Beranda budaya Ngawi Pecahkan Rekor MURI Pementasan Wayang Kulit Dengan Kelir Terpanjang

Ngawi Pecahkan Rekor MURI Pementasan Wayang Kulit Dengan Kelir Terpanjang

241
0
Pementasan wayang kulit dalang cilik di Ngawi pecahkan rekor MURI dengan kelir terpanjang

SIAGAINDONESIA.COM Pementasan wayang kulit dalam memperingati HUT Kabupaten Ngawi ke-659 memecahkan rekor sekaligus tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) 2017. Dalam pagelaran wayang kulit di Alun-Alun Merdeka Ngawi yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB tersebut dipentaskan langsung 115 dalang dengan kelir terpanjang 120 meter yang dihadiri Eksekutif Manajer MURI Sri Widayati, Kamis (07/09).

“Pementasan wayang kulit kali ini mengalahkan rekor sebelumnya yakni kelir sepanjang 63,5 meter di UNS Solo pada Maret lalu. Dan di Ngawi ini berhasil memecahkan rekor dengan kelir terpanjang 120 meter,” kata Eksekutif Manajer MURI Sri Widayati, Kamis (07/09).

Piagam penghargaan MURI dengan nomor registrasi 8086/R.MURI/IX/2017 diserahkan oleh Sri Widayati ke Pemkab Ngawi sebagai pemrakarsa pagelaran wayang kulit yang diikuti para dalang cilik dengan kelir terpanjang. Dan piagam penghargaan diterima oleh Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar.

“Rekor MURI yang kita pecahkan malam ini dengan kelir terpanjang sebagai catatan luar biasa bagi Pemkab Ngawi. Dan tentunya sebagai satu kesuksesan tersendiri dalam mensuport Ngawi Visit Years 2017 yang spektakuler,” terang Ony Anwar.

Ungkapnya, pementasan wayang kulit dengan kelir terpanjang menjadi bagian dari festival dalang remaja tingkat nasional 2017 yang diselenggarakan Pemkab Ngawi mulai 7-9 September 2017. Dimana pesertanya tercatat ada 19 dalang remaja datang dari 12 daerah bahkan ada yang dari Lampung dengan berbagai lakon yang dibawakan nantinya.

“Tujuan dari festival wayang kulit ini tidak lain untuk mempertahankan budaya asli bangsa kita. Serta sebagai satu wahana merajut kebhinekaan sebagai bangsa yang madani kaya akan budaya dan tradisi. Selain itu Ngawi setidaknya memberikan contoh bagi daerah lain untuk menggali potensi budaya tradisional dan mempertahankanya,” ungkap Ony Anwar. (pr)