Tito Karnavian Pernah Menangkap Tommy Soeharto dan dr Azahari

Calon Tunggal Kapolri “Setengah Kejutan”

Comment

Naiknya Komjen Tito Karnavian ke tangga Kapolri bisa dibilang “setengah kejutan”. Betapa tidak, jenderal bintang tiga termuda itu melompat melewati empat generasi yang mengantre untuk jabatan Tri Brata 1.

Teka-teki siapa yang akan dimajukan sebagai calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) terjawab sudah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengajukan Komisaris Jenderal (Komjen) Tito Karnavian, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Naiknya Tito ke tangga Kapolri bisa dibilang “setengah kejutan”. Jalan Tito sudah disiapkan ketika ia dipromosikan sebagai Kepala BPNPT, Maret lalu. Pangkatnya naik dari bintang dua (inspektur jenderal) menjadi bintang tiga (komisaris jenderal). Dengan menyandang jenderal bintang tiga termuda itulah, peluang Tito terbuka lebar untuk dicalonkan sebagai Kapolri.

Komjen Tito naik untuk menggantikan Jendral Badrodin Haiti yang telah memasuki usia pensiun pada Juli nanti.

Kenapa “Setengah kejutan”? Mengingat di situ (internal Polri) masih ada Komjen Budi Gunawan (BG), yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri). Sudah rahasia umum, Ketua Umum PDIP Megawati menginginkan BG menjadi Kapolri. Apalagi kini jabatannya orang nomor dua di jajaran kepolisian. BG adalah skenario pertama yang diperkirakan banyak pihak.

Namun, sikap Jokowi untuk tidak cepat-cepat menyebut nama membuat skenario awal itu melemah. Skenario yang muncul berikutnya adalah perpanjangan masa jabatan Jenderal Badrodin Haiti.

Skenario ini sepertinya hampir pasti dijalankan. Skenario ini jalan tengah untuk memelihara kohesivitas kepolisian. BG tetap tidak jadi Kapolri, tetapi tidak ada orang lain juga yang melompatinya. Riak-riak pendukung BG, terutama dari kalangan PDIP, bisa diredam andai perpanjangan terjadi ketimbang memajukan nama lain – kecuali nama itu Komjen Budi Waseso, yang konon sangat direstui BG bila dipromosikan sebagai Kapolri.

Presiden Jokowi seperti terjepit dengan dua skenario awal. Namun, sedikit tanpa disangka-sangka, justru Tito yang dimajukan sebagai satu-satunya calon Kapolri. Tito melompat melewati empat generasi yang mengantre untuk jabatan Tri Brata 1.

Dari pemberitaan, belum ada yang menolak Tito. Partai-partai seperti Hanura dan Nasdem sudah menyatakan dukungannya. Tito bisa dibilang paket lengkap: cerdas secara akademik (memperoleh gelar Ph.D dari luar negeri) dan berpengalaman di lapangan, terutama dalam hal pemberantasan terorisme. Sederet prestasi akademik dan prestasi lapangan sudah diperoleh lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 1987 ini.

Melalui Juru Bicara Kepresidenan, Presiden Jokowi membeberkan pertimbangan Presiden memilih mantan Kepala Densus 88 Anti Teror tersebut.

Presiden ingin meningkatkan profesionalisme Polri sebagai pengayom masyarakat, terlebih dirinya ingin Polri dapat memperbaiki kualitas penegakan hukum, terutama di perkara terorisme, narkoba dan korupsi.

Menyusul pencalonan Kapolri tersebut, di media sosial nama Tito Karnavian langsung melambung. Rabu (15/6/2016), Tito Karnavian menjadi puncak di trending topic Twitter Indonesia. Mayoritas netizen sepakat Tito menjadi Kapolri.

CERITA TITO MENOLAK DICALONKAN

Tito Karnavian rupanya sudah lama diperbincangkan menjadi Kepala Polri. Namun, Tito sempat menolak diberi jabatan orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Hal ini diungkap Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Saat Presiden Jokowi meminta masukan soal calon Kapolri dari internal Polri, Badrodin Haiti kemudian memaparkan nama-nama yang berprospek menjadi Kapolri. Salah satunya Tito.

Badrodin mengatakan, Presiden tertarik dengan prestasi Tito di Polri, khususnya dalam menangani tindak pidana luar biasa. Badrodin pun melancarkan komunikasi personal kepada Tito. Saat itulah, Tito menyampaikan penolakannya.

“Dalam pembicaraan kami dengan Pak Tito, Pak Tito bilang masih ingin konsentrasi menangani terorisme,” ujar Badrodin di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Namun, Badrodin menganggap penolakan itu lebih dikarenakan angkatan Tito yang terbilang masih muda untuk dijadikan sebagai pucuk pimpinan Polri. “Maksudnya dia itu, kita mengertilah,” ujar Badrodin.

Oleh sebab itu, dalam sidang dewan kepangkatan dan jabatan tinggi, hanya mengusulkan tiga nama sebagai Kapolri, yakni Komjen Budi Gunawan, Komjen Budi Waseso dan Komjen Dwi Priyatno.

Namun, rupanya keputusan Presiden konsisten. Jokowi tetap mengusulkan nama Tito untuk menggantikan Badrodin sebagai Kapolri ke DPR RI. “Ya saya senang-senang saja,” ujar Badrodin.

Menurut Badrodin, tidak menjadi persoalan meski Tito merupakan perwira angkatan 1987 dan akan membawahi banyak perwira tinggi seniornya sendiri. Sebab, Badrodin menilai semua perwira tinggi di Polri sudah mengakui prestasi cemerlang Tito.

“Semua pejabat Polri masing-masing mengakui keunggulan Tito. Jadi enggak ada masalah kan,” ujar Badrodin.

Lagipula, internal Polri memang sudah memprospek Tito untuk menjadi salah satu opsi pimpinan.

Badrodin pun termasuk orang yang kagum atas prestasi Tito. Ia terbilang berprestasi dalam menangani kasus-kasus kejahatan luar biasa. Misalnya terorisme dan tindak pidana umum.

Gaya komunikasinya pun bagus. Atas dasar itu pula Badrodin yakin penunjukkan perwira muda ini tidak akan menimbulkan gejolak di internal Polri.

“Enggak ada. Saya jamin. Sekarang ini eranya kompetisi. Siapa yang unggul, dialah yang dipilih,” ujar Badrodin.

Badrodin mengatakan, selama ini Tito dikenal sebagai sosok perwira tinggi yang ‘smart’ lewat segudang pengalamannya.

“Ya Anda lihat sajalah waktu dia memimpin Polda Metro Jaya. Ya kita semua akui keunggulan dia,” urainya.

Selain itu, lanjut Badrodin, nama Tito memang telah diperbincangkan di internal Polri sebagai calon potensial Kapolri. Perbincangan itu dijadikan masukan kepada Presiden secara lisan jauh-jauh hari sebelum proses penunjukan Kapolri dimulai.

“Ya saya tidak tahu apa pertimbangan Presiden. Tapi saya yakin pengalamannya itu yang dipertimbangkan Presiden,” pungkas Badrodin.

DARI TOMMY SOEHARTO HINGGA DR AZAHARI

Kecil-kecil cabe rawit. Itulah sosok Tito Karnavian. Pada usianya yang masih terbilang muda, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu menyalip jenderal bintang tiga lain yang usianya terpaut bertahun-tahun di atasnya dalam bursa calon kepala Polri.

Usia Tito kini baru menginjak 51 tahun. Karier pria lulusan Akpol tahun tahun 1987 ini sebenarnya masih panjang hingga pensiun pada usia 58 tahun.

Namun, pada usia mudanya ini, Tito meraih kepercayaan Presiden Jokowi sebagai calon tunggal kepala Polri.

Dia melewati sejumlah seniornya yang juga diajukan sebagai calon kepala Polri seperti Irwasum Komjen Dwi Prayitno (angkatan 1982), Wakapolri Komjen Budi Gunawan (angkatan 1983), Kepala BNN Komjen Budi Waseso (angkatan 1984), dan Kabaharkam Komjen Putu Eko Bayuseno (angkatan 1984).

Ada pula Kapusdiklat Polri Komhen Syarifuddin (angkatan 1985), Sekretaris Utama Lemhannas, dan Komjen Suhardi Alius (angkatan 1985).

Terpilihnya Tito ini diapresiasi karena mantan Kepala Densus 88 Antiteror ini memiliki segudang prestasi. Tak hanya dari segi akademis, sejumlah promosi jabatan dan kenaikan pangkat luar biasa Tito dapatkan semasa bertugas di kepolisian.

Penangkapan Tommy Soeharto

Karier Tito melesat setelah memimpin Tim Kobra menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra Presiden pertama RI Soeharto, pada 2001. Tommy ditangkap dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin.

Saat itu, Tito merupakan Kepala Satuan Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya. Kesuksesannya menangkap Tommy diganjar dengan kenaikan pangkat luar biasa Mayor menjadi Ajun Komisaris Besar.

Penangkapan teroris Azahari Husin

Semasa berkiprah di kepolisian, ia berpengalaman di bidang terorisme. Saat memimpin Densus 88 Polda Metro Jaya tahun 2005, ia menangkap teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur.

dr Azahari merupakan seorang insinyur Malaysia yang diduga kuat menjadi otak di balik bom Bali 2002 dan bom Bali 2005 serta serangan-serangan lainnya yang dilakukan Jemaah Islamiyah.

Pangkat Tito kembali dinaikkan menjadi Komisaris Besar. Ia dan satuannya juga mendapat penghargaan dari Kapolri.

Penangkapan puluhan DPO konflik Poso

Pencapaian besar lain yang Tito dapatkan semasa di Densus 88 ialah membongkar orang-orang di balik konflik Poso. Ia dan timnya berhasil menangkap puluhan tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang pada 2007.

Atas prestasinya, Tito mendapat penghargaan memimpin operasi antiteror di daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah. Tahun berikutnya, Tito pun menulis buku berjudul Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

 Bongkar jaringan teroris Noordin M Top

Kiprah di bidang terorisme kembali Tito toreh ketika bergabung dalam penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin Mohammad Top tahun 2009. Noordin masih terhubung dengan jaringan Azahari yang sebelumnya Tito tangkap.

Semenjak peristiwa pengeboman Bali 2002, Noordin dan kawan-kawan menjadi sasaran pencarian Polri dan juga FBI. Noordin berhasil melarikan diri dalam dua kali aksi penyergapan. Namun, dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Surakarta, Densus 88 berhasil melumpuhkan Noordin.

Tak lama setelah itu, Tito dipromosikan menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Polri dan mengalami kenaikan pangkat luar biasa Komisaris Besar ke Brigadir Jenderal.

 Lumpuhkan serangan bom di kawasan Thamrin

Saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Tito berhasil melumpuhkan serangan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Ledakan yang terjadi diawali dengan serangan di Starbucks Cafe. Salah satu pelaku melakukan bom bunuh diri di sana.

Tak hanya itu, pos polisi di depan Sarinah pun dibom oleh pelaku sehingga menyebabkan petugas tewas dan sejumlah warga luka-luka. Pemulihan keadaan terbilang singkat, dalam waktu 20-25 menit, para pelaku lain berhasil ditembak mati.

Berkat prestasinya itu, Presiden Jokowi mengangkat Tito sebagai Kepala BNPT pada 16 Maret 2016. Pangkat Tito pun naik dari Inspektur Jenderal menjadi Komisaris Jenderal.

Menangkap “Orang Istana” yang Terlibat Buloggate

Nama Tito sebenarnya sudah lama sudah muncul. Dia dulu pernah menangani kasus besar yang menarik perhatian publik saat menjabat Kepala Satuan Reserse Ekonomi di Ditserse Polda Metro Jaya.

Saat itu, Tito yang menjabat Mayor Polisi menangani kasus penyalahgunaan dana karyawan di Yayasan Kesejahteraan Karyawan Badan Urusan Logistik (Yanatera Bulog) sebesar Rp 35 miliar.

Kasus itu menjadi perhatian utama publik pada pertengahan 2000 karena tidak hanya melibatkan Wakil Kepala Bulog Sapuan.

Namun, kasus yang dikenal dengan sebutan Buloggate itu juga melibatkan “orang Istana”, yaitu tukang pijat Presiden Abdurrahman Wahid, Soewondo.

Pada 26 Mei 2000, Tito Karnavian memimpin anak buahnya menangkap Sapuan di kantornya, Gedung Bulog Jalan Gatot Subroto, pada 25 Mei 2000. Tito kemudian langsung memimpin proses penyidikan terhadap Sapuan, yang berjalan beberapa jam setelah Sapuan ditangkap.

Selain itu, Tito juga terlibat dalam pencarian Soewondo yang buron setelah namanya disebut terlibat dalam kasus itu. Soewondo sendiri ditangkap di sebuah rumah mewah pada 14 Oktober 2000 di Cisarua, Bogor.

 Lulusan terbaik

Karier gemilang Tito bisa dilihat dari kesuksesannya semasa sekolah. Tito merupakan lulusan terbaik Akpol tahun 1987 dengan menerima penghargaan Adhi Makayasa.

Setelah itu, Tito menyelesaikan pendidikan di University of Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies.

Ia pun melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta tahun 1996 dan meraih gelar S-1 dalam bidang Ilmu Kepolisian. Di PTIK, ia kembali menjadi lulusan terbaik dan mendapatkan Bintang Wiyata Cendekia.amb/ref/dt/ko

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post