Beranda Headline Calon Independen Bisa Memecah Kebuntuan Pilgub Jatim

Calon Independen Bisa Memecah Kebuntuan Pilgub Jatim

195
0
Deklarasi calon independen dinilai bisa memecah kebuntuan Pilgub Jatim. Dari kiri politikus Partai Nasdem Hasan Aminuddin, Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Walikota Surabaya Tri Rismaharini., dan aktivis Pro Demokrasi Fitradjaja Purnama.

SIAGAINDONESIA.COM Partai Politik (Parpol) tengah tersandera. Sikap Khofifah Indar Parawangsa yang belum menyatakan sikap alias masih check sound, membuat peta politik di Jawa Timur mengalami kebuntuan. Di sisi lain, incumbent Saifullah Yusuf (Gus Ipul) terus merangsek dengan mencuri start kampanye agar bisa diusung Parpol.

Pilgub Jatim 2018 seolah-olah hanya melibatkan pertarungan dua sosok saja (Khofifah dan Gus Ipul). Sementara Parpol hanya menangkap dua nama ini untuk dimasukkan dalam agenda politik. Kendati sejumlah Parpol telah membuka pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur (Bacagub/Bacawagub) Jatim, namun hal itu hanya kamuflase.

Pada kenyataannya, Parpol hanya mengulur waktu untuk mengusung calon yang sebenarnya sudah ditetapkan. Seperti halnya Khofifah yang kini terus menjadi rebutan Parpol. Dua periode bertarung di Pilgub Jatim, elektabilitas Khofifah masih tinggi. Bahkan dibanding Gus Ipul, Khofifah dianggap sebagai calon yang layak meneruskan tongkat estafet Pakde Karwo.

Namun bungkamnya Khofifah justru menjadi kebuntuan di Pilgub Jatim kali ini. Padahal kalau diperhatikan banyak calon potensial yang siap maju Bacagub Jatim. Tak ayal, tersanderanya politik di Jawa Timur membuat demokrasi berjalan sangat lambat.

Mochtar W Oetomo, Direktur Surabaya Survey Center (SSC) menilai, kondisi politik di Jawa Timur saat ini sedang mengalami kebuntuan. “Demokrasi berjalan sangat lamban karena Parpol tengah tersandera,” ujar Mochtar saat ditemui siagaindonesia.com, belum lama ini.

Pria yang menjadi pengajar di Universitas Trunojoyo Madura ini mencontohkan, Khofifah dan Gus Ipul menjadi ‘kiblat’ partai politik. Dua partai yang sedang bersekutu Gerindra dan Demokrat sejatinya ingin mengusung Khofifah, bila nantinya PDIP memutuskan mengusung Gus Ipul. Tapi dengan bungkamnya Khofifah dan strategi PDIP last minute, membuat Pilgub Jatim menjadi monoton.

Di sini publik dipertontonkan tayangan ulang saat Pilgub DKI beberapa waktu lalu. Bedanya, Khofifah dan Gus Ipul berasal dari latar belakang yang sama, yakni NU. Hanya saja jika nanti keduanya diadu oleh elit politik, bukan tidak mungkin akan membuat interval di kalangan warga Nahdliyin.

“Sangat disayangkan suara warga NU terbelah. Seperti orang Madura, mereka pasti bingung memilih siapa diantara Khofifah dan Gus Ipul,” kata Mochtar.

Nah, agar Pilgub Jatim berjalan tidak monoton, harus ada yang berani deklarasi calon independen. Dalam perhelatan Pilgub Jatim 2013 lalu, ada satu calon perseorangan yakni Eggi Sudjana. Kehadirannya bisa memecah kebuntuan politik yang saat itu tengah dialami Parpol. Walhasil, empat pasang calon pun muncul dan berhadap-hadapan.

Dalam kondisi sekarang, calon perseorangan Jawa Timur sudah waktunya muncul. Untuk Eggi, dia tentu tidak bisa mengulang sejarah, bila melihat situasi politik yang dihadapinya.

Kehadiran calon independen ini, lanjut Mochtar, akan memudahkan Parpol melakukan proses penjaringan dengan baik. Sebab, selama ini proses penjaringan Porpol hanya berkutat di masalah popularitas dan elektabilitas, bukan program yang diusung calon. Terlepas dari calon independen nantinya diusung Parpol seperti yang terjadi pada Ahok, itu urusan belakangan. Yang jelas calon independen dapat memecah kebuntuan Pilgub Jatim yang selalu melibatkan dua nama yakni Khofifah dan Gus Ipul.

“Dalam Pilgub Jatim 2018 harus ada lima pasang calon. Itu baru demokrasi. Untuk melihat siapa saja calon-calon yang layak maju jalur perseorangan sebenarnya mudah,” terang Mochtar.

Sebut saja La Nyalla Mattalitti. Dia dinilai memiliki jaringan kuat dan mobilisasi tinggi. Dia sebagai ketua Kadin Jatim, pernah menjabat ketua PSSI, dan masih aktif sebagai Ketua umum MPW Pemuda Pancasila, tentu modal ini sudah cukup kuat bagi La Nyalla untuk maju sebagai calon perseorangan.