PTPN XI Terbitkan Surat Utang Rp 300 Miliar untuk Modal Kerja

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Memasuki Juli 2016, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menerbitkan surat utang jangka menengah atau Medium Term Note (MTN). Total MTN sebesar Rp 300 miliar.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PTPN XI, Dolly Pulungan dalam acara “Peluncuran Lomba Penulisan Jurnalistik PTPN XI” di Best Western, Papilio Hotel, Surabaya, Rabu (29/6/2016).

Pulungan menyebut, kebijakan tersebut dilakukan agar target penerbitan obligasi jangka panjang di tahun 2018 bisa terwujud.

“Ini adalah step awal sebelum kita melangkah untuk mencari pendanaan melalui penerbitan obligasi tahun 2018 sebesar Rp 1 triliun. Pencarian dana melalui MTN ini untuk penguatan modal kerja, ekspansi bisnis, maupun perbaikan kualitas tebu,” sebutnya.

Dalam acara yang dihadiri jajaran direksi PTPN XI, serta mitra petani PTPN XI di antaranya ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pusat, HM Arum Sabil, Pulungan mengatakan pencairan dana melalui MTN nantinya dapat meningkatkan produksi gula hingga tahun 2018.

Pulungan menambahkan, untuk penerbitan obligasi jangka panjang sebesar Rp 1 triliun di tahun 2018, pihaknya sudah mempersiapkan dengan matang. Bahkan saat ini hanya tinggal menunggu rekomendasi dari Menteri BUMN, Rini Soemarno. “Kami tinggal menunggu persetujuan dari Ibu Menteri,” katanya.

Pulungan mengaku, menerbitan obligasi tersebut memang akan menjadi andalan PTPN XI dalam mencari pendanaan karena  lebih menguntungkan. Selain suku bunga lebih rendah, jangka waktu jatuh tempo juga lebih panjang, sehingga biayanya juga relatif lebih murah.

Diakui Pulungan, saat ini rating PTPN XI masih triple B. Pihaknya berharap untuk dua tahun ke depan sudah bisa single A. Apalagi kondisi keuangan PTPN XI cukup positif dengan net profit di tahun 2015 mencapai Rp186 miliar dan tahun ini ditargetkan mencapai Rp 200 miliar. “Semakin bagus keuangan kita, juga semakin bagus rating kita di pemeringakatan nasional,” akunya.

Senada, Arum Sabil mengatakan petani tebu akan mendukung kebijakan yang diterapkan PTPN XI, termasuk soal peningkatan produksi gula nasional. Meski harga gula disebut-sebut mengalami kenaikan, namun Arum menyebut hal tersebut masih di batas kewajaran.

“(harga) masih wajar. Itu sudah sesuai rumusan harga gula yang telah ditetapkan sejak era Pak Harto. Meningkatnya harga gula dikarena daya beli masyarakat. Sehingga ini dijadikan alat bagi kelompok-kelompok tertentu untuk melegitimasi pembenaran akan impor gula. Saya kira masih wajar harga gula saat ini,” terangnya.

Bahkan Arum mengatakan, para petani tidak terpengaruh dengan kondisi harga gula saat ini. Petani, lanjutnya, melihat harga gula yang terbentuk saat ini sudah membaik. Itu dibuktikan dengan minat petani yang menanam tebu menjadi lebih besar.

“Jika harga gula tinggi di tengah kondisi iklim basah, buktinya petani tetap bersemangat untuk menanam. Artinya, harga gula masih dalam batas wajar. Tidak hanya di lahan pribadi, petani kini juga berani mengembangkannya sistem sewa lahan. Kalau dulu hanya PG yang berani sewa lahan, sekarang petani juga berani menyewa. Terlebih PTPN XI telah mempersiapkan sarana maupun prasarana untuk tanam tebu,” jelas Arum.

Seperti diketahui produksi gula nasional di tahun 2018 ditargetkan mencapai sebesar 3,2 juta ton per tahun. Sementara realisasinya, produksi gula seluruh PG di Indonesia, baik yang berada di naungan PTPN XI, PTPN X, PTPN VII dan RNI hanya sekitar 1,2 juta hingga 1,4 juta ton per tahun akibat anomali cuaca. Sisanya sebesar 1,8 juta ton akan dikejar dengan cara perbaikan.

Up Next

Related Posts

Discussion about this post