Andy, Caleg PSI Kagumi Kampung Kue di Surabaya

Comment

SIAGAINDONESIA.COM – Tak seperti umumnya kampung-kampung lain, warga Jalan Rungkut Lor Gang 2, Surabaya ini memiliki kegiatan rutin yang mendatangkan hasil. Mereka setiap hari membuat berbagai macam kue, baik kue basah juga kering hingga kemudian kampung ini berjuluk sentra penghasil kue yang cukup terkenal.

Masakan kue ala rumahan yang dihasilkan oleh warga itupun tak kalah dengan buatan pabrik atau perusahaan pembuat kue yang dengan peralatan canggih.

Di sebuah gang kecil padat penghuni yang masuk wilayah Surabaya Timur itu, mereka berkreasi di rumahnya masing-masing. Hasilnya, setiap pagi bahkan tengah malam telah banyak pembeli serta langganan yang mengantri mengambil kue pesanannya. Selebihnya, puluhan jenis varian kue yang dihasilkan juga diantar ke langganan tetap, yang rutin memesan.

Tak sulit mencari lokasi itu, di mulut kampung padat penduduk itu bertengger di gapura tertulis “Kampung Kue”.

Sehingga, kalau masuk ke lokasi ini pasti melihat gapura selamat datang di Kampung Kue.

Suasana kampung tak ubahnya kampung-kampung padat orang lain. Namun saat masuk ke sana, beberapa orang tampak sibuk membuat kue.

“Lagi buat kue ini, ada pesanan dari orang,” kata seorang ibu bernama Choirul Mahpuduah, Kamis (7/12/2017).

Memang suasana di Kampung Kue pada pagi hari, sangat sepi. Tidak seperti yang dibayangkan orang. Hanya ada sebagian orang yang sedang menggoreng dan membuat kue.

Denyut perekonomian dan transaksi di gang kecil ini sudah berlangsung sejak pukul 03.00 WIB. Suasana di sini akan nampak seperti pasar. Ada sekiar 65 orang pembuat kue berjejer di sepanjang kampung.

“Jika sampeyan datang pada pukul tiga dini hari, pasti akan merasakan suasana yang sesungguhnya,” tutur Pak Harno, yang mengaku sudah 35 tahun membuat kue.

Aroma khas dari pembuatan jajanan mulai dari gorengan hingga kue tradisional itu pun menyeruak ke hidung, terasa sedang jika siapa pun masuk kampung itu. Jika dilihat, sepanjang mata memandang, hampir semua warga di kompleks ini membuat kue. Maka tak heran jika komplek ini disebut kampung kue.

Di sudut lorong lainnya, ada juga para ibu yang mulai menata meja sebagai tempat mereka menjajakan kue. Sebagian juga terlihat ibu-ibu menjinjing keranjang berisi kue dan mulai menata di atas meja, sebuah lapak kecil sumber rezeki mereka.

Pembuat kue lainnya, Pariadi yang melakukan kegiatan itu sejak 16 tahun lalu itu dikenal dengan kue tradisional seperti putu ayu, risoles, lemper dan pisang landak. Semuanya dipatok dengan harga bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 2.000.

Sedikitnya ada 50 varian kue kering dan 50 varian kue basah. Dan dari banyaknya pembuat kue tersebut, kata Pariadi, hanya ada 6 orang saja yang telah mendapatkan sertifikat halal dari dinas terkait. Namun demikian, bukan berarti semua kue-kue yang dibuat warga Kampung Kue tidak berkualitas.

“Mereka belum mendapatkan ijin karena sibuk dengan banyaknya pesanan. Sehingga tidak sempat mengurus ijin. Kalau soal kualitas semua sama,” terangnya

Sementara, Andy Budiman, Caleg DPR RI Dapil Jatim I, Surabaya – Sidoarjo dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak dapat menyembunyikan kekagumannya saat bertandang ke Kampung Kue.

“Kampung Kue ini merupakan sebuah gambaran ekonomi masa depan. Saya melihat ekonomi yang baik sebagai masa depan bangsa. Dan yang namanya ekonomi masa depan bisa dilihat dari dua hal. Yang pertama networking atau jaringan dan kreativitas,” terang Andy.

Dia membeberkan, jaringan yang dibentuk warga Kampung Kue sudah berjalan dengan baik. Mereka dapat bekerjasama dengan industri-industri besar seperti Telkom, Bank Mandiri, dan lain-lain.

“Ini artinya network mereka telah berjalan. Mereka tidak hanya mendapatkan dari program CSR industri-industri besar, melainkan sudah merambah ke sosial media. Saya kira warga Kampung Kue berhasil menciptakan peluang bisnis yang sangat bernilai,” tambahnya.

Untuk kreativitas, sebut Andy, warga Kampung Kue sudah menunjukkan konsep ide yang luar biasa. “Ini adalah salah satu contoh kekuatan ekonomi mikro di mana mereka bisa bangkit dari yang dulunya kampung miskin, kini menjadi kampung berkekuatan ekonomis. Sangat inspiratif. Saya kira semua daerah, tidak hanya Jatim tapi Indonesia harus meniru ini,” imbuh Andy.

Ditambahkan Andy, saat ini warga Kampung Kue hanya butuh dorongan saja, baik dari pemerintah maupun swasta. Dari dasarnya yang sudah kreatif, bisa dikembangkan lagi menjadi besar.

“Mereka cuma butuh support saja. Seperti perbaikan packaging yang dibuat semenarik mungkin. Kemudian bagaimana menggunakan jaringan sosial media untuk memasarkan produknya,” lanjutnya.

Lanjutnya, tidak menutup kemungkinan warga pembuat kue ini bisa melakukan ekspor produk-produknya.

“Semua itu mungkin (ekspor). Kualitas dikuati. Pasar ditata mulai dari Surabaya, merambah ke luar kota, kemudian luar pulau. Dan terakhir luar negeri. Semua bisa dilakukan asal warga Kampung Kue dapat meningkatkan kreatifitasnya dengan baik, seperti menjaga kualitas jenis kue, membuat packaging menarik, hingga promosi,” serunya.

Mengaku kagum dan tidak bisa membayangkan betapa mandirinya warga Kampung Kue. Menurutnya, mereka bisa menciptakan sebuah lapangan pekerjaan sendiri tanpa harus menggantungkan hidup dari pemerintah.

Sejak berdirinya Kampung Kue, Pemerintah Kota Surabaya sama sekali tidak memiliki peran dalam terciptanya Kampung Kue. Pasalnya konsep Kampung Kue mengalir sesuai dengan situasi dan keadaan waktu itu. Dengan banyaknya warga yang membuat kue, maka pelan-pelan mereka mengumpulkan uang membentuk koperasi kecil-kecilan. Dari dana koperasi yang dikumpulkan, mereka mampu membeli alat pembuat kue secara bergiliran. Hingga berjalannya waktu, para pemesan mulai berdatangan termasuk industri-industri besar.

Sekitar 2-3 tahun belakangan, Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) meresmikan Kampung Kue sebagai salah satu wisata kuliner jajanan. Di sini kampung yang dulunya tidak dikenal mulai menjadi tersohor.

Kepedulian Risma terhadap Kampung Kue patut diacungi jempol. Kepada para koleganya, dia selalu memperkenalkan wisata Kampung Kue. Bahkan untuk pengurusan perijinan usaha maupun sertifikat halal bagi UMKM, Pemkot Surabaya tidak memungut biaya alias gratis.

“Saya melihat inilah kehebatan bu Risma. Dia sangat care pada dunia usaha kecil dan menengah. Kalau menurut warga sini, setiap kali Risma diundang pasti langsung datang. Tidak sekedar datang tapi bu Risma juga memberi motivasi ke warga. Cara Risma ini menurut saya sangat bagus, karena dia dapat membuka jaringan para UMKM ini ke beberapa perusahaan besar,” tutup Andy.Tji

Up Next

Related Posts

Discussion about this post