Ini Suara Warga Lakardowo Mojokerto

Sebut air sumurnya tercemar limbah PT PRIA

Comment

SIAGAINDONESIA.COM – Warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur mengaku terusik, menurut mereka air sumur di tempat tinggalnya tercemar akibat rembesan limbah perusahaan pengolahan limbah B3, PT PRIA.

Sementara, hasil uji laboratorium yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut pencemaran terjadi akibat sanitasi di wilayah tiga dusun tersebut yang buruk.

“Warga menolak kalau disebutkan pencemaran terjadi akibat sistem sanitasi yang buruk. Dan, kita meminta pemerintah tegas, agar hasil uji laboratorium disampaikan ke warga secara transparan, apa saja unsur yang terkandung,” kata Wakil Ketua Paguyuban Pendopo Bangkit, Utomo, Jumat 12/5/2017.

Utomo menyebut, dari permukiman warga, lokasi timbunan limbah pabrik jaraknya tidak lebih dari 500 meter.

“Sesuai ketentuan, baku mutu air yang sehat untuk mandi dan mencuci tidak boleh lebih dari 500. Nyatanya saat ini lebih dari 1000 diatas baku mutu,” tambahnya.

Mengatasnamakan warga, lelaki itu mengatakan sumber pencemaran harus di tutup.

“Harus ada tindakan, yang bisa melakukan itu pemerintah melalui Kementerian LHK,” tegasnya.

Dia menyebut, untuk menggantikan fungsi air sumur yang telah terpapar pencemaran, warga beralih membeli air bersih dari Pacet.

Sementara, salah seorang warga Natipah (55) warga Dusun Kedung Palang, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, mengaku iritasi dan gatal-gatal akibat air sumur yang dipakai, itu sejak dua tahun lalu.

“Dua tahun ini gatal-gatal, karena air sumurnya, sebelumnya tidak apa-apa,” ujar Natipah.

Isteri Jamakudin itu mengaku dirinya menjadi tidak tenang termasuk sejumlah warga lainnya.

Dia meyakini penyebab gatal-gatal akibat air sumur yang tercemar oleh rembesan limbah.

Utomo kembali menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus bisa memberikan solusi, setelah mengetahui kondisi Desa Lakardowo yang air sumurnya sudah tercemar, harus merekomendasi ke KLHK.

“Air sumur di desa ini sudah tercemar. Penyebabnya yang harus dihentikan,” tegas Utomo.

Warga minta petugas yang melakukan uji laboratorium memberikan penjelasan dengan melampirkan rincian hasil uji laboratorium.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, yang datang ke lokasi menemui warga, mengumpulkan keterangan dan dilakukan dialog. Keluhan yang dialami warga yang disebutkan akibat air sumur tercemar oleh limbah, ditampung.

“Sambil menunggu hasil audit, kita akan luruskan ini, siapa yang salah harus mengakui dan yang benar kita bela,” tegas Saifullah Yusuf.

Pernyataan itu, juga dikatakan saat pertemuan dengan menejemen PT PRIA, diikuti oleh Manajer Business Development PT PRIA, Christine didampingi staf perusahaan di kantor PT PRIA.

Diakui ada problem terkait dengan limbah B3 dan sistem pengolahannya. Di Jatim, disebutkan ada 170 juta ton limbah B3.

Limbah itu harus dikelola secara fisik, dan perusahaan yang melakukan itu harus memiliki izin khusus. Di Jatim, ada di Surabaya, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo dan Mojokerto. Pemerintah juga sedang menelusuri kemungkinan adanya tempat pengolahan lain.

Dari limbah sebanyak itu, baru 39 persen limbah yang bisa dikelola dengan baik, di Cilengsi, Bogor. Itu pengolahan limbah terbesar di Indonesia. Sisanya, 61 persen sedang diteliti kemana larinya, dan bagaimana proses pengolahannya.

Untuk sementara, terang Gus Ipul Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyediakan air bersih yang dibutuhkan warga.

Sementara, Christine menyebut niat baik perusahaan telah dilakukan meluruskan persoalan. Namun, karena ketidakharmonisan, niat tersebut belum menemui titik terang.

“Kita siap melakukan itu, memberi penjelasan kepada warga,” ucap Christine.Red/tji

Up Next

Related Posts

Discussion about this post