Henry Gunawan Disebut “Artis Ganteng” yang Mahir Menipu

Dua Saksi Klaim Dirugikan oleh Sepak Terjang Bos PT Gala Bumi Perkasa

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Sidang penggelapan dan penipuan yang menjerat Henry J Gunawan atas laporan Notaris Caroline C Kalampung kembali berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (20/11/2017).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso menghadirkan tiga saksi, yakni Teguh Kinarto, Notaris Paulus, Widjijono Nurhadi. Ketiga saksi itu didengarkan keterangannya secara terpisah. Saksi Teguh Kinarto didengarkan terlebih dahulu, dilanjutkan Notaris Paulus dan terakhir Widjijono Nurhadi.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Unggul Warso Mukti, Teguh Kinarto yang merupakan mantan Direktur Utama PT Gala Bumi Perkasa (GBP) menyebut jika dirinya merasa ditipu dan dimanfaatkan oleh Henry Gunawan.

Teguh mengaku diminta terdakwa Henry untuk menandatangani akte jual beli tanah di Claket, Malang, dengan obyek properti sertifikat hak guna bangunan (SHGB) Nomer 66. Tanah tersebut rencananya akan dijadikan aset untuk PT GBP. Selanjutnya tanah akan dibangun rumah sakit dan hotel.

Dari pembangunan rumah sakit dan hotel, Teguh Kinarto mendapat tawaran pembangunan obyek tanah dengan investasi sebesar 25%, dengan hitung-hitungan 10% untuk Widji, dan 15% untuk Teguh.

Pada tanggal 12 Juni 2010 dibuatlah kesepakatan menaruh saham sebesar 15 persen atau setara kurang lebih Rp 1,2 milliar.

Namun diakui Teguh, proyek tersebut akhirnya gagal karena ditolak bank. Hal yang menyebabkan proyek gagal, karena HGB itu belum dibalik nama oleh Hermanto. Dan pihak GBP ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual kembali SHGB No 66 milik Hermanto tanpa sepengetahuan yang bersangkutan kepada orang lain dengan harga Rp 10,5 miliar.

Saat itulah Teguh mengaku kecewa dengan terdakwa Henry. Dia tidak tahu kalau tanah itu dijual kembali. “Seandainya saya tahu tanah tersebut sudah dijual pada bulan April 2010, tentu saya tidak mau menandatangani kesepakatan tersebut,” tegas Teguh.

Teguh sendiri membantah mengenal Hermanto. Dia tahunya hanya disuruh untuk tandatangan akta jual beli (AJB) di mana PT GBP sebagai pemilik tanah. “Saya tahunya tanah itu milik PT GBP. Selama menjabat Dirut PT GBP, saya juga tidak tahu apa saja aset perusahaan. Dia (Henry) ini lebih tepat menjadi artis sinetron, karena sudah bohong. Saya merasa ditipu oleh Henry Gunawan yang luar biasa gagah dan ganteng, tapi tukang tipu,” tandas Bos PT Podo Joyo Mashyur tersebut.

Teguh sendiri menjabat Dirut PT GBP terakhir pada April 2012. Selama menjabat Dirut, Teguh mengaku hanya untuk mengamankan modal. “Saya mau jadi Dirut karena untuk mengamankan modal saya yang masuk ke PT GBP,” terangnya.

Nah, begitu dia diberhentikan Dirut PT GBP lewat RUPS bulan Maret 2012, namun sepanjang perjalanan saksi diminta menandatangani perjanjian antara PT GBP dengan PT Pembangunan Perumahan senilai Rp 245 miliar untuk proyek Pasar Turi. Padahal saksi tidak mengetahui keputusan pemberhentian tersebut.

Dalam pembangunan Pasar Turi, posisi Teguh yang telah dipecat. Tapi dia justru ditawari untuk investasi pada proyek Pasar Turi. Proyek tersebut sempat gagal dan Teguh meminta terdakwa Henry untuk mengembalikan dana. “Saya dibayar pakai billyet giro, tapi blong, nilainya seratus dua puluh milliar dan masalah ini sudah saya laporkan ke Bareskrim Polri,” ujar saksi Teguh.

Suasana sempat memanas ketika kesaksian Teguh dipotong penasehat hukum Henry. Saksi dengan nada lantang, “Sebentar! Sebentar!”

Hakim Unggul lantas melerai keduanya. “Saya di sini punya hak menjelaskan secara rinci. Tidak terpotong-potong,” tegas saksi Teguh.

Keterangan saksi Teguh kemudian dibantah oleh terdakwa Henry. “Tidak benar,” kata terdakwa Henry saat ditanya hakim Unggul terkait keterangan saksi.

Hakim pun memberi kesempatan pada terdakwa untuk bertanya ke saksi. Namun terdakwa Henry tidak kunjung bisa memberi klarifikasi terhadap kesaksian Teguh.

“Anda sebagai Dirut di sini atau lepas tanggung jawab?” tanya Henry terkesan belepotan.

“Tanggung jawab apa yang Anda maksud?” hakim Unggul balik bertanya.

“Ya sebagai Dirut,” jawab Henry terbata-bata.

“Dalam kasus apa dan yang mana?” balas hakim.

Saat itu terdakwa Henry malah menyodorkan perkara lain berikut dokomen yang tidak ada hubungannya dengan fakta persidangan.

Hakim lantas menjelaskan pada terdakwa Henry agar menanyakan perkara sesuai fakta persidangan. Bahkan tim penasehat diminta hakim untuk membantu terdakwa membuat pertanyaan.

Sementara pada kesaksian lain, saksi Notaris Paulus mengaku tidak begitu mengetahui asal usul akte perjanjian yang dibuat antara terdakwa Henry dengan saksi Hermanto. “Saya tidak tahu masalah akte-akte itu, saya tahunya hanya sertifikat sudah atas nama PT Gala Bumi Perkasa”.

Saksi Widjijono menyebut telah dirugikan oleh terdakwa Henry Gunawan dalam proyek pembangunan rumah sakit dan hotel pada tanah di Claket, Malang.

Saksi Widjijono menyebut telah dirugikan oleh terdakwa Henry Gunawan dalam proyek pembangunan rumah sakit dan hotel pada tanah di Claket, Malang.

Di persidangan terakhir, keterangan saksi Widjijono tak beda jauh dengan yang disampaikan saksi Teguh Kinarto. Ia menyebut telah dirugikan dalam proyek pembangunan rumah sakit dan hotel pada tanah di Claket, Malang.

Pada proyek itu, saksi Widjijono mengaku telah menaruh saham sebesar 10 persen dengan nilai Rp 740 juta. “Proyek itu gagal karena ditolak sama bank. Jujur saya merasa dirugikan dalam masalah ini,” kata saksi Widjijono.

Saksi Widjijono mempertegas, jika tanah di Claket Malang itu adalah milik terdakwa Henry. “Itu pengakuan terdakwa saat saya ditawari investasi pada proyek itu,” ujarnya.

Terdakwa Henry pun membantah keterangan yang dijelaskan saksi Widjijono. Namun saksi Widjijono tetap pada keterangan yang sudah dijelaskan di muka persidangan. “Saya tetap pada keterangan saya,” tegas Widjijono saat ditanya oleh Hakim Unggul Mukti Warso.

Perlu diketahui, Henry J Gunawan adalah terdakwa kasus penggelapan dan penipuan jual tanah senilai Rp 4,5 miliar. Bos PT GBP ini dilaporakan Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu,  Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima SHGB.

Namun saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10,5 miliar.

Pada persidangan lain, gugatan perdata Henry terkait pembatalan dalam akte jual beli antara Henry dengan Hermanto ditolak oleh Hakim Sigit Sutriono. Penolakan itu dikarenakan Henry tidak mampu membuktikan dalil-dalil permohonannya.nv/man

 

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post