Sidang Perdana Kasus Pasar Turi, 3.600 Pedagang Cemas Melawan Henry Gunawan

Hakim Rochmad: Selama 30 Tahun jadi Hakim Tidak Pernah Eksepsi Dibacakan Dua Minggu Setelah Pembacaan Dakwaan

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Kasus pidana penggelapan dan penipuan Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry J Gunawan terhadap 3.600 pedagang di Pasar Turi akhirnya disidangkan perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (30/11/2017).

Ya, Henry Gunawan kembali menjadi pesakitan dalam kasus yang sama. Sebelumnya dia disidang dengan kasus serupa yakni penipuan dan penggelapan sebesar Rp 4,5 miliar terhadap Notaris Caroline C Kalempung.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Surabaya, yakni Ali Prakoso dan Harwaedi disebutkan, Henry Gunawan dianggap telah menggelapkan dan menipu para pedagang Pasar Turi dengan modus memungut biaya sertifikat hak milik atas kios pedagang. Saat peristiwa itu terjadi Henry sebagai investornya.

Tidak main-main, mantan Ketua REI periode 2008-2011 tersebut dikenakan pasal berlapis. Terdakwa dianggap melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 tentang penggelapan.

“Perbuatan terdakwa Henry telah merugikan 19 orang para pedagang sebesar Rp 1.013. 944.000 (satu miliar, tiga belas juta, sembilan ratus empat puluh empat ribu rupiah),” sebut Jaksa Ali Prakoso.

Yang aneh, dalam dakwaan tersebut tim penasehat hukum Henry, yakni Sabron Jamil mengajukan eksepsi dua pekan mendatang, tepatnya Kamis, 14 Desember 2017.

Ketua Majelis Hakim Rochmad yang mendengar hal itu mengaku heran dengan sikap tim penasehat hukum terdakwa Henry. “Selama 30 tahun jadi hakim tidak pernah eksepsi dibacakan dua minggu setelah pembacaan dakwaan,” ucap Hakim Rochmad yang disambut aksi bungkam Sabron.

Terdakwa Henry beralasan penundaan eksepsi dikarenakan tim penasehat hukumnya berada di Jakarta dan berkas perkaranya terlalu banyak yang harus dipelajari. Eksepsi Henry akhirnya dikabulkan Hakim Rochmad.

“Iya sudah, sidang dilanjutkan Kamis, tanggal 14 Desember 2017 dengan agenda pembacaan eksepsi,” kata Hakim Rochmad sembari mengetukkan palunya sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Dari informasi yang dihimpun, Henry Gunawan juga mengajukan permohonan praperadilan kasus ini ke PN Jakarta Selatan. Namun belakangan permohonan praperadilan dicabut. “Saya tidak tahu kalau praperadilannya dicabut,” ujar Sabron saat dikonfirmasi awak media usai persidangan.

Sementara sehari jelang persidangan, para pedagang yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Turi mendatangi Kantor Komisi Yudisial (KU) Penghubung Jatim. Mereka meminta agar KY mengawasi jalannya persidangan kasus Pasar Turi.

I Wayan Titib Sulaksana, selaku tim kuasa hukum para pedagang mengatakan, kekhawatiran pedagang Pasar Turi akan tidak netralnya hakim saat menyidangkan kasus Pasar Turi ini cukup beralasan.

Mereka mengacu pada persidangan pidana Henry yang pertama. Di mana Unggul Mukti Warso selaku ketua majelis hakim perkara yang dilaporkan Notaris Caroline itu memberikan keistimewaan terhadap Henry.

“Istimewanya dijadikan tahanan kota tanpa melalui prosedur, Hakim mengabulkan pengangguhan penahanan Henry hanya berdasarkan permohonan lisan  karena sakit tapi tanpa ada pendapat dokter Rutan, tanpa menghadirkan dokter di peradilan, tanpa pembantaran,” ucap Wayan Titip, Rabu (29/11/2017).

Pihak KY Penghubung Jatim pun mengaku akan segera menanggapi laporan Persatuan Pedagang Pasar Turi tersebut dan akan meminta ijin ke KY Pusat untuk melakukan pengawasan persidangan kasus Pasar Turi ini.

“Besok kami upayakan. Paling lambat pada sidang kedua dan tentunya pada sidang  pembuktian saksi yang sangat penting dilakukan pengawasan,”ujar Dizar Alfarizi selaku koordinator penghubung KY Jatim saat menerima laporan Pedagang Pasar Turi.

Sebelumnya ratusan pedagang Pasar Turi mendatangi Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jalan Masjid Al-Akbar Timur no 9 Surabaya, Rabu 22 November 2017 sekitar pukul 08.45 WIB. Masalah yang dialami pedagang ini dianggap pelik.

PWNU, sebagai organisasi Islam terbesar, diharapkan bisa mendukung perjuangan pedagang untuk memperjuangkan haknya.

“Para pedagang ini mayoritas orang NU. Jadi kita kesini bertujuan untuk mengadu pada PWNU agar bisa membantu perjuangan para pedagang,” jelas Wayan.

Ditanya apakah ada unsur politik dengan cara mengadu ke PWNU? Dengan tegas pengacara berjenggot putih ini mengatakan tidak. “Tidak ada sama sekali unsur politik dalam pengaduan kami. Ini murni urusan memperjuangkan hajat hidup pedagang. Kami hanya meminta tolong ke Pengurus PWNU agar bisa membantu perjuangan kami di pengadilan,” jelasnya.

Karena PWNU tempatnya para ulama, Wayan berharap didoakan agar perjuangan ini diberikan kelancaran. “Para Kiyai ada di PWNU. Untuk itu kita juga meminta doa para ulama untuk para pedagang semoga diberikan kelancaran dalam perjuangan mereka,” pungkasnya.

Terpisah, salah satu pedagang H Bairi mengatakan, dia tidak akan pernah putus asa untuk bisa mendapatkan kembali haknya. “Kami bersama para pedagang yang terdzolimi akan terus memperjuangkan hak kami. Tidak ada kata menyerah untuk bisa menang,” katanya.

Dalam kasus Pasar Turi ini, Henry Gunawan tidak ditahan mengingat dia telah berstatus tahanan kota pada perkara pidana kasus penipuan dan penggelapan melawan Notaris Caroline C Kalampung.

Up Next

Related Posts

Discussion about this post