Saksi Beber ‘Nakalnya’ Henry Gunawan, Tanah Sudah Dijual kok Dijual Lagi

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Terdakwa kasus penggelapan dan penipuan senilai Rp 4,5 miliar, Henry J Gunawan, kembali dibuat tak berdaya oleh empat saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso. Sebelumnya pada dua pekan lalu, terdakwa juga dibuat tak berkutik dengan keterangan saksi Heng Hok Soei alias Asoei alias Sindo Sumidomo.

Empat saksi yang hadir di ruang Candra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (13/11/2017) itu adalah Yudi Alfian Tedjo dan Ane Tandio, dua orang pembeli tanah (objek masalah). Sedangkan dua saksi lainnya adalah Notaris Hengky Budi dan Mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Unggul Mukti Warso, saksi Yudi menjelaskan betapa ‘nakalnya’ Henry Gunawan dalam urusan tanah. Saksi menyebut bahwa dia ditawari obyek SHGB No 66 oleh seorang bernama Budi (teman dekat terdakwa Henry). Karena berminat, dia sepakat untuk membeli obyek tanah seluas 1.934 M2 itu.

“Saya minat lalu ditemukan dengan Henry, saya janjian ketemu di kantornya di Jl Putat Surabaya. Dia (Henry Gunawan) minta Rp 10,5 miliar bersih tanpa PPN. Setelah itu Henry menunjuk notaris Hengky untuk cek keabsahan surat,” terang saksi.

Menurut saksi Yudi, saat itu dia tidak tahu kalau tanah tersebut sebelumnya sudah dijual ke Hermanto. Saksi Yudi bilang setelah terjadi kesepakatan, mereka melakukan perjanjian pengikatan jual beli (PPJB).  Semua orang hadir di kantor notaris Hengky, termasuk Henry dan istri Henry. Hanya saja waktu itu Iwan tidak bisa hadir karena ada kepentingan. Namun saksi Yudi mengaku telah mendapat surat kuasa dari Iwan untuk mewakilinya membuat perjanjian.

“Saat menjual, Henry tidak pernah memberi tahu pada saya kalau tanah tersebut sebelumnya telah dijual pada Hermanto,” ujar saksi menjawab pertanyaan JPU Ali Prakoso.

Saksi menjelaskan bahwa dalam akte perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) Nomor 3 dan Akte Kuasa Jual Nomor 5, yang dibuat di hadapan notaris Hengky, terdakwa Henry disebutkan menjabat sebagai Direktur di PT GBP.

Atas keterangan dari saksi Yudi, Henry sama sekali tidak membantah, begitu pula dua saksi lainnya, Ane dan Notaris Hengky juga turut membenarkan.

Hal ini berbeda dengan keterangan yang diberikan saksi Raja Sirait di mana dia memberikan jawaban plin plan saat ia ditanya JPU. Mantan Dirut PT GBP ini mengaku tidak mengenal Hermanto. Dia mengaku  hanya mengenal Heng Hoek Soei alias Asoei.

Baca selengkapnya: Saksi Asoei Ungkap Praktik-praktik Mafia Tanah ala Henry Gunawan

Sirait juga berdalih, bahwa  perjanjian yang tertuang dalam akte PPJB nomer 5 dan akte kuasa jual nomer 6 adalah perjanjian kerjasama dengan Asoei.

“Saya tanyakan pada Yuli, staf legal PT GBP katanya ada perjanjian kerjasama, antara GBP dengan Asoei,” ujar Sirait.

Mendengar jawaban saksi, Jaksa Ali Prakoso langsung memberikan sanggahan. “Loh saksi kan yang menandatangani akte perjanjian, kok malah tanya sama staf,” ujar jaksa.

Disinggung kerjasama yang dimaksud, saksi Raja Sirait makin plin plan. “Kita sering melakukan kerjasama dengan Asoei, bisa jadi dibuat hotel, apartemen, kondominium dan rumah sakit,” jawab Sirait.

Mendengar jawaban saksi, Jaksa Ali langsung naik pitam. “Tidak tau bidang kerjasamanya, kok bikin perjanjian, ingat saudara saksi sudah disumpah,” tegas Jaksa Ali.

Untuk membuktikan keterangan yang plin plan tersebut, Jaksa Ali akhirnya menunjukan bukti dokumen perjanjian PPJB dan Pengalihan Kuasa pada saksi Raja Sirait. Atas bukti itulah Raja Sirait akhirnya mengakui telah mendantangani PPJB dan kuasa pengalihan. “Iya, itu tanda tangan saya,” jawab Raja Sirait saat ditunjukan bukti tersebut.

Terdakwa Henry pun tak membantah keterangan Raja Sirait, “Iya benar,” ucap terdakwa Henry saat dikonfrontir oleh hakim Unggul.

Persidangan perkara ini akan kembali digelar satu pekan mendatang dengan agenda keterangan saksi verbal lisan (dari penyidik Polrestabes Surabaya). Seperti diketahui pada sidang sebelumnya saksi Li You Hin mengelak isi BAP yang ditanyakan jaksa dan menyampaikan bahwa dalam BAP oleh penyidik dan mantan pengacaranya lah yang mengarahkan BAP-nya.

Seperti diketahui, Henry J Gunawan adalah terdakwa kasus penggelapan dan penipuan jual tanah senilai Rp 4,5 miliar. Boss PT GBP ini dilaporakan Notaris Caroline C Kalampung.  Saat itu,  Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, Saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10,5 miliar.nv/mang

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post