Ingin Kembalikan Kenangan, Kepuh Lestarikan Hijaunya Hutan Wonosalam

Berharap KLHK Beri Hak Pengelolaan untuk “Diwariskankan” Kepada Anak Cucu Kelak.

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Kalau boleh mengenang, hutan yang berlokasi di kawasan Dusun Mendiro Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang Jawa Timur. Dulu dikenal dengan hutan rimba; banyak ditumbuhi beraneka jenis tanaman. Hutan seluas lebih dari 50 hektar itu, kenang Ketua Kelompok Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air (Kepuh) Wagisan, banyak ditumbuhi mahoni (swietenia macrophylla king), Kopi (coffea arabica L), dan randu (ceiba petandra),

Selain itu, masih kenang Wagisan, juga banyak ditumbuhi kemiri (aleurites moluccana), durian (durio zibethinus), gondang (ficus variegate), dan sobsi (maesopsis eminii). Ada juga andong (rhadamnia cinerea), salam (eugenia aperculata), jati (tectona grandis), dan mindi (melia azedarach). “Pohon-pohon itu semua hilang karena penebangan liar dan kawasan ini menjadi gundul, “ kata Wagisan ketika ditemui di rumahnya, Minggu, (14/8/2016).

Peristiwa penebangan liar terjadi antara tahun 1998-1999 dan Wagisan ingat sekali dengan peristiwa tragis itu. Tak sedikit warga yang terlibat, ada juga aparat, dan bahkan pihak Perhutani.

“Sekarang kita sudah bersyukur. Hutan di tempat ini sudah mulai menghijau  kembali. Seiring dengan peranan para pegiat lingkungan, “ ujar Wagisan.

Sebagaimana manfaat tanaman tersebut, Wagisan cukup mengenang di masa kecil dulu. Dia sering ke hutan memetik buah-buahan bergiliran dengan tetangga. Kadang durian maupun jengkol. Buah yang sudah masak di pohon, Wagisan langsung menikmatinya.

Sekarang, dia tidak bisa lagi merasakan enaknya buah masak dari atas pohon.  Dan dia mengaku, tidak merasakan ranumnya buah dari atas pohon, terhitung mulai tahun 1999 hingga sekarang.  “Bagaimana ya, dulu kita berebut sama codot, “ cerita Wagisan sambil seolah membayangkan masa itu. Codot, sejenis kelelawar besar atau kalong. Codot adalah binatang penyuka buah, sejenis juga dengan paniki atau nyap; Pteropodidae, subordo Megachiroptera.

Bukan sekadar itu saja yang menjadi kenangan Wagisan, tanaman seperti aren dan durian banyak menambah nilai ekonomi masyarakat. “Kalau pas musim aren dan durian, secara ekonomi warga di sini bejo (beruntung). Satu bulan saja bisa mengantongi uang Rp 3 juta hingga Rp 4 juta lebih. Secara ekonomis ketika itu kan sudah bagus, “ kata Wagisan.

“Sekarang cari duit segitu saja susah. Ya cengkih itu sekarang, satu-satunya yang bisa diharapkan. Itu pun harga dari pembeli tak menentu, “ tambahnya.

Belum lagi musim madu. Tak sedikit pohon-pohon besar dihinggapi tawon madu. Cerita Wagisan, madu di Hutan Dusun Mendiro ini, ternyata bukan saja dari tawon atau lebah. Tetapi banyak serangga yang juga menghasilkan madu. Cairan yang menyerupai sirup dan berasa manis yang dihasilkan dari nektar bunga ini, ketika itu menjadi penghasilan tersendiri warga Dusun Mendiro. Tak sedikit, banyak yang dikenal dengan madu Wonosalam diburu warga kota.

“Kita dulu nggak pernah kesulitan cari madu. Kebutuhan madu boleh dibilang melimpah. La wong bagaimana ada orang sakit butuh madu. Tingga ke situ saja sudah dapat madu, “ tutur Wagisan sambil menunjuk ke arah hutan.

Para nggota Kelompk Kepuh dari kiri, Sukarianto, Tumariono, Jok Khoirul (belakang). Karsunin, dan Wagiman (Supriyadi)

Para anggota Kelompok Kepuh dari kiri, Sukarianto, Tumariono, Jok Khoirul (belakang). Karsunin, dan Wagiman (Supriyadi)

 

Kelompok Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air (Kepuh)

Sejak 10 November 2010 kelompok Kepuh ini berdiri dan sudah berbadan hukum. Berlatar belakang kepedulian terhadap hutan di Dusun Mendiro. Wagisan yang jugan mantan Kepala Dusun Mendiro, bersama warga lain, sepakat menghijaukan hutan yang berada di kawasannya.

Kalau boleh disepakati, hutan di Dusun Mendiro berada 2.277 M dpl dari Gunung Penanggungan. Secara hukum, hutan ini berada dalam naungan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Carang Wulung, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.

Sedangkan Dusun Mendiro sendiri, masuk dalam Pemerintahan Desa Panglungan. Membawahi lima dusun; Dusun Panglungan, Dusun Mendiro, Dusun Arjosari, Dusun Dampak, dan Sranten.

Berkiprah dalam kelompok Kepuh, memang diperlukan ketelatenan dan kesungguhan. Seperti yang diceritakan Wakil Ketua Kepuh Tumariono. Dia berkiprah di Kepuh sejak kelompok ini berdiri. Kelompok bersifat swadaya, secara bersamaan awalnya memang melibatkan warga Mendiro.

Tak sedikit mereka harus merogoh kocek sendiri untuk mengawali perannya, mereboisasi hutan. Jika tidak dibarengi niat kesungguhan akan terkikis dengan sendirinya  menyatakan tidak aktif.  “Nak nggak telaten ya bisa dengan sendiri tidak aktif, “ ujar Tumariono anggota kalau boleh disebut paling aktif.

“Dulu Kepuh ini banyak anggotanya. Karena ya itu tadi tidak telaten dan mungkin saja tanggungan keluarga berat, mereka tidak bisa fokus bersama kita, “ tutur Tumariono sambil menyebut anggota Kepuh; Ketua Wagisan dia sendiri wakil ketua, Sekretaris Sunaryo, dan Bendahara Sukarianto. Sedangkan Bidang Pembibitan dan Konservasi Joko Khoirul dan Karsuni. Dan untuk Bidang Hubungan Masyarakat Ngatukri dan Wagiman.

Upaya kelompok ini sekarang boleh dibilang sudah menui hasil. Beberapa kali sudah melakukan reboisasi hutan. Managing Community Development Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton), Amirudin Muttaqin yang selama ini mendampingi warga Mendiro dan pencetus Kepuh membenarkan, bahwa kelompok Kepuh sedikit sudah berperan.

“Saya katakan sedikit karena kita masih punya harapan lebih besar. Supaya hutan ini tampak rimbun kembali. Kerja kita ini belum ada 10 persen. Masih banyak lahan-lahan hutan yang kosong perlu dihijaukan kembali, “ kata Amirudin Muttaqin di Kantor Ecoton Wringinanom, Gresik, Rabu (17/8/2016).

Amir, begitu biasa disapa, berharap lembaga atau perusahaan lain, berpartisipasi menanam pohon di Hutan Wonosalam ini. “Baru tiga pekan kemarin dari Wismilak Foundation menanam 459 bibit, “ ucap Amir.

Pemandangan dari good view terlihat sungai dan gunung kukusan

Pemandangan dari good view terlihat sungai dan gunung kukusan

Kegiatan ini, lanjut Amir, merupakan upaya bersama masyarakat yang berada di hulu, bertujuan membantu kapasitas masyarakat melestarikan lingkungan terutama  hutan. Menurutnya, tempat ini merupakan tempat mata air yang harus dilestarikan dan dijaga dengan cara berwisata.

“Saya rasa dengan konsep wisata akan lebih menarik. Kita menggabungakn pendidikan wisata dengan pelestarian hutan. Saya rasa match, antara travelling dan konservasi, “ ungkap Amir.

Meski Ecoton berperan besar dalam pelestarian hutan ini, Amir tidak menafikan peran Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur yang juga sudah berkontribusi banyak. Misalnya, kata Amir, berupa bantuan pengelupas kemiri, berbagai pelatihan, dan bantuan informasi kepada khalayak. Bahkan dalam waktu dekat, kelompok Kepuh akan mengajukan permohonan hak pengelolaan hutan lindung kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Mengharap Dukungan Semua Stakeholder

Harapan kelompok Kepuh untuk menghijaukan kembali hutan memang sebuah cita-cita besar. Namun harus didukung oleh semua stakeholder yang ada. Maka tak segan-segan, anggota kelompok Kepuh terus berupaya konservasi hutan ini terus berjalan. Salah satunya mewujudkan mimpi dan mewariskan hutan ini kepada anak cucu kelak.

Oleh sabab itu, satu hal terpenting kelompok ini  adalah melakukan monitoring tumbuhan yang sudah ditanam. Banyak diketahui, kawasan Wonosalam merupakan Daerah Sumber Air (DAS) Sungai Brantas. Amir menyampaikan seminggu sekali datang ke Wonosalam.

“Rutin saya datang ke Wono salam mengajak anggota Kepuh. Satu per satu menilai tanaman. Anggota Kepuh sendiri, tiap hari jelas ke hutan, “ ungkap Amir.

Selama ini yang terjadi, menurut Amir, pemerintah masih lemah dalam pengelolaan hutan. Apalagi pihak Perhutani sendiri kadang kala kurang serius dan selalu mencurigai masyarakat. Padahal masyarakat yang selalu pro aktif menghijaukan hutan.

Kelompok Kepuh yang selalu aktif mengintarisasi bibit tanaman untuk segera ditanam di Hutan Wonosalam (Supriyadi)

Kelompok Kepuh yang selalu aktif menginventarisasi bibit tanaman untuk segera ditanam di Hutan Wonosalam (Supriyadi)

 

“Itu alasan kami untuk peduli terhadap hutan ini. Kita bisa berbagi atau kerja take and give. Ke depan masih ada anak cucu yang butuh hutan, “ ungkap Amir.

Sebagaimana pendapat Amir ini mengacu Undang-undang  no: 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal 4 ayat 3 menyebutkan “ Penguasaan hutan oleh Negera tetap memperhatikan masyarkat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, “.

“Statusnya jelas hutan lindung. Karena pengawasan lemah, jadi masyarakat bisa mempunyai hak untuk melakukan pengelolaan, “ pungkas Amir. ***

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post