Aku Menyebutnya: Hidup

Catatan Tambal Ban (1)

Comment

Apa yang membuat manusia menjadi manusia, temanku pernah menanyakannya. Apakah darimana asalnya?

Kukira manusia menjadi hebat karena pilihannya. Pilihan yang good or bad, bukan suatu kefatalan yang mesti disesali melainkan harus dipertahankan agar tercapai keselarasan. Sesal sendiri adalah siksa.

Sebaliknya kata-kata: Hidup terlalu panjang, adalah uraian seorang yang depresi, kalut, bingung, dan tak punya sangkan-parannya. Entah aku masuk kategori mana, harmonikah atau kebimbangankah?

Mengenal Tuhan bukan suatu kesalahan atau takut dibilang kafir, bid’ah, majenun (gila), murtad, dan sebagainya. Setidaknya dengan mengenal pekerjaanNya (af’al), maka kau dapat melihat wajah Tuhan.

Namun demikian, ilmu hanya dapat dituntut oleh siapapun yang berminat. Dalam pengertian ini, yang penting kita ini adalah “hanya setetes embun berbanding dengan lautan yang tak terbatas” apabila kita membandingkan diri dengan Allah.

Berat memang.

Bahaya tentu saja.

Salah-salah mengartikan akan serupa dengan Fir’aun. Namun sabda rasul mengatakan: perbanyaklah mengatakan La Ilaha Illallah, meskipun mereka berkata orang gila.

Berdiri di atas kapal dalam perjalananku keliling pulau Jawa dan Bali, aku mengagumi keindahan laut beserta isi-isi yang terkandung di dalamnya. Berkali-kali aku melihat matahari terbit dari timur dan tenggelam ke barat, menerawang menembus batas cakrawala, adalah pilihanku.

Jika saat ini kulihat banyak orang berlomba-lomba mencari ridho, itu hal yang wajar. Tujuan mereka sama, caranya saja yang berbeda.

Kau jadi pelukis, dan aku jadi wartawan. Kau dengan caramu sendiri, aku dengan caraku sendiri. Sama-sama menjalani kodrat.

Namun tidak sedikit pula yang menyerah ketika perjalanan spiritualnya sudah mencapai puncak. Mungkin aku salah satunya. Entahlah.

Oleh karenanya aku dan kau harus memiliki penentangan diri terhadap segala syahwat yang merupakan bentuk pemisahan (tajrid) bahkan pengesaan.

Perjalanan spiritual manusia tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan tambahan kesungguhan. Tidak akan tercapai pula kondisi tersebut kecuali dengan menguasai dunia dan isinya. Sebuah pandanganNya kepadamu sudah cukup berharga agar kau meninggalkan segala yang ada. Memasrahkan diri, yakni dengan menyepi di baitul ma’mur.

Jika kita melihat ke dalam pikiran para ‘arif, maka kita akan dapat menemukan cahaya Penciptanya memancar dari sirr mereka. Saat itulah kita akan berada dalam kondisi fana. Keluruhan manusia pada Al-Haq adalah leburnya seluruh semesta atau jagat manusia: tidak dihalangi bahkan semua lawannya lebur ke dalam dirinya dan semua yang menghalanginya hilang ketika dilewatinya.

Pada titik itulah manusia mencapai kebakaan atau kekekalan (abadi). Aku menyebutnya: Hidup.

* ) dikutip dari novel religi “tuhan di bawah kedua telapak kakiku” karya noviyanto aji

Up Next

Related Posts

Discussion about this post