Seniman Surabaya ‘Protes’ Penggusuran Kolam dan Prasasti Balai Pemuda

Gelar Performing Art Sebagai Simbol Sifat ‘Kebinatangan’ Pemkot

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Sebuah becgho, menggusur kolam dan prasasti di pelataran Balai Pemuda Surabaya. Kolam dan prasasti sebagai tetenger Balai Pemuda Surabaya ini dibongkar untuk kepentingan perluasan lahan parkir pemerintah Kota Surabaya, Kamis (11/8/2016).

Saat becho sedikit demi sedikit menggempur prasasti yang diperkirakan dibangun saat pemugaran Balai Pemuda tahun 80-an itu, Ilham J Badai, seniman performing art yang biasa mangkal di Balai Pemuda, segera meresponnya. Intinya, Ilham bersama seniman Balai Pemuda, seperti Luhur Kayungga, Galuh Tulus Utama, menyayangkan kesewenang-wenangan itu.

Dalam performannya, Ilham menggunakan property meja, lilin, dan beberapa benda yang menggambarkan suasana pesta. Sementara Ilham sendiri, bertelanjang diri sebagai simbol sifat ‘kebinatangan’ kekuasaan.

Seperti diketahui, Balai Pemuda Surabaya, telah banyak dilakukan renovasi. Mulai dari floring, sistem peredam suara, panggung kecil, dan pagar lingkungan yang menggambarkan arsitektur khas gotic, dengan kubah-kubah kecil, sudah dibongkar.

Secara historis, Balai Pemuda yang dibangun tahun 1907 adalah simbol perlawanan arek-arek Surabaya. Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini dijadikan tempat berpesta. Gedung ini jadi tempat berkumpulnya orang-orang Balanda. Tempat ini sangat steril dari orang-orang pribumi. Karena itu tak heran bila ada pengumuman yang menyatakan; Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk.

Namun sepanjang bulan September-November 1945 direbut oleh PRI (Pemuda Republik Indonesia). Selama penguasaan PRI, Balai Pemuda dijadikan markas pergerakan dan perlawanan arek-arek Surabaya kepada Inggris/Sekutu.

Sejak jaman kemerdekaan Balai Pemuda difungsikan untuk kegiatan kepemudaan dan kesenian. Tahun 70-80, pernah digunakan sebagai kampus Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) yang melahirkan tokoh perupa yang ternama. Begitu juga ada Bengkel Muda Surabaya, juga melahirkan seniman musik, teater, dan sastra yang legendaris.

Penggusuran itu memantik reaksi dari sekian seniman Surabaya. Seperti dikutip dari timeline Facebook, Syarif WB, menuliskan bahwa halaman Balai Pemuda akan difungsikan untuk lahan parkir bawah tanah. “Saya takut, saat pengedukan getarannya mempengaruhi gedung-gedung di sebelahnya,” tulis Syarif WB.

Sebuah becgho menggusur kolam dan prasasti di pelataran Balai Pemuda Surabaya, Kamis (11/8/2016).

Sebuah becgho menggusur kolam dan prasasti di pelataran Balai Pemuda Surabaya, Kamis (11/8/2016).

Sementara itu Cacak Mamad, seniman musik menulis komentarnya dengan satir. Ia mengatakan, Balai Pemuda akan berubah fungsi menjadi Balai Perpakiran.

Begitu juga penyair gaek, Aming Aminoedhin menulis dengan menyitir salah satu baris puisinya ‘Surabaya ajari aku tentang benar, jangan ajari aku gampang lupa dan gampang berdusta.’

Yang lebih pedas dituliskan oleh Karsono, mantan seniman teater ini menuliskan, ‘Mungkin pemkot pakai teori dekonstruksi “menghancurkan sejarah lama, untuk menciptakan sejarah baru” karena kesembronoan pemkot nantinya juga bakal jadi sejarah, bahwa surabaya pernah punya walikota “ngawur”, kalau benar yang dibongkar itu bagian dari cagar budaya, ucut.., eh kliru.., usut..’ rig

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post