Langgar Aturan Adat, Delapan Belas Bayi di Desa Ini Mati Tanpa Sebab

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Setiap tujuh bulan sekali bertepatan wuku Dukut pada malam Selasa Kliwon, warga pedukuhan Nglurah Lor dan Nglurah Kidul Tawangmangu, Karanganyar menggelar ritual adat tradisi dukutan di sebuah komplek situs Candi Menggung.

Puncak tradisi yang di gelar pada pagi hari dengan acara tawuran antara warga Desa Nglurah Lor dan Nglurah Kidul di maknai sebagai cara untuk membuang sengkala , sekaligus mempererat tali silaturhmi antar warga desa.

Menurut Ridin tokoh masyarakat Desa Nglurah, tradisi dukutan sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam. Tradisi ini sebagai cara penduduk desa mengungkapkan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

‘ Selain ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tradisi dukutan sebagai upaya masyarakat menghargai para leluhur mereka ‘ Imbuhnya

Di tambahkan Ridin, Situs Menggung adalah situs peninggalan era kejayaan Prabu Erlangga.

Di dalam komplek situs terdapat beberapa patung dewa dan patung lain yang di simbolkan sebagai dewa pemujaan. Selain arca Siwa atau yang kerap di sebut arca Erlangga oleh penduduk desa, terdapat juga arca Eyang Putih Butalacaya.

‘ Kedua arca itu sangat di hormati oleh penduduk desa dan di beri sesaji setiap kali tradisi dukutan di gelar.’ Terang Ridin

Tak jauh dari kedua arca suci Erlangga dan Butalacaya, terdapat arca Dewi Kilisuci atau Eyang Roso Putih atau Gusti Ratu Adil yang juga dianggap keramat. Arca Dewi Kilisuci berada di bawah pohon besar berumur lebih dari lima ratus tahun yang terdiri dari beberapa tanaman menyatu menjadi satu.

Bagi warga desa Nglurah, tradisi dukutan tetap harus mereka gelar setiap kali wuku dhukut datang. Warga tidak berani menghilangkan apalagi merubah tata cara tradisi adat dukutan, meski di fasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk mengembangkan desa wisata.

Warga beralasan dengan merubah tata cara adat tradisi dukutan mereka takut terkena siku. Karena sebuah kejadian mengerikan pernah terjadi saat penduduk desa mengemas tradisi dukutan dengan cara merubah cara tradisi dukutan yang sudah mereka jalani sejak ratusan tahun yang silam.

Bahan baku sesaji yang berasal dari jagung diganti dengan beras, larangan bagi penduduk desa makan makanan sesaji di dalam komplek candi, pantang tradisi di gelar di dalam komplek candi. Tetapi seluruh larangan itu di langgar.

Akibatnya ungkap Ridin, warga desa Nglurah harus kehilangan anak anak mereka yang masih bayi. Selama dua bulan delapan belas anak balita dua diantaranya dewasa mati tanpa sebab. Sore sakit pagi mati, pagi sakit sorenya mati, peristiwa mengerikan itu terjadi sekitar tahun delapan puluhan.

Oleh karena itu sejak kejadian tersebut warga tidak berani merubah tata cara tradisi dukutan yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.

‘ Sejak pagebluk terjadi di desa Nglurah, warga desa tidak berani merubah tatanan apalagi meniadakan tradisi dukutan ‘ Pungkas Ridin./ jk

Up Next

Related Posts

Discussion about this post