Saksi Asoei Ungkap Praktik-praktik Mafia Tanah ala Henry Gunawan

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Jika massa Gerakan Putera Daerah (GPD) demo di luar sidang, maka di ruang sidang Candra, terdakwa Henry Gunawan dibuat tak berdaya oleh saksi Heng Hoek Soei alias Asoei alias Sindo Sumidomo. Saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso.

Pantauan Siagaindonesia.com, pengusaha yang akrab dipanggil Asoei ini membongkar sejumlah praktik ilegal mafia tanah yang dilakukan Henry Gunawan selama ini, salah satunya terkait proyek Pasar Turi.

Hampir semua keterangan Asuei membuat terdakwa Henry J Gunawan dan tim pengacaranya tak berkutik, terlebih saat saksi Asoei menceritakan terkait jual beli pada kasus ini.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Hakim Unggul, saksi Asoei mengaku kenal dengan terdakwa Henry Gunawan. Saat perkenalan, Henry mengaku sebagai owner PT Gala Bumi Perkasa (GBP) dan pada awal bulan Maret 2010 Henry menawarkan dua bisnis proyek, salah satunya proyek pasar turi.

Asoei menyebut, ternyata Henry bukan orang berduit. Dia memang dapat banyak proyek, tapi selalu mencari dana dari luar untuk proyek yang didapatnya. Untuk proyek Pasar Turi, dia justru meminta modal pada saksi beserta kongsiannya untuk pembangunan Pasar Turi.

“Dia (Henry Gunawan) menemui saya, katanya PT GBP ada proyek pembangunan Pasar Turi. Pada 23 Maret 2010 ada kesepakatan. Saya keluarkan uang Rp 25 milar,” terang saksi Asoei di hadapan majelis hakim.

Asoei juga menganggap Henry telah berbohong, lantaran dalam persidangan sebelumnya mengaku bukan merupakan salah satu direksi di PT GBP. “Kalau saudara Henry mengatakan tidak ada hubungan dengan PT GBP, maka saya mengatakan di persidangan ini bahwa saudara terdakwa telah berbohong,” terang Asoei.

Sementara terkait kasus ini, Asoei mengatakan ditawari dua obyek properti oleh terdakwa Henry, salah satu dari obyek yang ditawarkan oleh Henry adalah SHGB Nomer 66. Setelah melihat luas tanah, saksi Asuei mengaku tidak tertarik dengan obyek properti yang ditawarkan Henry. Dia kemudian menawarkan obyek SHGB no 66 itu pada Hermanto, keponakannya. Saat itulah terjadi kesepakatan jual beli dengan nilai transaksi sebesar Rp 5 miliar. Uang Rp 500 juta untuk obyek properti yang ada di jalan Tengku Umar Surabya dan uang Rp 4,5 miliar untuk obyek SHGB Nomer 66 yang ada di Malang.

“Dua objek itu saya DP sebesar Rp 1,1 miliar dan sudah saya lunasi pada saat penandatanganan akte PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli),” jawab Asoei.

Ditambahkan Asoei, saat itu dana Hermanto tidak mencukupi, maka saksilah yang menghandle transaksi pembayarannya. “Saya yang melunasinya,” katanya.

Saksi Heng Hoek Soei alias Asoei alias Sindo Sumidomo membeberkan semua praktik kotor yang dilakukan Henry Gunawan di ruang sidang Candra, PN Surabaya, Senin (30/10/2017).

Saksi Heng Hoek Soei alias Asoei alias Sindo Sumidomo membeberkan semua praktik kotor yang dilakukan Henry Gunawan di ruang sidang Candra, PN Surabaya, Senin (30/10/2017).

Sementara, dua saksi lainnya yakni Teguh Kinarto (65) dan Widjiyono Nurhadi (56) belum berhasil didengarkan keterangannya. Keduanya bersaksi pada persidangan berikutnya. “Karena sudah disumpah saksi tetap hadir pada persidangan berikutnya,” ujar Hakim Unggul pada kedua saksi sambil mengetukan palu sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Seperti diketahui, pada perjanjian jual beli itu akhirnya muncul masalah. SHGB yang saat itu dipegang oleh Notaris Caroline C Kalampung sedang dalam proses administrasi balik nama.  Namun dokumen itu kemudian dibawa oleh Yuli dengan dalih dipinjam sementara untuk dilakukan pengurusan perpanjangan SHGB. Yuli sendiri diketahui menjabat sebagai legal di perusahaan di PT GBP. Nah, karena SHGB itu belum dibalik nama, pihak PT GBP ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual kembali SHGB No 66 milik Hermanto.

Dari informasi yang dihimpun, pihak PT GBP menjual kembali obyek properti SHGB Nomer 66 milik Hermanto itu kepada orang lain dengan harga Rp 10 miliar. Atas semua kejadian itu Notaris Caroline C Kalampung akhirnya melaporkan Henry Gunawan pada polisi karena dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas transaksi jual beli properti ilegal itu.

Setelah dilakukan penyelidikan dan mengumpulkan alat bukti, penyidik Poltestabes Surabaya menetapkan Henry Gunawan sebagai tersangka. Perkara bos Pasar Turi itu kemudian bergulir ke pengadilan. JPU menjerat Henry dengan dakwaan melanggar pasal 372 jo 478 tentang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Henry pun terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.nv

Up Next

Related Posts

Discussion about this post