Ibnu Khaldun Intelektual Muslim dan Bapak Sosiologi Dunia

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Bagi sebagian orang nama Ibnu Khaldun mungkin asing, dan bagi sebagian yang lain barangkali baru mengenalnya setelah bukunya ramai diperbincangkan di status facebook Zuckerberg. Sementara bagi sebagian umat Islam, bisa jadi terlambat menyadari kebesaran Ibnu Khaldun yang pengaruhnya tidak hanya mewarnai peradaban dunia Islam, tetapi juga peradaban Barat.

Ibnu Khaldun adalah raksasa intelektual muslim multidispliner yang merintis filsafat sejarah dengan metodologi ilmiah. Ia mengeritik sejarah yang berbau dongeng, sekadar uraian peristiwa individu, dan dijadikan alat kekuasaan. Pemilik nama lengkap Abu Zayd Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami ini juga dikenal sebagai Bapak Sosiologi Dunia. Bahkan tidak sedikit ilmuwan yang menyebutnya sebagai bapak pendiri ilmu politik dan ekonomi modern. Dalam beberapa literatur, Ibnu Khaldun juga disebut sebagai pembuka jalan bagi sejumlah pemikir Barat yang muncul kemudian, seperti August Comte (Bapak Sosiologi), Machiavelli (Bapak Politik Modern), Adam Smith (Bapak Ekonomi), Vico, Montesquie, Durkheim, Jean Bodin, dan bahkan Karl Marx.

Ibnu Khaldun (1332-1405) dilahirkan di bagian utara benua Afrika yaitu Tunisia setelah orang tuanya pindah dari Spanyol Moor (Andalusia). Semenjak kecil beliau telah hafal al-Qur’an. Pada waktu remaja Ibnu Khaldun belajar di masjid Zaitunnah yang terletak di samping rumahnya. Masjid ini sebagai pusat kerohanian dan keilmuan di Tunisia sebelum adanya Universitas al-Azhar di Kairo yang didirikan pada Dinasti Fatimiyyah. Di masjid inilah Ibnu Khaldun mendapatkan sangat banyak keilmuan diantaranya mempelajari Qiro’ah, mempelajari ilmu hukum Islam dari tafsir Qur’an, Hadits, dan Fiqih madzhab Maliki, dan sebagainya.

Para pemikir Barat mulai mengkaji karya-karya Ibnu Khaldun dengan serius pada paruh abad ke-19. Sejumlah pemikir sepakat bahwa Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi, politik, serta sejarah budaya. IM Oweiss dalam karyanya bertajuk Ibn Khaldun: A fourteenth-Century Economist menilai, Muqaddimah merupakan salah satu buku perintis ekonomi modern. Sedangkan Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, menyatakan Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menerapkan prinsip-prinsip dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakannya adalah; “Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk sosial berubah dan berkembang.”

Selain itu, Ibnu Khaldun juga membedah masalah teologi Islam. Yang lebih menarik lagi, Ibnu Khaldun pun membahas sains atau ilmu pengetahuan alam dalam kitabnya yang sangat populer itu. Secara khusus, Ibnu Khaldun mengupas tentang studi biologi dan kimia dalam bab tersendiri.

Di bidang ekonomi, Ibnu Khaldun membahas aneka ragam masalah ekonomi yang luas, termasuk ajaran tentang tata nilai, pembagian kerja, sistem harga, hukum penawaran dan permintaan, konsumsi dan produksi, uang, upah, pembentukan modal, pertumbuhan penduduk, makro ekonomi dari pajak dan pengeluaran publik, daur perdagangan, pertanian, indusrtri dan perdagangan, hak milik dan kemakmuran, dan sebagainya. Ia juga membahas berbagai tahapan yang dilewati masyarakat dalam perkembangan ekonominya. Kita juga menemukan paham dasar yang menjelma dalam kurva penawaran tenaga kerja yang kemiringannya berjenjang mundur.

Sebelum Ibnu Khaldun, kajian-kajian ekonomi di dunia Barat masih bersifat normatif, adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral, dan ada pula dari perspektif filsafat. Sedangkan Ibnu Khaldun mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris. Ia menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual dan detail.

Di bidang politik, Ibnu Khaldun menerangkan bahwa kedaulatan yang kuat harus ditopang oleh dua hal, yaitu adanya ashabiyah (solidaritas identitas) sebagai perekat hubungan politik antarwarga dalam sebuah negara dan terbangunnya kekayaan material (uang dan harta benda) sebagai basis kesejahteraan. Ibnu khaldun juga mengupas pentingnya militer untuk membangun negara kuat. Lebih jauh, sistem politik Islam dalam pemikiran Ibnu Khaldun terbagi dalam empat subtema, yaitu asal mula timbulnya negara, konsep kepala negara, pengaruh faktor geografis terhadap politik, dan solidaritas kelompok.

Di antara pemikiran Ibnu Kaldun yang sangat penting dan unik adalah tentang circle of equity. Dalam lingkaran keadilan ini Ibnu Khaldun menguhubungkan antara beberapa variabel yang saling terkait dan saling mempengaruhi dalam memajukan atau memundurkan peradaban.

Pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal ini dapat dilihat dalam skema di bawah ini :
G = Government (pemerintah)
S = Syari’ah
W = Wealth (kekayaan/ekonomi)
N = Nation (masyarakat/rakyat)
D = Development (pembangunan)
J = Justice (Keadilan)

Skema tersebut dibaca sebagai berikut:
1. Pemerintah (G) tidak dapat diwujudkan kecuali dengan implementasi Syari’ah (S) – (hukum, undang-undang).
2. Syari’ah (S) tidak dapat diwujudkan kecuali oleh pemerintah/penguasa (G) – (pemerintahan berdasakan hukum dan bukan berdasarkan orang).
3. Pemerintah (G) tidak dapat memperoleh kekuasaan kecuali oleh masyarakat (N) – (demokrasi).
4. Pemerintah G) yang kokoh tidak terwujud tanpa ekonomi (W) yang tangguh.
5. Masyarakat (N) tidak dapat terwujud kecuali dengan ekonomi/kekayaan (W).
6. Kekayaan (W) tidak dapat diperoleh kecuali dengan pembangunan (D).
7. Pembangunan (D) tidak dapat dicapai kecuali dengan keadilan (J).
8. Penguasa/pemerintah (G) bertanggung jawab mewujudkan keadilan (J).
9. Keadilan (J) merupakan mizan yang akan dievaluasi oleh Allah.

Observasi Ibn Khaldun ini, jelas, bukan ia peroleh dari “meditasi” di perpustakaan, tetapi berdasarkan apa yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menyelami lautan ilmu yang terkandung dalam magnum opus-nya, The Muqaddimah, yang sangat tebal itu, kita akan segera menempatkan Ibnu Khaldun adalah ilmuwan Islam yang tak lekang oleh zaman. Ia menjadi rujukan. Karena segala kepakaran para ilmuwan Barat yang kemudian diklaim sebagai bapak sosiologi, politik, sejarah, dan ekonomi modern, dapat dikembalikan sumbernya kepada Ibnu Khaldun.

Di sisi lain, memahami pemikirannya sama halnya memahami pemikiran ‘mahaguru’ yang berani mendekonstruksi berbagai wacana pemikiran yang sudah ada. Ia seorang pemikir yang sangat rasional namun tidak kehilangan rasa dan keimanannya pada Allah SWT.

Sumber: nusantara.news

Up Next

Related Posts

Discussion about this post