa) pembawa senjata, logistik, dan perlengkapan di daerah yang sulit dilalui jalur darat.

“Selain perbatasan Indonesia-Malaysia, Dittopad TNI AD juga akan menyiapkan pesawat tanpa awak untuk membantu pasukan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini, Indonesia-Timor Leste, serta di perairan Natuna yang rawan praktik penangkapan ikan ilegal (illegal fishing),”imbuhnya.

Sementara itu Progamer PTTA Yosa Rosario mengatakan pesawat tanpa awak ini dirancang dengan menyesuaikan kondisi geografis Indonesia yang 70 persen adalah air. PTTA ini memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di air, baik itu sungai, danau dan juga di darat karena selain dilengkapi floating juga dilengkapi landing gear optional untuk operasi dari darat.

“Kemampuan system kontrol jarak jauh mencapai 100 kilo meter untuk menerima real time atau streaming video pada ketinggian jelajah 300 meter hingga 500 meter. System UAV nya memiliki kemampuan yang mumpuni untuk terbang secara auto yang dilengkapi dengan sistem navigasi dan telemetri yang akurat,”kata Yosa

Yosa menjelaskan, PTTA OS-Wifanusa memiliki kemampuan untuk melaksanakan operasi pengawasan (surveillance) dan melakukan foto udara (remote sensing) untuk keperluan pemetaan.landing gear optional untuk operasi dari darat.

PTTA OS-Wifanusa memiliki kemampuan untuk melaksanakan operasi pengawasan (surveillance) dan melakukan foto udara (remote sensing) untuk keperluan pemetaan. Pesawat ini mampu terbang dengan jarak 500 km, dilengkapi lampu navigasi untuk terbang malam. Memiliki dudukan kamera video beserta gimbal. Memiliki ruang dimensi payload yang luas serta tahan hujan,”[email protected]

Up Next

Related Posts

Discussion about this post