Mungkinkah Disparpora Ngawi Lepas Tangan Terkait Amburadulnya Fasum Alun-Alun

Comment

SIAGAINDONESIA-Jika melihat kondisi yang sebenarnya terhadap kawasan alun-alun Ngawi memang sangat memprihatinkan. Seolah masih jauh dari tujuan yang sering digembar-gemborkan Pemkab Ngawi sebelumnya. Dimana kawasan alun-alun bakal dijadikan sebagai satu titik destinasi wisata yang spetakuler di bumi orek-orek tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir duit rakyat yang jumlahnya miliaran rupiah melalui pos APBD sengaja digelontorkan untuk menyulap kawasan alun-alun dari yang biasa menjadi luar biasa tetapi bukti masih jauh dari harapan warga masyarakatnya. Terbukti hasil inspeksi mendadak (sidak) Komisi III DPRD Ngawi menemukan beberapa fasilitas umum (fasum) seperti sarana MCK kondisinya amburadul, Kamis (12/10).

Apakah seperti itu bisa dikatakan spetakuler sesuai predikatnya terhadap alun-alun seluas 68.310 meter persegi, tentu masih jauh panggang dari api. Padahal sebelumnya fungsi alun-alun ditujukan sebagai  Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) untuk Kabupaten Ngawi juga dimanfaatkan untuk memenuhi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Kalau sedemikian ini dimana tanggungjawabnya UPT yang membawahi alun-alun dan keberadaan UPT itu sendiri dibawah naungan Disparpora Ngawi. Saat dikonfirmasi wartawan pihak Disparpora menanggapi hasil sidak Komisi III DPRD Ngawi terhadap fasilitas umum (fasum) di kawasan alun-alun seolah dijawab dingin begitu saja.

Seperti yang disampaikan Warsito Kabid Pariwisata Disparpora Ngawi melalui pesan whatsapp mengatakan, keberadaan UPT langsung dibawah tanggungjawab Kepala Disparpora bukan bertanggungjawab pada Kabid Pariwisata. Mendapat satu jawaban seperti itu memang bisa dimaklumi.

Tetapi jika dikaitkan dengan pembangunan atau revitalisasi alun-alun sebelumnya bisa jadi masih dipertanyakan lagi. Masih segar dalam ingatan pada pertengahan 2014 lalu program face of alun-alun dengan konsep knock down. Saat itu Warsito selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Disparyapura Kabupaten Ngawi mengatakan, anggaran untuk memoles alun-alun senilai Rp 3,8 miliar bersumber APBD 2014.

Hanya saja item pekerjaannya saat itu bukan diarahkan untuk pembangunan fasum khusunya bangunan toilet tetapi pada 4 paket pekerjaan antara lain gapura, perbaikan jalan tengah, revitalisasi saluran irigasi, perbaikan jalan di samping area lapangan tenis disisi timur.

Dengan demikian secara persis siapa yang bertanggungjawab terhadap fasum yang amburadul dikawasan alun-alun tersebut. Dan seberapa besar nilai budget yang digelontorkan untuk pembangunan fasum yang baru setahun langsung rusak itu. (pr)

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post