Henry Gunawan Disebut “Artis Ganteng” yang Mahir Menipu

    36
    0
    Teguh Kinarto, mantan Direktur Utama PT Gala Bumi Perkasa saat menjadi saksi di persidangan Henry Gunawan, di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (20/11/2017). Saksi menyebut jika dirinya merasa ditipu dan dimanfaatkan oleh terdakwa Henry Gunawan.

    SIAGAINDONESIA.COM Sidang penggelapan dan penipuan yang menjerat Henry J Gunawan atas laporan Notaris Caroline C Kalampung kembali berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (20/11/2017).

    Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso menghadirkan tiga saksi, yakni Teguh Kinarto, Notaris Paulus, Widjijono Nurhadi. Ketiga saksi itu didengarkan keterangannya secara terpisah. Saksi Teguh Kinarto didengarkan terlebih dahulu, dilanjutkan Notaris Paulus dan terakhir Widjijono Nurhadi.

    Di hadapan majelis hakim yang diketuai Unggul Warso Mukti, Teguh Kinarto yang merupakan mantan Direktur Utama PT Gala Bumi Perkasa (GBP) menyebut jika dirinya merasa ditipu dan dimanfaatkan oleh Henry Gunawan.

    Teguh mengaku diminta terdakwa Henry untuk menandatangani akte jual beli tanah di Claket, Malang, dengan obyek properti sertifikat hak guna bangunan (SHGB) Nomer 66. Tanah tersebut rencananya akan dijadikan aset untuk PT GBP. Selanjutnya tanah akan dibangun rumah sakit dan hotel.

    Dari pembangunan rumah sakit dan hotel, Teguh Kinarto mendapat tawaran pembangunan obyek tanah dengan investasi sebesar 25%, dengan hitung-hitungan 10% untuk Widji, dan 15% untuk Teguh.

    Pada tanggal 12 Juni 2010 dibuatlah kesepakatan menaruh saham sebesar 15 persen atau setara kurang lebih Rp 1,2 milliar.

    Namun diakui Teguh, proyek tersebut akhirnya gagal karena ditolak bank. Hal yang menyebabkan proyek gagal, karena HGB itu belum dibalik nama oleh Hermanto. Dan pihak GBP ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual kembali SHGB No 66 milik Hermanto tanpa sepengetahuan yang bersangkutan kepada orang lain dengan harga Rp 10,5 miliar.

    Saat itulah Teguh mengaku kecewa dengan terdakwa Henry. Dia tidak tahu kalau tanah itu dijual kembali. “Seandainya saya tahu tanah tersebut sudah dijual pada bulan April 2010, tentu saya tidak mau menandatangani kesepakatan tersebut,” tegas Teguh.

    Teguh sendiri membantah mengenal Hermanto. Dia tahunya hanya disuruh untuk tandatangan akta jual beli (AJB) di mana PT GBP sebagai pemilik tanah. “Saya tahunya tanah itu milik PT GBP. Selama menjabat Dirut PT GBP, saya juga tidak tahu apa saja aset perusahaan. Dia (Henry) ini lebih tepat menjadi artis sinetron, karena sudah bohong. Saya merasa ditipu oleh Henry Gunawan yang luar biasa gagah dan ganteng, tapi tukang tipu,” tandas Bos PT Podo Joyo Mashyur tersebut.

    Teguh sendiri menjabat Dirut PT GBP terakhir pada April 2012. Selama menjabat Dirut, Teguh mengaku hanya untuk mengamankan modal. “Saya mau jadi Dirut karena untuk mengamankan modal saya yang masuk ke PT GBP,” terangnya.

    Nah, begitu dia diberhentikan Dirut PT GBP lewat RUPS bulan Maret 2012, namun sepanjang perjalanan saksi diminta menandatangani perjanjian antara PT GBP dengan PT Pembangunan Perumahan senilai Rp 245 miliar untuk proyek Pasar Turi. Padahal saksi tidak mengetahui keputusan pemberhentian tersebut.

    Dalam pembangunan Pasar Turi, posisi Teguh yang telah dipecat. Tapi dia justru ditawari untuk investasi pada proyek Pasar Turi. Proyek tersebut sempat gagal dan Teguh meminta terdakwa Henry untuk mengembalikan dana. “Saya dibayar pakai billyet giro, tapi blong, nilainya seratus dua puluh milliar dan masalah ini sudah saya laporkan ke Bareskrim Polri,” ujar saksi Teguh.

    Suasana sempat memanas ketika kesaksian Teguh dipotong penasehat hukum Henry. Saksi dengan nada lantang, “Sebentar! Sebentar!”

    Hakim Unggul lantas melerai keduanya. “Saya di sini punya hak menjelaskan secara rinci. Tidak terpotong-potong,” tegas saksi Teguh.

    Keterangan saksi Teguh kemudian dibantah oleh terdakwa Henry. “Tidak benar,” kata terdakwa Henry saat ditanya hakim Unggul terkait keterangan saksi.