PT PRIA ‘Penjahat Lingkungan’ Buang Limbah Medis Hingga Potongan Tangan Manusia

KLHK Mau Minta Bukti yang Bagaimana Lagi, Sudah Banyak Bukti Penimbunan B3 Diungkap Warga Desa Lakardowo

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Untuk membuktikan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di area pabrik pengelola limbah B3, PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) di desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, maka perlu dilakukan pengeboran. Benarkah cara ini efektif?

Hal itu disampaikan Komisi VII Bidang Lingkungan Hidup DPR RI. Menurut  anggota Komisi VII DPR RI, Mat Nasir, Senin (28/11/2016) saat mendatangi lokasi Desa Lakardowo, pihaknya meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menindaklanjuti persoalan limbah B3 PT PRIA.

“Kami mendorong agar dibor dan diambil sampel tanahnya untuk membuktikan penimbunan limbah B3,” katanya.

Tim Komisi VII DPR yang datang bersama Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup untuk berdialog dengan warga Desa Lakardowo dan manajemen PT PRIA memerlukan tindakan pembuktian, atas dugaan yang dilakukan PT PRIA tersebut.

“Hal itu sangat penting. Sebab, rembesan limbah yang ditimbun sejak 2010 itu diduga kuat telah mencemari air tanah di sumur warga dalam satu tahun terakhir. Tinggal nanti saksi menunjukkan tempat yang pasti (untuk dibor) agar pas,” ujar Nasir. Permintaan Nasir ini berkaitan dengan warga yang siap menjadi saksi, karena pernah menjadi karyawan di PT PRIA.

Sayangnya, warga menganggap permintaan Komisi VII DPR RI hanyalah jebakan betmen. Pasalnya PT PRIA selaku ‘penjahat lingkungan’ sudah jelas-jelas melakukan penimbunan limbah B3 secara ilegal. Sudah banyak riset dan penelitian yang membuktikan hal itu. Sehingga tidak perlu lagi bukti.

Di depan anggota Komisi VI, warga memberikan kesaksian pernah bekerja dan mengamankan alat berat, dan paham dengan sejelas-jelasnya semua kegiatan penimbunan yang dilakukan PT PRIA.

“Saya pernah memungut barang-barang bekas di pabrik (PT PRIA). Saya sempat lihat seperti sarung tangan dan saya pegang kok kaku, ternyata potongan tangan manusia,” kata Sama’ati (65), warga Dusun Kedungpalang.

Jelas ini membuat anggota DPR RI dan pejabat KLHK kaget. Pengakuan Sama’ati bukan main-main. Potongan tangan manusia itu, kata Sama’ati, diduga limbah medis yang ditampung oleh PT PRIA dari berbagai rumah sakit di Jawa Timur.

Sama’ati mengaku, dirinya sempat membawa pulang limbah medis tersebut. Di antaranya selimut dan baju, semuanya limbah medis bekas rumah sakit. “Iya kami bawa pulang,” katanya.

PT PRIA memang sengaja menyembunyikan kebusukannya. Tidak sedikit limbah B3 yang dibuang secara sembrono. Buktinya, Sama’ati selain menemukan potongan tangan, dia juga pernah memulung tong yang mengandung bahan kimia mudah terbakar.

“Saya bawa ke rumah dan saya buka isinya ternyata di dalamnya terbakar. Saya langsung kaget,” cerita Sama’ati.

Warga biasanya memungut benda bekas seperti timah, kawat las, plat besi, tong, karung plastik, dan sebagainya. Benda-benda bekas itu dipungut dari timbunan limbah B3 sejak tahun 2010 sampai 2015.

Warga semula tak tahu jika benda-benda tersebut mengandung B3. Setelah tahu, kini warga tak berani lagi memungutnya.

Saking menderitanya warga Desa Lakardowo akibat kejahatan PT PRIA, mereka terpaksa harus memenuhi biaya hidup sehari-hari dengan cara mengencangkan ikat pinggang. Hal itu disebabkan karena warga harus menanggung beban lingkungan. Bisa dibayangkan, untuk kebutuhan air saja warga harus beli air galonan. Baik yang bermerk maupun isi ulang. Yang tidak kalah mengejutkan, beberapa bayi yang baru dilahirkan terpaksa harus dimandikan dengan air mineral.

Pemandangan pabrik PT PRIA, salah satu perusahaan pengolahan limbah B3 yang menjadi dalang pencemaran air di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di sini warga menemukan potongan tangan manusia yang berasal dari limbah medis dari rumah sakit.

Pemandangan pabrik PT PRIA, salah satu perusahaan pengolahan limbah B3 yang menjadi dalang pencemaran air di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di sini warga menemukan potongan tangan manusia yang berasal dari limbah medis dari rumah sakit.

Pantauan siagaindonesia.com, salah satu cucu dari keluarga Bu Siswati, anaknya Pak Sumali, dan anaknya Pak Pak Edi, warga Dusun Sambil Gembol, mereka jika dimandikan air sumur, kulitnya gatal-gatal.

Selama ini PT PRIA memang menjadi satu-satunya perusahaan penampung dan pengolah limbah B3 di Jawa Timur, termasuk limbah medis. Namun demikian, timbunan limbah B3 yang dilakukan PT PRIA telah banyak menyebabkan kerugian baik secara materiil maupun inmateriil.

PT PRIA, seperti diungkap Direktur Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Prigi Arisandi, limbahnya sudah mencapai 59 jenis yang berasal dari 1.518 perusahaan.

Karenanya, Prigi mendesak KLHK untuk membuktikan sendiri penimbunan limbah B3 di area pabrik PT PRIA. Sebab, selama ini pihak KLHK terkesan tidak serius menangani penjahat lingkungan yang telah merugikan masyarakat.

“Sejak dulu kami minta itu. Tapi Kementerian dan pihak terkait terkesan menghindar,” tuding Prigi.

Prigi berharap pihak KLHK tidak lagi mencari-cari alasan, sebab semua bukti sudah di depan mata. Kesaksian warga ditambah dengan data dan riset sudah menunjukkan bukti adanya penimbunan limbah B3 di area PT PRIA yang telah mencemari air tanah warga.

Direktur Utama PT PRIA, Tulus Widodo, dengan tidak berdosanya membantah adanya  penimbunan limbah B3 di dalam tanah yang kini sudah berdiri pabrik. “Tidak ada penimbunan limbah. Limbah B3 yang kami tampung kami olah jadi barang yang bermanfaat,” elak Tulus.

Tulus mengakui ada perataan tanah. Namun tanah itu diuruk menggunakan tanah dari Desa Sidorejo. Bahkan, menurut dia, warga juga diberi kesempatan mengawasi jika ada pelanggaran.

“Satu kali sepekan perwakilan warga kami beri kesempatan untuk melihat.” ujar Tulus.

Produk daur ulang limbah B3 andalan PT PRIA di antaranya batako dari limbah batubara, batu bata merah, dan kertas kualitas rendah (low grade paper).

Manajer Pengembangan Bisnis PT PRIA, Christine Dwi Arini juga membantah ada limbah medis yang dipungut warga.

“Kami punya mesin pembakaran atau incinerator dan limbah medis kami musnahkan,” katanya. Namun dia mengakui ada limbah yang dijual ke masyarakat seperti limbah batubara.

“Kami punya keterbatasan dan kekurangan dalam mengontrol barang yang seharusnya tidak keluar ke masyarakat,” ujar Christine.

Mendengar bantahan pihak PT PRIA, tentu warga tidak percaya. Mereka justru mengecam kebohongan demi kebohongan yang disampaikan itu sekedar menutupi kebusukan PT PRIA.

“Tahun 2011 perusahaan itu (PT PRIA) mendatangkan limbah plat besi dan kawat las. Tahun 2014 mendatangkan limbah medis, dan sampai tahun 2015 warga masih memungut. Konyol itu jika tidak ada penimbunan limbah B3. Itu kebohongan PT PRIA. Kalau limbah tidak ditimbun, lantas bagaimana air kami bisa tercemar. Banyak warga tidak bisa lagi menggunakan air sumur karena sudah tercemar,” kata Heru, salah seorang warga.

Up Next

Related Posts

Discussion about this post