Face Off Alun-Alun Berawal Pemikiran Siswanto Mantan Sekda Ngawi

Comment

SIAGAINDONESIA-Usut punya usut face off atau pembangunan kawasan alun-alun Ngawi yang belakangan ini dikritisi oleh wakil rakyat setempat terkait keberadaan fasilitas umum (fasum) yang tidak berfungsi maksimal mempunyai nilai histori. Pembangunan alun-alun dilakukan secara terpadu tidak lepas dari peran Siswanto mantan Sekda Ngawi sekitar tahun 2014.

Dimana Siswanto yang berakhir masa jabatanya dan memasuki masa pensiun pada akhir 2016 lalu. Dia tidak hentinya mencari bahan inspirasi demi menata keindahan suatu kota utamanya tentang alun-alun. Sebagaimana diketahui Alun-Alun Merdeka Ngawi dengan luas 68.310 meter persegi merupakan alun-alun terluas di Jawa Timur dari 38 kabupaten/kota yang ada.

Dengan dasar itulah Siswanto yang juga sebagai pelaksana harian (Plh) Bupati Ngawi saat itu akan membuat semacam sayembara membuat desain penataan alun-alun untuk bisa memecahkan record sebagai alun-alun terbaik di Indonesia.

“Saya menginginkan alun-alun yang ada di Kota Ngawi ini terbaik se-Indonesia. Makanya akan saya adakan semacam lomba desain bertemakan alun-alun,” terang Siswanto saat itu.

Pada masa itu Siswanto sendiri untuk mempersatukan persepsi tentang alun-alun terlebih dahulu meminta bahan pemikiran semua pihak seperti kalangan wakil rakyat (DPRD), LSM, perguruan tinggi maupun konsultan. Nantinya kalau sudah deal agenda sayembara yang bakal direncanakan kata Siswanto pasti ada uang pembinaan yang nilainya bisa menarik peserta.

“Kalau master planya sudah ada namun masih kita bicarakan dulu di internal kita masalah rencana yang bakal diadakan itu. Saya harapkan juga semua warga Ngawi ini ikut andil atau sumbangsih memikirkan alun-alun menuju lebih baik. Entah itu fasilitasnya maupun sarana lain yang menunjang,” sambung Siswanto.

Tegasnya lagi, yang diinginkan nantinya alun-alun menjadi sentra atau pusat perhatian warga Ngawi maupun para pendatang. Tentunya semua fasilitas yang tersedia di alun-alun seperti yang diharapkan harus bisa mengakomodasi berbagai kegiatan masyarakat. Seperti lapangan futsal, basket, sketpark, wall climbing, taman internet cukup buat warga menikmati weekend yang menyenangkan akan tetapi tidak menghilangkan filosofi dari alun-alun sendiri.

“Kalau fasilitasnya lengkap nantinya bisa menjadi jujugan masyarakat. Kalau sudah menjadi demikian Kota Ngawi lebih spetakuler dan siap menjadi tahun wisata tahun 2017 mendatang,” ucapnya kala itu.

Namun sebelum sayembara penataan alun-alun dihembuskan ke permukaan keberadaan alun-alun itu sendiri sudah mengalami face off  dengan nilai fantastis sekitar Rp 3,8 milyar. Anggaran tersebut terserap untuk pekerjaan yang meliputi 4 paket meliputi gapura, perbaikan jalan tengah, revitalisasi saluran irigasi, perbaikan jalan di samping area lapangan tenis disisi timur.

Siswanto menandaskan peran alun-alun sendiri selain ditujukan sebagai  Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) untuk Kabupaten Ngawi juga dimanfaatkan untuk memenuhi Ruang Terbuka Hijau (RTH). (pr)

 

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post