Beranda aneka Budaya Gotong Royong Di Desa Ini Masih Terjaga, Apa Resepnya ?

Budaya Gotong Royong Di Desa Ini Masih Terjaga, Apa Resepnya ?

10874
Pembangunan jalan desa di Teguhan dilakukan dengan gotong royong

SIAGAINDONESIA.COM Iya sebut saja Teguhan, salah satu dari 14 desa masuk wilayah Kecamatan Paron, Ngawi, Jawa Timur yang keberadaanya sekarang ini terus berbenah menuju kesejahteraan warganya. Mungkin sesuai filosofinya Teguhan sebagai satu keteguhan tersendiri dalam menjaga kerukunan maupun semangat gotong royong membangun desa.

Dan hal tersebut masih tertanam dihati warga masyarakatnya yang bisa dibuktikan dengan kegiatan pengerjaan jalan desa selalu dilakukan dengan cara gotong royong. Bukan kata setali dua ikat, cara seperti itu sudah dilakukan secara turun temurun meski zamanya sudah berubah di era milenial sekarang ini.

Supriyono Kepala Desa (Kades) Teguhan saat ditemui awak media dengan lugasnya menjawab, semangat membangun desa yang didasari kebersamaan tercermin melalui gotong royong merupakan bukan tanpa sebab. Ia mengakui, pemerintah melalui kepemimpinan Jokowi telah meluncurkan Nawa Cita. Salah satu isi program tersebut adalah membangun Indonesia dari kawasan pinggiran dan desa.

“Nawa Cita akan berjalan sesuai relnya manakala kebersamaan dibangun dari bawah. Konsep rasa kebersamaan mempertanggungjawabkan pembangunan secara utuh tentu harus dimulai dari desa. Dengan demikian kami sadar sebagai pemimpin tentu memberikan satu teladan yakni semangat mengawali gotong royong. Dan Alhamdulillah desa kami warganya secara sadar diri dan ikhlas bersama-sama membangun desa sebagai dasar penguatan ekonomi,” kata Supriyono Kades Teguhan, Senin (16/10).

Ia pun menyebut, saat pembangunan jalan telford atau proses pengerasan jalan desa tenaganya diambil dari swadaya warga masyarakat. Artinya dilakukan dengan gotong royong tanpa sedikitpun paksaan. Satu bukti menurut Supriyono sewaktu proses pengerasan jalan disalah satu wilayah dusunya melalui anggaran Dana Desa (DD) 2017 senilai Rp 150 juta sejak titik awal dikerjakan secara bersama melalui semangat gotong royong.

Mengapa demikian tandasnya, selama ini rakyat Indonesia dikenal dunia dengan semangat gotong royongnya. Terbukti berkat semangat tersebut, Indonesia bisa merdeka dan bisa menjadi negara yang besar. Hingga ada pepatah, ‘’berat sama dipikul ringan sama dijinjing’’ yang mengilhami kultur masyarakatnya.

“Secara aktif kami selaku kepala desa melakukan pendekatan kepada warga dan mereka harus dilibatkan langsung dalam mengelola anggaran yang masuk ke desa sekarang ini. Pemahaman inilah lambat laun menjadi semangat mereka untuk desanya. Maka dari itu budaya gotong royong di desa kami masih terjaga dengan baik hingga sekarang ini,” beber Supriyono.

Namun begitu, tidak menutup mata jika semangat tersebut sudah mulai luntur seiring perkembangan zaman yang serba modern. Bahkan, ada beberapa masyarakat yang lebih memilih membayar dari pada harus bergotong royong. Hal ini jelas membuat miris baginya selaku kepala desa.

Disebutnya, dengan program dana desa sekarang ini, pemerintah mewajibkan masyrakat desa mengelolanya dengan cara swadaya dan gotong royong. Sedikit paksaan menurutnya memang harus, karena dengan begitu semangat gotong royong bisa kembali menjadi darah daging di hati warga masyarakatnya.

‘’Program dana desa dari APBN ini ditujukan untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di desa, maka program ini ditujukan untuk mambangun infrastruktur dan masyarakat. Maka kegiatan itu harus dilakukan secara swakelola dan gotong royong. Itu yang menjadi senjata pemerintah desa untuk kembali pada azas gotong royong dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Supriyono. (pr)