Hadirilah, Sederet Acara Peringati 40 Hari Tedja Suminar

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Hadirilah, ‘Spirit of Tedja Suminar’ di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Balai Pemuda Surabaya, 6-7 Agustus 2016.‎

Hingga akhir hayatnya di usia 80 tahun, Tedja Suminar tak kehilangan spirit untuk berkarya. Karena itu, untuk memperingati 40 hari setelah kepergiannya sejak Jumat, 24 Juni 2016 di RS Vincentius A Paulo, sejumlah sahabat Tedja dari berbagai kalangan ingin tetap menyalakan spirit Tedja dalam sebuah acara seni. Momen 40 hari dipilih karena dalam tradisi di Surabaya (Indonesia) masih lekat dilakukan peringatan setelah seseorang meninggal di hari ke-40 sebagaimana hari ke-7, ke-100, setahun, dua tahun sampai ke-1000.

“Inilah selamatan ala kami sebagai keluarga untuk mengingat beliau dalam tradisi di lingkungan kami. Karena Papi juga seorang yang menjunjung tinggi tradisi, seni dan budaya dan yang berbau kreatif. Kendurinya kami ganti atau diisi dengan menyesuaikan spirit Papi yang selalu mendorong semua orang tetap berkarya yaitu pentas karya semua orang yang peduli dan mencintai tradisi, seni dan budaya,” terang Lini Natalini, putri kedua Tedja, yang menggagas acara bersama kakaknya, Swandayani.

Menurut Lini acara ini ada kaitannya dengan ide ayahnya  yang semasa hidup pernah ingin memamerkan karyanya secara tunggal di Surabaya Gallery. Acara itu bahkan sudah disetujui Komisi Seni Rupa DKS yang juga perupa Asri Nugroho. Asri saat melayat lalu mengingatkan Lini untuk tetap menjalankan niatan suami perupa alm Muntiana itu meski tak lagi harus ayanya sendiri yang berpameran. “Maka ya jadilah ide ini dicetuskan spontan dan digagas bersama-sama agar spirit Papi tetap hidup. Kalau saya ungkapkan; hanya karena manusia punya batas usia, spirit itulah yangtetap hidup bahkan hingga kini,” katanya.‎

Dia kemudian menghubungi sejumlah seniman, di antaranya murid-murid Tedja- untuk memamerkan karyanya. Pa‎meran yang akan digelar hingga 10 Agustus 2016, terkumpullah 59 karya. Termasuk karya on the spot dengan ‎robjek Tedja seperti foto dan sketsa di mana Tedja ‘hadir’ dalam obyek tersebut.

‎”S‎aya banyak melihat karya para fotografer, sketser, pelukis tentang Papi kok bagus-bagus,” terangnya.

Karya-karya yang dihasilkan dari berbagai profesi itu beragam. Ada yang berupa foto, sketsa, lukisan cat air, drawing, lukisan pointilisme, cetak print, lukisan akrilik sampai tulisan tentang diri Tedja.

Untuk foto di antaranya ada karya Leo Arief Budiman, Dino Kiliaan, Hari Yong Condro, Rose Kampoong, Rachmad Yuliantono, Maya Winata Lim, dll. Lalu dari jajaran perupa turut serta karya Te Kamajaya, Nyoman Bratayasa, Stefanus Nuradhi Wahyu Sigit C, Joko Iwan, Antonius Widjaya, BG Fabiola Natasha, Rachmad Priyandoko, Denny Samawa, Pakde Yoes, dan Christian Ticualo serta cucu Tedja sendiri yaitu Megan dan Hanamunti.

Dan, di antara karya-karya para partisipan itu, ada juga ditampilkan beberapas ketsa karya penata artistik film Suci Sang Primadona-film perdana Arifin C Noer 1977.

Termasuk foto-foto sejak ‎pembuat relief GOR Gelora 10 Nopember Surabaya itu belum mengenal dunia seni lukis hingga aktivitas melukis Tedja sebelum akhir hayatnya.

“‎Memang tidak semua fragmen hidupnya saya ta‎yangkan di sini karena keterbatasan tempat,” katanya.

Dari karya-karya yang dipamerkan, Lini dan Swan ingin agar publik semakin paham jika ayahnya tetap melihat seni lukis sebagai kecintaan sepanjang hayat. ‎Nuansa itu diyakini keduanya juga dirasakan ayahnya saat nanti melihat karya-karya dalam pameran.

Selain pameran karya, pada malam harinya Minggu 7 Agustus, Spirit of Tedja juga diramaikan dengan persembahan dari seniman seperti membaca puisi, tari dan musik. Antusiasme bergabung dalam acara ini ternyata juga sangat tinggi sehingga Spirit of Tedja menampung segala kreativitas yang dipersembahkan oleh para seniman.‎

Ada Henry Najoan dan Yuleng Ben Tallar yang akan menyampaikan testimoni tentang sepak terjang kesenimanan Tedja.

Dilanjutkan membaca puisi oleh Elysius, Vika Wisnu dan Silvia Zulaika dan lainnya. Musik dipersembahkan oleh Best Friend Project, Gema Swaratyagita dan harpanis Jessica Sudarta.

Juga ada pertunjukan wayang potehi dan penampilan musisi tunanetra dari Yayasan Mata Hati. Turut serta, penampilan novelis Wina Bojonegoro, GM HoS Ina Silas dan jurnalis Heti Palestina Yunani.

“Jadi acara ini tak lain kami tujukan untuk mengenang dan menghormati Tedja Suminar yang tetap semangat dan sangat berdedikasi dalam bidangnya, ‎seni lukis khususnya sketsa hingga akhir hayatnya,” tandas Swandayani, penari lulusan ISI Yogyakarta itu.tji‎

Up Next

Related Posts

Discussion about this post