Jessica Marah Pacarnya Dihina Miskin

Fakta-fakta Mengejutkan Pembunuhan ‘Kopi Mirna’ Terungkap di Persidangan

Comment

Jaksa menyebut, Jessica marah pada Mirna karena telah menghina pacarnya. Terdakwa pun sakit hati dan merencanakan untuk menghilangkan nyawa korban. 

Kasus kematian Wayan Mirna Salihin sudah memasuki babak baru setelah Jessica Kumala Wongso ditetapkan sebagai tersangka pada 26 Mei lalu. Kasus tersebut kini memasuki sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Jaksa membacakan dakwaan terhadap Jessica dengan mengungkap fakta-fakta di balik kematian Wayan Mirna Salihin usai minum kopi. Jaksa Ardito Muwardi menyebut motif Jessica membunuh Mirna karena sakit hati kepada Mirna karena dinasihati agar putus dari kekasih hatinya yang kasar dan pemakai narkoba. Jaksa mendakwa Jessica dengan Pasal 340 tentang pembunuhan berencana.

“Perbuatan terdakwa Jessica Kumala Wongso sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP,” kata Ardito, Rabu (15/6/2016).

Dikatakannya pula, es kopi Vietnam yang dipesankan Jessica untuk Mirna terdapat racun sianida yang melebihi batas. Hal itu berdasarkan keterangan ahli kedokteran forensik, Arief Wahyono.

“Menyimpulkan bahwa penyebab kematian korban Wayan Mirna adalah karena sianida yang jauh lebih besar sehingga menyebabkan erosi lambung,” ujarnya.

Jaksa memaparkan kronologi pertemanan Jessica dan Mirna. Akhir tahun 2015 lalu, keduanya diketahui sempat hilang kontak karena Jessica marah pada Mirna. Mirna menasihati dirinya untuk putus dari pacar yang pemakai narkoba dan tak bermodal. Nasihat itu membuat Jessica geram.

“Korban Mirna mengetahui permasalahan dalam hubungan percintaan antara terdakwa dengan pacarnya sehingga korban Mirna menasihati terdakwa agar putus saja dengan pacarnya yang suka kasar dan pemakai narkoba. Dan menyatakan buat apa pacaran dengan orang tidak baik dan tidak modal (miskin). Ucapan korban Mirna ternyata membuat terdakwa marah serta sakit hati sehingga terdakwa memutuskan komunikasi dengan korba,” kata Ardito, di PN Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).

Setelah kesal mendengar nasihat Mirna, kata Jaksa, pada akhirnya Jessica juga memutuskan kekasihnya itu. Saat putus itu, Jessica juga sempat terlibat beberapa permasalahan dengan polisi Australia. Dia semakin marah pada Mirna.

“Sehingga untuk membalas sakit hatinya tersebut, terdakwa merencanakan untuk menghilangkan nyawa korban Mirna,” jelasnya.

GERAK GERIK MENCURIGAKAN JESSICA

Untuk mewujudkan rencananya, Jessica mulai menjalani komunikasi kembali dengan Mirna lewat aplikasi Whatsapp pada tanggal 5 Desember 2015. Aplikasi chat itu dibuat dalam perjalanan pulang dari Australia ke Indonesia. Namun saat itu, Mirna tidak langsung merespons.

“Tanggal 6 Desember terdakwa tiba di Indoensia, dan tanggal 7 Desember berusaha menghubungi Mirna melalui WA untuk memberitahu keberadaannya di Jakarta. Terdakwa juga mengajak korban Mirna bertemu dan selanjutnya terjadilah pertemuan itu dengan terdakwa dan korban Mirna beserta suami korban yaitu Saksi Arief Setiawan di salah satu restoran di Jakarta Utara,” tambahnya.

Ditambahkan jaksa, setelah pertemuan itu keduanya menjalani komunikasi intens dan meminta Mirna membuat grup WA yang diberi nama sesuai nama kampus mereka dahulu. Dari grup itulah, terjalin rencana pertemuan di Kafe Olivier terancang. “Yang akhirnya disepakati bertemu tanggal 6 Januari 2016 pukul 18.30 WIB,” ujarnya.

Setelah itu, Jaksa menjelaskan soal pertemuan ketiganya di Olivier Restoran. Setibanya di sana, Jessica telah memesankan kopi kesukaan Mirna yakni Vietnamesse Ice Coffee (VIC). Kejadian berlangsung cepat. Sekitar pukul 16.24, pelayan Olivier Cafe membawakan VIC untuk Mirna yang dipesan Jessica di meja 54.

Saat itu Mirna belum datang. Setelah itu Jessica langsung berpindah tempat duduk dan meletakkan 3 paper bag di atas meja. Jaksa meyakini, aksi itu dilakukan untuk menutupi perbuatan yang akan dilakukan Jessica yakni menaruh racun sianida ke kopi Mirna.

“Dalam rentan waktu pukul 16.30 WIB – 16.45 WIB, terdakwa langsung memasukkan racun natrium sianida ke dalam gelas berisi minuman VIC yang disajikan untuk korban Mirna,” bebernya.

Setelah memasukkan racun sianida ke gelas VIC Mirna, Jessica langsung meletakkan gelas itu di tengah meja. Usai memastikan semua berjalan lancar, Jessica memindahkan tiga paper bag ke sofa dan kembali ke tempat duduk semula. Dalam dakwaannya, jaksa menuding gerak-gerik Jessica yang tiba-tiba meletakkan paper bag di atas meja itu mencurigakan.

“Setelah mengamati keadaan Restoran Olivier, sebagai persiapan selanjutnya untuk menghilangkan nyawa korban Mirna, kemudian terdakwa meninggalkan Restoran Olivier menuju ke toko Bath And Body Works, Lantai 1, West Mall, Grand Indonesia, Kelurahan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat dan sesampainya di toko tersebut Terdakwa membeli 3 (tiga) buah sabun dan meminta kepada Saksi Tri Nurhayati selaku karyawati toko Bath And Body Works, agar masing – masing sabun tersebut dibungkus dan dimasukkan ke dalam 3 paper bag,” tutur jaksa Ardito.

Kemudian sekitar pukul 16.14 WIB, Jessica kembali ke restoran dan menenteng 3 paper bag tersebut. Jessica kemudian diantar oleh saksi bernama Cindy ke non smoking area dan dia sengaja pilih meja nomor 54 berupa sofa setengah lingkaran.

“Membelakangi tembok dengan area yang lebih tertutup walaupun masih terdapat meja 33, 34 dan 35 berupa tempat duduk kursi dengan area terbuka yang masih kosong pada area tidak merokok,” imbuh Ardito.

Setelah itu Jessica langsung memesan minuman dan membayarnya di kasir. Dia berjalan menuju kasir dengan menengok dan memperhatikan sekitar.

Jaksa menyebut, setelah minuman datang, Jessica kemudian,”menyusun 3 paper bag di atas meja sedemikian rupa dengan maksud menghalangi pandangan orang sekitar agar perbuatan yang akan dilakukannya terhadap gelas berisi minuman Vietnamesse Ice Coffee tidak terlihat.”

Beberapa saat kemudian sekitar pukul 17.18 WIB, korban Mirna dan saksi Hani datang menemui Jessica yang sudah menunggu di meja 54. Mirna langsung duduk di tengah sofa, tepat di depan minuman VIC yang sudah dipesan Jessica untuk korban.

Mirna sempat mempertanyakan kenapa Jessica memesankan Vietnamesse Ice Coffee (VIC) untuknya. Hal tersebut terungkap dalam surat dakwaan Jessica yang dibacakan Jaksa Ardito.

“Oh, ya ampun untuk apa pesen dulu, maksud gue nanti aja pesennya, pas gue datang.. thank you udah dipesenin,” tutur Jaksa Ardito menirukan ucapan Mirna.

Mirna dalam grup Whatsapp yang terdiri dari dirinya, Jessica, Hani, dan Vera, memang sempat menyampaikan bahwa ia suka dengan minuman Vietnamesse Ice Coffee (VIC). Jessica kemudian berinisiatif memesankan Mirna VIC berdasar percakapan tersebut.

“Kemudian Mirna mengambil gelas berisi VIC yang telah dimasukkan racun NaCN oleh terdakwa dengan posisi sedotan telah berada di dalam gelas lalu mengaduk sebentar kemudian langsung meminum VIC yang sudah dimasukkan racun NaCN menggunakan sedotan,” ujar Ardito.

“Setelah Mirna meminum VOC dimaksud, seketika korban Mirna bereaksi dengan bereaksi ‘gak enak banget, this is awful’ sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan mulut akibat timbulnya rasa panas yang menyengat,” jelasnya.

Mirna lantas meminta Jessica mencicipi kopinya, namun Jessica menolak. Justru Hani yang kemudian mencicipi sedikit dan langsung meletakannya kembali. “Mirna menyodorkan minuman VIC tersebut kepada terdakwa untuk dicicipi namun ditolak oleh terdakwa,” ujar jaksa Ardito.

“Melihat kondisi tersebut, Hani justru berinisiatif mencium dan mencicipi VIC yang telah dimasukkan NaCN dan dirasakan pahit, sedikit panas di lidah serta pedas sehingga VIC tersebut langsung diletakkan kembali di atas meja 54,” jelasnya.

Beberapa saat kemudian Mirna pingsan dalam keadaan duduk dengan posisi kepala tersandar ke arah belakang sofa dengan keadaan mulut mengeluarkan buih dengan pandangan mata kosong serta kejang-kejang. Setelah dibawa ke RS Abdi Waluyo, nyawanya tak tertolong.

Hasil pemeriksaan forensik menyatakan Mirna tewas disebabkan oleh racun Sianida yang ada di dalam kopi yang ia minum. Jumlah racun sianida yang ditemukan di VIC yang diminum Mirna yakni 298 mg. Jumlah ini jauh lebih besar dari Lethal Dosis (LDIo) sianida (NaCN) untuk manusia dengan bobot 60 kg yang hanya 171,42 mg.

“Atas dasar itu dr Arief Wahyono, Sp.F dan dr Slamet Poernomo, Sp.F, DFM selaku ahli Kedokteran forensik yang melakukan pemeriksaan VeR terhadap Mirna menyimpulkan bahwa penyebab kematian Mirna adalah karena sianida (NaCN) yang jauh lebih besar dari lethal dosis sehingga menyebabkan erosi lambungnya,” papar Jaksa Ardito.

MINTA NAMA BAIKNYA DIPULIHKAN

Dakwaan ini langsung ditanggapi pihak Jessica dengan membacakan berkas pembelaan atas dakwaan jaksa atau eksepsi. Lewat kuasa hukumnya, berkas pembelaan yang telah dipersiapkan dibacakan.

Pengacara Jessica, Otto Hasibuan mengatakan, dakwaan yang dilakukan penuntut umum tidak jelas. Menurut dia, tidak dijelaskan bagaimana Jessica menaruh racun di minuman Mirna.

“Di mana natrium sianida disimpan, apa kantong celana, kantong plastik, semua tidak diuraikan tapi sekonyong-konyong bahwa Jessica masukkan natrium sianida,” kata Otto.

Otto juga menyesalkan dengan dakwaan hukuman mati yang dilakukan oleh jaksa penuntut umum. Terlebih, penjelasan jaksa tidak jelas.

“Penuntut umum tidak menguraikan, di mana didapatkan natrium sianida, disimpan dalam kertas, botol atau di mana pun tidak dijelaskan,” kata dia.

“Jika memang pembunuhan berencana, maka fakta harus diuraikan secara jelas, cermat dan tetap, sehingga dakwaan penuntut umum menjadi tidak jelas, tidak cermat dan ngawur,” imbuhnya.

Otto menilai, tidak ada juga yang melihat Jessica memasukkan sesuatu ke dalam es kopi vietnam yang diminum oleh Mirna. Kalaupun ada yang melihat, kata dia, bisa saja itu gula, bukan racun sianida.

“Tidak ada yang melihat karena memang fakta itu tidak ada, Jessica tidak memasukkan apapun ke dalam gelas korban,” terang dia.

“Kalau tidak diuraikan dengan cermat maka dakwaan itu tidak cermat kabur dan tidak lengkap,” jelas dia lagi.

Berbagai hal yang dinilainya janggal dan tak jelas tersebut, Otto minta kasus ini ditutup atau batal demi hukum. Dia juga ingin pengadilan memerintahkan agar nama baik Jessica dipulihkan.

“Majelis memerintahkan penuntut umum melepaskan terdakwa dan memulihkan hak terdakwa,” terang dia.

Ayah dari Wayan Mirna Salihin, Edi Dharmawan Salihin mengatakan, dirinya memaklumi perihal kuasa hukum Jessica yang merasa keberatan atas dakwaan jaksa penuntut umum.

Dirinya menyebut, tim kuasa hukum Jessica sangat berhak melakukan hal tersebut, sesuai eksepsi yang juga telah mereka bacakan dalam sidang perdana tersebut.

“Ya namanya juga kuasa hukum. Enggak ada yang janggal lah. Kuasa hukumnya Jessica itu berhak sekali melakukan itu,” ujar Edi usai mengikuti jalannya sidang di PN Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2016).

Ketika ditanya mengenai kuasa hukum Jessica yang sampai berjumlah 15 orang, Edi mengaku jika hal tersebut tak akan mempengaruhi pembuktian yang akan dilakukan oleh pihaknya.

Dirinya juga mengaku sangat yakin bahwa dalam sidang-sidang selanjutnya, pembuktian bahwa memang Jessica lah yang membunuh Mirna akan terungkap dengan jelas, melalui bukti-bukti yang akan diperlihatkan oleh dirinya sendiri dan pihak penuntut umum di persidangan.

“Nanti kan kita yang membuktikan. Buktinya ada. Nanti om (saya) sendiri yang akan buktikan. Biarin aja kuasa hukumnya mau 50 (orang) juga, kan nanti pembuktiannya yang penting. Enggak apa-apa, haknya dia itu. Ini negara hukum, insyaallah nanti semuanya akan terungkap,” ujar Edi.

“Ditambah hukumnya, pidananya, itu kan keliatan nanti. Nanti akan dikasih lihat bahwa Jesicca itu ngeracun. Sudah itu saja selesai,” pungkasnya.

Majelis Hakim PN Jakarta Pusat, usai melangsungkan sidang perdana Jessica Kumala Wongso, tersangka kasus pembunuh Wayan Mirna Salihin, dengan agenda pembacaan dakwaan dan langsung mendengarkan nota pembelaan (eksepsi) dari Jessica, Rabu (15/6/2016). Ketua Majelis Hakim, Kisworo mengatakan, sidang lanjutan digelar pada Selasa (21/6/2016) depan, dengan agenda tanggapan Jaksa atas eksepsi terdakwa.

“Selasa 21 Juni 2016 jam 10 pagi,” kata Kisworo dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sidang perdana itu dipimpin oleh Kisworo sebagai ketua dengan anggota Partahi dan Binsar Panjaitan. Sementara dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat, mendakwa Jessica maksimal hukuman mati karena diduga kuat yang menaruh racun sianida ke minuman Mirna.

Jessica dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman pidana hukuman mati. Jessica dituding melakukan pembunuhan berencana terhadap Mirna dengan cara menuangkan racun sianida ke dalam kopi yang diminum Mirna di Kafe Olivier di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (6/1/2016) lalu.lia/ian/an/hes

Up Next

Related Posts

Discussion about this post