Beranda featured Susahnya Memanggul Jenazah Santoso yang Masih Utuh Keluar dari Hutan Poso

Susahnya Memanggul Jenazah Santoso yang Masih Utuh Keluar dari Hutan Poso

12
Foto jenazah terduga teroris Santoso saat dievakuasi.
Foto jenazah terduga teroris Santoso saat dievakuasi.

Saat tewas, jenazah Santoso terlihat masih utuh. Jenazahnya kemudian dipanggul delapan orang dengan hati-hati di tengah hutan.

Pelarian gembong teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah, berakhir pada Senin petang, (17/7/2016). Timah panas yang ditembakkan tim Satgas Tinombala 2016 menembus tubuh Santoso. Ia tewas bersama seorang anak buahnya, diduga bernama Muchtar alias Kahar di Pegunungan Desa Tambarana, Kecamatan Poso, Pesisir Utara.

Drama penyergapan Santoso itu bermula ketika 63 tim gabungan TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Tinombala 2016 menggelar patroli ke tiga wilayah yang diduga sebagai lokasi persembunyian Santoso dan kelompoknya pada Senin kemarin. Sementara ada satu tim di belakang, yang bertugas sebagai tim penutup.

Tim Alfa 29 yang ditugaskan tim penutup ini menyisir sepanjang jalur-jalur yang diduga akan jadi tempat pelarian kelompok-kelompok Santoso dari kejaran Satgas Tinombala. Dua tim yang sebelumnya melakukan operasi perburuan memaksa Santoso dan kelompoknya terpencar, mencari tempat baru yang lebih aman.

Saat berupaya mencari tempat aman dari kejaran aparat, Santoso dan kelompoknya justru terdeteksi oleh Tim Alfa 29, pada Senin petang, sekira pukul 17.00 WIT.

“Berdasarkan penglihatan (tim Alfa 29), mereka bersenjata. Mereka lagi santai mau mandi dan kegiatan MCK. Kita mengerahkan 63 tim, sasaran di tiga daerah. Ada tim berperan sebagai pemburu dan tim penutup atau Alfa 29,” kata Ketua Satgas Tinombala yang juga Wakapolda Sulawesi Tengah, Komisaris Besar Leo Bona Lubis, Selasa, (19/7/2016).

Tim Alfa 29 yang terdiri dari sembilan orang prajurit elit TNI dari Batalion 515/Raider Kostrad langsung menyergap kelompok tersebut. Dari situ baku tembak dimulai. Tim Alfa 29 yang dipimpin Serda Firman Wahyudi terlibat baku tembak dengan kelompok Santoso yang kala itu berjumlah lima orang. Dua dari mereka membawa senjata dan salah satunya adalah DPO paling dicari, Santoso.

Selang 30 menit aksi baku tembak. Dua orang dari kelompok tersebut tewas. Salah satu yang tewas adalah Santoso, gembong teroris paling dicari saat ini. Sementara tiga orang lainnya melarikan diri.Terdiri dari satu pria yang membawa senjata dan dua wanita berhasil meloloskan diri.

Dari penyergapan ini, Tim Alfa 29 mengamankan senjata laras panjang jenis M-16.

Keesokan harinya, Selasa, (19/7/2016), aparat langsung mengevakuasi jenazah dua terduga teroris ke Rumah Sakit Bhayangkara, Polda Sulteng untuk diindentifikasi.

Berdasarkan identifikasi luar meliputi ciri-ciri tentang daftar pencarian orang (DPO) dan ciri yang dikenali orang terdekat atau kerabat kedua jenazah, terkonfirmasi bahwa salah satu teroris yang tewas adalah Santoso.

“Disimpulkan bahwa dua jenazah yang ada saat kontak tembak kemarin adalah gembong teroris Santoso, dan satu lagi DPO teroris Muchtar,” ujar Kombes Leo.

Selain itu, dari pembenaran kerabat juga dapat dipastikan jasad itu adalah Santoso. Sementara satu jasad lainnya adalah Muchtar, anggota dari kelompok Santoso.

“Untuk sementara dari identifikasi luar dapat disimpulkan dua jenazah adalah Santoso dan DPO atas nama Muchtar,” katanya.

Sementara untuk lebih memastikan siapa dua jenazah, Polda Sulteng akan melakukan tes DNA yang akan dikuatkan dengan data pembanding dari keluarga yang bersangkutan.

“Kita harus melakukan identifikasi lain, dengan tes DNA. Mencoba mendatangkan keluarga untuk data pembanding,” lanjutnya.

Meski begitu, untuk lebih dapat memastikan dua jenazah itu adalah Santoso dan Muchtar, Leo mengatakan Polri akan melakukan identifikasi DNA keduanya, dengan mendatangkan data pembanding dari pihak keluarga. “Dengan data pembanding itu mudah-mudahan bisa dilakukan untuk memastikan bahwa itu Santoso dan Muchtar,” kata dia.

***

Tim dokter Kepolisian telah melakukan proses identifikasi terhadap jenazah Santoso dan Muchtar. “Ada enam sebenarnya tapi baru lima (diketahui) di antaranya, pengenalan wajah dari kelompok yang mereka tangkap kemudian ciri ciri tahi lalat di kanan tengah tengah yang (berukuran) 0,7 sentimeter,” kata Juru Bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa, (19/7/2016).