Siti Aisyah Terancam Hukuman Gantung

Pembunuhan Kim Jong-nam, Kakak Tiri Pemimpin Korea Utara yang Tewas Diracun

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Kim Jong-nam, 46 tahun, telah lama masuk daftar orang yang harus dihabisi. Saudara tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, itu acap kali bepergian dengan nama samaran, yang salah satunya Kim Chol.

Pada Selasa (14/2/2017), laki-laki yang pernah ketahuan memakai paspor palsu ketika akan memasuki Jepang pada 2001 itu tewas di Malaysia kala tengah berada di area pertokoan Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur.

Situs berita ABC melaporkan bahwa Jong-nam kemungkinan besar dibunuh dengan semprotan kimia. Keterangan itu berasal dari petugas medis yang berupaya menyelamatkan nyawa pria dalam sakratulmaut.

Sementara itu, ada pula informasi yang menyatakan bahwa Jong-nam mati karena racun yang disalurkan lewat jarum, seperti ditulis oleh Time.

Kim Jong-nam.

Kim Jong-nam.

Namun, apa pun metode eksekusinya, pelakunya diduga berjumlah dua orang. Semuanya perempuan, dan mereka dicurigai sebagai agen rahasia Korea Utara. Setelah selesai beroperasi, para pencabut nyawa itu hengkang dari lokasi menumpang taksi.

“Korban…merasa ada orang yang membekap atau menahan wajahnya dari arah belakang,” ujar Fadzil Ahmat, seorang petugas kepolisian. “Ia lantas merasa pusing, dan langsung meminta bantuan…(kepada petugas bandara)”.

Menurut Fadzil, polisi Malaysia telah mulai menyelidiki kasus pembunuhan itu.

Dilansir BBC, sumber dari pemerintahan Amerika Serikat meyakini bahwa Jong-nam diracuni oleh agen Korea Utara.

Dugaan itu diperkuat oleh keterangan dari direktur badan intelijen Korea Selatan (NIS), Lee Byung-ho. Menurutnya, pemerintahan Korea Utara telah lama berhasrat menewaskan Jong-nam. Namun, masalahnya, sang target dilindungi oleh Tiongkok.

Jong-nam dikenal kerap menghabiskan waktu di luar Korea Utara. Ia tak sungkan-sungkan mengecam kekuasaan dinasti keluarganya di hadapan khalayak luas.

Gambar rekaman kamera pengawas di Bandar Udara Kuala Lumpur International, Sepang, Malaysia, menunjukkan seorang perempuan berkaos putih yang diduga sebagai salah satu pembunuh Kim Jong-nam.

Gambar rekaman kamera pengawas di Bandar Udara Kuala Lumpur International, Sepang, Malaysia, menunjukkan seorang perempuan berkaos putih yang diduga sebagai salah satu pembunuh Kim Jong-nam.

Jika memang pembunuhan itu dilakukan oleh Korea Utara, maka kasus dimaksud bakal memperpanjang daftar ratusan pejabat senior yang mati di tangan pemerintahan Jong-un.

Kim Jong-un diyakini telah mengeksekusi mati 140 pejabat senior sejak duduk di kursi kepemimpinan Korea Utara menggantikan sang ayah, Kim Jong-il, pada 2011.

Namun, kematian Jong-nam menjadi yang paling mengejutkan sejak Chang Song-thaek, paman Jong-un, dieksekusi mati pada 2011.

Menurut media Inggris, The Guardian, alat eksekusi favorit Jong-un adalah penyembur api dan ******* mesin.

Meski begitu, trik yang diambil untuk menewaskan Jong-nam lebih mirip insiden serupa di Korea Selatan pada 2011. Saat itu, seorang agen Korea Utara menyerang seorang aktivis antipemerintah dengan jarum beracun yang disamarkan dengan pulpen.

Anak tertua Jong-il itu terlahir pada 1971 dari seorang perempuan yang di negerinya dikenal sebagai artis, Song Hye-rim. Dalam perjalanannya, Jong-nam diasuh oleh bibinya, Sung Hae-rang. Pada usia 27 tahun, Jong-nam mulai bekerja di Kementerian Keamanan Umum.

Meski dirasa cocok untuk mewarisi kekuasaan bapaknya, kasus paspor palsu Jong-nam di Bandar Udara Narita, Jepang, pada 2001 menghapuskan peluang.

Ketika ditangkap, ia sedang bersama seorang bocah yang dikenali sebagai putranya bermodalkan paspor Republik Dominika. Dalam pengakuannya di hadapan petugas imigrasi, Jong-nam berkata ia ingin mengunjungi Disneyland Tokyo.

Peristiwa tersebut, bergandengan dengan kasus pembelotan ibunya–yang meninggal di Rusia pada 2002–membuatnya tersingkir. Adiknya, Jong-un, lantas malah dapat angin dan ditahbiskan sebagai “Sang Penerus Agung”.

Time menulis bahwa pada wawancara dengan Asahi TV, Jepang, pada 2010, Jong-nam mengatakan pengangkatan Jong-un sebagai pemegang obor kepemimpinan selanjutnya adalah keputusan sang ayah.

Ketika itu, ia mengaku tidak berkeberatan untuk memberikan bantuan kepada sang adik meski “dari luar negeri”.

Negara tempat Jong-nam tewas, Malaysia, menjadi salah satu tempat yang punya relasi dekat dengan Korea Utara. Warga dari masing-masing negara tersebut dapat melakukan kunjungan tanpa harus mengajukan visa.

Sementara itu tak butuh waktu lama bagi Kepolisian Malaysia untuk menahan pelaku yang diduga meracun Jong-nam. Pelakunya adalah dua wanita. Yang mengejutkan, wanita yang ditangkap tersebut merupakan warga negara Indonesia.

Berawal dari rekaman kamera pengawas Bandara Udara Kuala Lumpur International, Sepang, Malaysia, pada Rabu (15/02/2017), seorang wanita tampak modis dengan rambut sebahu berponi, rok mini biru, celana legging merah muda, sepatu datar, dan tas kecil berselempang di bahunya.

Tampilannya ini seolah ia hanya gadis remaja yang sedang berada di pintu keluar bandara tersebut. Tapi Kepolisian Malaysia meyakini ia adalah salah satu dari dua perempuan yang terlibat dalam aksi pembunuhan terhadap Kim Jong-nam.

Pembunuhan Kim Jong-nam memang masih menjadi misteri. Berbagai spekulasi muncul soal motif pembunuhannya. Banyak pihak meyakini, ia dibunuh dengan cara diracun ketika berada di bandara atas perintah pemerintah Korea Utara. Tapi sampai sekarang tidak ada bukti yang mendukung spekulasi tersebut.

Yang menarik, dua perempuan yang terlibat dalam pembunuhan itu memiliki paspor bukan dari negara komunis tersebut. Mereka berpaspor Vietnam dan Indonesia. Tapi belum jelas perempuan berkaos “LOL” itu berpaspor yang mana. Keduanya telah ditangkap Kepolisian Malaysia untuk ditahan selama tujuh hari sambil menunggu proses persidangan.

Paspor Siti Aisyah.

Paspor Siti Aisyah.

Wanita yang memiliki paspor Indonesia bernama Siti Aishah, berasal dari Serang, Banten, dengan tanggal lahir 11 Februari 1992. Ia ditangkap pagi sekitar pukul 02.00 setempat. “Dia diidentifikasi berdasarkan rekaman CCTV (kamera pengawas) di bandara dan sedang sendirian saat ditangkap,” kata Kepala Kepolisian Malaysia, Inspektur Jenderal Tan Sri Khalid Abu Bakar.

Beberapa saat sebelum kematiannya, Kim Jong-nam berada di bandara untuk pergi ke Makau. Laki-laki berusia 45 tahun itu sedang berjalan di terminal keberangkatan ketika mendadak mendapat penyerangan. “Dia mengatakan kepada resepsionis seseorang memegang wajahnya dari belakang dan menyemprotkan cairan kepadanya,” kata Komandan Badan Reserse Selangor, Fadzil Ahmat.

Setelah itu, Kim Jong-nam mengalami pusing, meminta tolong, dan hampir pingsan. Di klinik bandara, korban sudah merasa tidak enak badan. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Putrajaya, tapi nyawanya tidak tertolong.

Polisi Malaysia dan pihak Korea Utara belum bisa memastikan lelaki yang meninggal dan bepergian dengan nama Kim Cholitu itu memang benar Kim Jong-nam. Namun, pihak Korea Selatan telah membenarkan hal itu.

“Para pembunuhnya adalah mata-mata Korea Utara yang punya kemampuan khusus sebagai pembunuh,” kata seorang sumber kepada media Jepang. Pemerintah Jepang mengakui mendapat informasi adanya pembunuhan tersebut dan terus mengumpulkan informasi bersama Korea Selatan.

“Ia teridentifikasi dari CCTV bandara dan ditahan seorang diri. Dia diidentifikasi sebagai Siti Aisyah, 25 tahun, dari Serang, Indonesia, berdasarkan paspornya,” kata Khalid, seperti dilansir Channel News Asia yang mengutip Bernama, Kamis, (16/2/2017).

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas keamanan Malaysia terkait adanya warga negara Indonesia yang ditangkap.

“KBRI telah melakukan verifikasi, dan berdasarkan data sementara yang ada di KBRI, perempuan tersebut berstatus WNI,” ujar Iqbal melalui keterangan persnya, Kamis (16/2/2017).

Iqbal mengatakan, selanjutnya KBRI meminta akses kekonsuleran kepada Pemerintah Malaysia. Dengan demikian, pihak kedutaan bisa mendampingi Siti dalam proses hukum tersebut. “Pendampingan dalam rangka memastikan hak-hak hukumnya terpenuhi,” kata Iqbal.

Saat ini, staf KBRI tengah dalam perjalanan menuju Selangor. Iqbal mengatakan, koordinasi kedutaan Indonesia dengan aparat keamanan Malaysia terus dilakukan terkait kasus itu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir dalam pesan singkat yang diterima di Jakarta, Kamis (16/2/2017) membenarkan KBRI di Kuala Lumpur telah meminta informasi dari otoritas keamanan Malaysia mengenai berita penangkapan seorang perempuan pemegang paspor Indonesia yang diduga terlibat dalam pembunuhan seorang laki-laki asal Korea Utara.

“Dari informasi Kepolisian Malaysia, KBRI melakukan verifikasi terhadap paspor Indonesia yang dipegang oleh perempuan tersebut,” ungkap Nasir.

Siti Aisyah adalah salah satu dari empat orang yang ditangkap sejauh ini oleh polisi Malaysia atas pembunuhan Jong-nam.

Siti ditangkap di sebuah hotel di Ampang pada hari Kamis (16/2/2017) setelah diidentifikasi oleh polisi Malaysia melalui rekaman CCTV bandara KLIA 2.

Kini Siti Aisyah berada dalam tahanan Polis Diraja Malaysia dan tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE, lembaga advokasi buruh migran Indonesia, mengatakan bahwa Siti Aisyah bisa terancam hukuman Pasal 302 Penal Code Malaysia.

Pasal 302 Penal Code Malaysia menyebutkan bahwa siapapun yang melakukan tindakan pembunuhan berencana akan menghadapi hukuman mati, berupa hukuman gantung.

Namun begitu, Wahyu juga mengatakan bahwa Siti bisa saja bebas dari ancaman hukuman pidana tersebut. Wahyu berharap pihak kepolisian Malaysia bisa mempertimbangkan aspek-aspek yang meringankan Siti Aisyah. Terlebih lagi, Siti diyakini hanya menjadi korban dan diperalat dengan iming-iming main film.

Selain Siti Aisyah, polisi Malaysia telah menahan tiga tersangka lainnya, yaitu seorang wanita asal Vietnam, seorang pria Malaysia yang merupakan pacar Siti, dan seorang pria Korea Utara. Polisi masih mencari empat tersangka Korea Utara lainnya.

Malaysia sendiri telah memberikan jaminan untuk hak-hak hukum yang diterima Siti Aisyah yang telah ditangkap di Malaysia pasca pembunuhan Kim Jong-nam.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim mengatakan, Malaysia berpegang teguh pada prinsip bahwa seseorang belum bisa dinyatakan bersalah sampai terbukti bersalah.

Lanjut Zahrain, Siti Aisyah akan harus tunduk pada proses hukum dan akan dituntut jika ada kasus terhadap dirinya.

Lalu siapa sebenarnya Siti Aisyah? Wanita berusia 25 tahun ini rupanya bisa berbahasa Inggris dan Korea serta berencana untuk main film di Korea Utara.

Siti pernah memberitahu temannya di Indonesia bahwa ia telah diundang untuk main film. “Dia mengatakan shooting akan berlangsung di Korea Utara,” kata seorang teman Siti, tanpa memberikan rincian.

“Saya tidak tahu detailnya, dia hanya mengatakan bahwa itu untuk kantor DPRK (Korea Utara),” kata temannya, yang diidentifikasi sebagai AZ.

Dia bekerja sebagai guest relations officer (GRO) di sebuah spa di Ampang, Kuala Lumpur, meskipun sepengetahuan keluarganya ia bekerja di Batam. “Saya tidak tahu dia bekerja di Malaysia,” kata ibunya, yang mengira putrinya bekerja di sebuah pasar di Batam, setelah bercerai dengan suaminya Gunawan Hasyin alias Ajun.

Dia mengatakan bahwa Siti Aisyah juga biasa mengiriminya uang. “Biasanya Rp500 ribu. Tapi tidak setiap bulan,” katanya.kri/ber/cha/the

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post