Kongkalikong Rumah Tangga, Penipuan dan Harta Gono Gini

Kasus Chin Chin, Terdakwa Dugaan Penggelapan dan Pencurian Dokumen The Empire Palace

Comment

SIAGAINDONESIA.COM – Perseteruan Trisulowati Jusuf alias Chin Chin dengan Gunawan Angka Widjaja, Komisaris Utama PT. Blauran Cahaya Mulia (BCM) tak kunjung selesai, suami istri itu akhirnya saling melaporkan ke polisi. kini, nasib kedua pasangan itu ada di palu hakim Pengadilan.

Perempuan yang duduk di kursi pesakitan ini panggilannya Chin Chin, nama aslinya Trisulowati Yusuf. Direktur Utama PT Blauran Cahaya Mulia (BCM), perusahaan yang menaungi The Empire Palace, wedding mall dan hotel megah bergaya klasik Romawi yang berdiri kokoh di Jalan Blauran No. 57-75 kota Surabaya.

Perempuan kelahiran Blitar, 13 Oktober 1970 ini adalah se­orang istri dengan tiga buah hati hasil perka­winan dengan pria bernama Gu­nawan Angka Widajaja atau biasa disebutnya Pak Gun, pada 1997. Pekerjaan laki-laki ini adalah Komi­saris PT Blauran Cahaya Mulia. Gedung yang sama dimana Chin Chin menjabat sebagai Direktur Utama.

Chin Chin menjadi terdakwa di ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya, hari rabu (25/1/2017), karena diduga menggelapkan dokumen dan pencurian ketika perusahaan tersebut memasuki audit keuangan di akhir tahun 2016. Chin Chin dilaporkan ke Polisi oleh suami­nya sendiri.

Gunawan menuduh Chinchin melakukan penggelapan dan pencurian sejumlah dokumen perusahan guna kepentingan pribadi. Perusahaan tersebut adalah Empire Palace di Jalan Blauran, Surabaya. Hal itu, kata Gunawan, dilakukan Chincin saat perusahaan akan melakukan audit keuangan yang memang setiap akhir tahun dilakukan.

“Wajar selaku komisaris saya melakukan tindakan seperti itu. Karena saya tidak ingin terus menerus ada pihak ketiga mena­gih hutang kepada saya. Sangat disayangkan kalau hakim sekarang melepaskan dia, “ kata Gunawan, Senin (19/12/2016), didampingi kuasa hukumnya, Teguh Suharto Utomo.

Ungkapan Gunawan, sekaligus menanggapi ke­pu­tusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya yang diketuai, HR Unggul Warsito, atas ditetapkannya pengalihan tahanan terdakwa Chin chin dari tahanan negara menjadi tahanan kota pada Senin itu.

“Dia itu sangat pintar bersandiwara. Lihat saja, itu bukan membaca eksepsi tapi sedang baca puisi. Masak baca eksepsi seperti itu, “ ucap Gunawan saat ditemui sedang menonton hasil rekaman video sidang eksepsi terdakwa. “Tangisannya itu pencitraan, “ lanjut Gunawan berucap.

Sebagaimana terjadi, Gunawan Angka Widjaja melaporkan Trisulowati Jusuf alias Chinchin, istri­nya yang telah menjalin perkawinan di tahun 1997 tersebut ke Polrestabes Su­ra­baya.

Laporan yang dibuat tanggal 6 Juni 2016 itu, sebulan kemudian 6 Juli 2016, naik menjadi pen­yidikan. Akhirnya, pada 14 November 2016, penyidik Unit Ti­piter Sat Reskrim Polrestabes melakukan panggilan kepada Chinchin sebagai tersangka. Dan tersangka Chinchin pada 15 November 2016, menjalani tahanan negara di Rumah Tahanan Medaeng, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Atas perbuatannya itu, berdasar nomor laporan: LP/878/B/VII/2016/SPKT/Restabes SBY, Chinchin yang telah memberikan Gunawan tiga orang anak; Janice, James, dan Lawrence, dijerat pasal 374 KUHP tentang penggelapan dan 363 KUHP tentang pencurian.

“Itu bukan pemindahan dokumen, jelas apa yang dilakukan Chinchin pencurian dokumen,“ sambung kuasa hukum Gunawan, Teguh Suharto Utomo.

Teguh mengulang ce­rita, bahwa perbuatan Chinchin adalah murni pidana, tanpa ada rekayasa yang selama ini dituduhkan pihak kuasa hukum Chinchin. “Tidak ada rekayasa dalam kasus ini. Apanya yang akan kami by design. Semua sudah jelas, “ tandas Teguh. Malah, lanjut Teguh, pihak Chinchin yang melakukan rekayasa.

“Hari ini (Senin itu) bukti rekayasa yang dilakukan pihak Chinchin, bahwa anak ketiganya (Lawrence) tidak sakit, harus opname di rumah sakit sehingga membuat dikabulkannya tahanan kota oleh majelis hakim. Kami sudah recheck langsung, “ ungkap Teguh.

Sebelumnya jaksa penuntut umum, Sumantri, saat membacakan surat dakwaan dihadapan majelis hakim di PN Surabaya pada Rabu, (14/12/2106). Melalui kesaksian Gunawan, jaksa mendakwa Chinchin selaku direktur utama dan Agus Suhendro selaku direktur PT BCM, dengan tuduhan ber­bagai rangkaian tunggakan hutang yang tidak bisa dipertangungjawabkan sebesar Rp 6 miliar hingga Rp 8,5 miliar.

Kata Jaksa Sumantri, terdakwa pada 4 Juli 2016, justru mengambil barang berupa dokumen milik PT BCM. Kemudian meminta karyawan untuk membawa lima kardus yang ditutup parcel. Barang itu kemudian dibawa dengan menggunakan honda jazz warna putih yang dikemudikan oleh Beni Candra menuju Apartemen Gunawangsa di kawasan Surabaya timur dan disimpan di dalam kamar 806 B.

Melalui saksi Beni Candra, jaksa Sumantri mengungkapkan, akhir Juni 2016 saksi disuruh terdakwa membawa dokumen berupa 6 kontainer plastik warna orange, 9 kontainer plastik warna biru, 5 warna hijau, 3 unit CPU, 10 kardus klub dan masih banyak lagi yang semuanya berisi dokumen.

Atas perbuatan tersebut, terdakwa Chinchin dije­rat pasal 367 ayat 2 KUHP jo 363 ayat 1 ke 3 KUHP atau pasal 376 KUHP jo 374 KUHP.

Namun, dakwaan jaksa tersebut dibantah oleh Pie­ter Talaway kuasa hukum Chinchin. Menurut Pieter, perkara ini terlalu dipaksakan sebab pihaknya memegang harta sita ma­rita yang dikeluarkan PN Surabaya. ” De­ngan ada-nya putusan sita marita ini maka masuk sebagai harta bersama,” ujar Pieter saat ditemui di halaman Pengadilan Negeri Surabaya.

” Pasal 367 ayat 1 KUHP bahwa suami isteri tidak ada harta pisah maka tidak bisa dituntut,” ujar Pieter.

Dokumen ini, lanjut Pieter juga milik terdakwa Chinchin selaku pemegang saham juga di PT BCM. Terdakwa memiliki kewenangan untuk memindahkan baik sebagai isteri maupun sebagai direktur utama.

”Justeru terdakwa me­ngamankan dokumen dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” sambungnya.

Pieter juga menyoroti pasal yang didakwakan terhadap Chinchin. Menurutnya ada pasal “sulapan” untuk merekayasa kasus ini. “Bagaimana ya lebih tepatnya kita menyebut pasal sulapan, masak pasal 374 di jouncto- kan dengan pasal 376. Ini jelas mengaburkan fakta. Ketentuannya jelas beda, pasal 374 jelas persoalannya untuk perseroan, sementara pasal 376 untuk perkawinan, “ urai Pieter.

Perkara pasangan ini, tampaknya juga mengundang perhatian organisasi kemasyarakatan. Dua kali sidang di Pengadilan Ne­geri Surabaya, saat pem­bacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum dan pembacaan eksepsi oleh terdakwa. Organisasi kemasyarakatan Pemuda Panca­sila (PP), menggelar aksi di depan Gedung Pengadilan Negeri Surabaya. “Aksi kami memberi support pada bos pak Gunawan, supaya Chinchin diberi hukuman setimpal, “ kata Koordinator aksi, Basuki Piteng.

Begitu pula yang dilakukan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Surabaya. Para wanita ini datang untuk memberikan dukungan moral terhadap terdakwa Chinchin. “Ini adalah sebuah bentuk dukungan kami kepada Bu Chinchin, “ kata Ke­tua GOW Surabaya, Asrilia Kurniati.

Sementara itu, Hotman Paris Hutapea yang ditunjuk sebagai pengacara Chin Chin akan melaporkan Gunawan Angka Widjaja, su­ami Trisulowati Jusuf alias Chin Chin mantan direktur utama PT Blauran Cahaya Mulia (BCM), ke Mabes Polri. Hotman menilai ada kejanggalan pada proses hukum yang dijalani oleh kliennya, Chin Chin. Dia mempertanyakan profesionalitas Polrestabes Surabaya dan kejaksaan setempat yang memproses perkara kliennya.

“Saya sangat berharap, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur agar memeriksa Aspidum-nya, Kajarinya, atau siapa jaksa yang menangani, kenapa bisa sampai P21 (berkas perkara dinyatakan lengkap). Karena ini bukan kasus tindak pidana, tapi murni perdata yang ada kaitannya dengan harta gono-­gini,” ucap Hotman di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (18/1/2017).

Lebih jauh Hotman me­ngatakan, pihaknya menemukan bukti ada­nya uang masuk Rp 200 miliar ke rekening pelapor, hasil dari penjualan properti karya Chin Chin. “Kenapa ini di­biarkan. Rupanya mungkin karena Surabaya jauh dari pusat, sehingga kurang terawasi aparat-aparatnya.”

Hotman Paris me­ngaku akan melaporkan balik pe­lapor Chin Chin ke Mabes Polri. “Mempertimbangkan untuk membuat laporan atas lawan di Mabes Polri. Karena sepertinya Chin Chin atau klien saya sulit menemukan keadilan di Surabaya.” Tutup Hotman.pry/bnj

Up Next

Related Posts

Discussion about this post