Beranda Headline Pameran Senirupa ‘Bless of Universe’

Pameran Senirupa ‘Bless of Universe’

477
0
Anton Larenz berbincang dengan pengunjung pameran

SIAGAINDONESIA.COM – Dua orang pelukis dari Yogyakarta, Giring Prihatyasono dan Hono Sun menggelar pameran seni rupa di ‘Liman Jawa Art House’, dusun Tingal Kulon, desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Pameran senirupa ini dibuka pada hari Minggu tanggal  5 Nopember 2017 yang lalu. Pembukaan pameran ini ditandai dengan pemotongan tumpeng yang melambangkan alam semesta oleh Anton Larenz, seorang pemerhati dan penulis tentang seni rupa asal Jerman yang sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Yogyakarta. Pameran ini berlangsung dari tanggal 5 sampai dengan 26 Nopember 2017, yang dalam pembukaannya digelar sebuah ‘performance art’ oleh Umar Faruq yang menggambarkan proses kelahiran sesosok umat manusia.

‘Bless of Universe’ atau Berkah Alam Semesta yang menjadi tema pameran seni rupa ini sebagai gagasan dari Hono Sun dan Giring Prihatyasono. Gagasan ini terkait dengan kesadaran bahwa memahami dan menghargai hidup merupakan cara untuk menarik berkah yang ada di alam semesta. Berkah tersebut dekat dengan kehidupan dan mendatangkan kebaikan berupa materi mau pun non-materi. Salah satu berkah tersebut adalah peninggalan leluhur.

“Keberadaan Candi Borobudur seharusnya dimaknai sebagai berkah dari Tuhan Yang Maha Esa melalui kepandaian nenek moyang dan merupakan bagian dari sejarah alam semesta,” ungkap Janu PU, seniman dan penulis tentang seni rupa, dalam tulisan pengantar pameran ini. Menurut Janu PU, Hono dan Giring berusaha memaknai berkah tersebut menjadi nilai-nilai yang diwariskan leluhur dan selalu digali sebagai cara untuk menjaga apa yang telah dicapai para leluhur. “Nilai-nilai luhur ini merupakan warisan yang tidak dapat dicuri oleh bangsa lain,” tandasnya.

Sebagian karya Hono Sun memunculkan pengulangan obyek sebagai bentuk doa-doa. Karena setiap doa yang berisi keyakinan akan menjaga semangat dan rasa optimis. Obyek lukisan berupa buah-buahan sebagai ungkapan rasa syukur, karena datangnya masa panen buah yang penuh berkah. Pohon dalam karya lukisannya merupakan simbol kehidupan dan ketenteraman. Stupa seperti yang ada di Candi Borobudur oleh Hono diartikan sebagai simbol meditasi untuk mengumpulkan energi menuju kesempurnaan sejati.

Karya-karya Giring merupakan cerita tentang perenungan dan dialog rasa dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Bunga lotus melambangkan keindahan dan nilai sprititualitas. Karena dapat mewakili kemurnian pikiran dan jiwa. Daun-daun dari pohon Bodhi merupakan lambang kehidupan dan naungan ketika Siddharta Gautama mencapai penerangan sempurna menjadi Sang Buddha. Figur Sang Buddha merupakan simbol jalan menuju pengetahuan untuk mencapai kebenaran sejati dalam kesadaran.

Karya lukisan Hono Sun yang dipamerkan antara lain berjudul ‘Bless and Balance’, acrylic on canvas, 100 cm x 100 cm, 2017. Lukisannya berbentuk sebuah stupa yang disusun dari gambar-gambar puluhan buah jeruk warna orange, dengan latar belakang gambar-gambar rumah. Lukisan bertajuk ‘Happiness shake hands’ gambar utamanya sebatang pohon dengan daunnya berwarna biru, di bawah lukisan pohon ada dua orang sedang berjabatan tangan. Lukisan acrylic on canvas ini berukuran 150 cm x 110 cm, karya tahun 2017.  Lukisan yang bertajuk ‘Spirit in togetherness’ gambarnya berupa sebuah pohon besar dengan daun-daunnya berwarna orange, di bawah gambar pohon ada gambar kegiatan orang-orang yang sedang berolah-raga bersama. Lukisan acrylic on canvas ini berukuran 150 cm x 150 cm, garapan tahun 2017.

Sedangkan karya seni rupa Giring berupa etsa, antara lain berjudul ‘Dalai Lama’, dengan bahan aluminium berdiameter 120 cm. Karya etsa lainya berjudul ‘wening #1’, bahan aluminium bergaristengah 120 cm. Ada juga etsa berjudul ‘Heart #1’ berbentuk daun pohon Bodhi dengan bahan aluminium yang ukurannya bervariasi.