Andy, Caleg PSI Kagumi Kampung Kue di Surabaya

    26
    0

    SIAGAINDONESIA.COM – Tak seperti umumnya kampung-kampung lain, warga Jalan Rungkut Lor Gang 2, Surabaya ini memiliki kegiatan rutin yang mendatangkan hasil. Mereka setiap hari membuat berbagai macam kue, baik kue basah juga kering hingga kemudian kampung ini berjuluk sentra penghasil kue yang cukup terkenal.

    Masakan kue ala rumahan yang dihasilkan oleh warga itupun tak kalah dengan buatan pabrik atau perusahaan pembuat kue yang dengan peralatan canggih.

    Di sebuah gang kecil padat penghuni yang masuk wilayah Surabaya Timur itu, mereka berkreasi di rumahnya masing-masing. Hasilnya, setiap pagi bahkan tengah malam telah banyak pembeli serta langganan yang mengantri mengambil kue pesanannya. Selebihnya, puluhan jenis varian kue yang dihasilkan juga diantar ke langganan tetap, yang rutin memesan.

    Tak sulit mencari lokasi itu, di mulut kampung padat penduduk itu bertengger di gapura tertulis “Kampung Kue”.

    Sehingga, kalau masuk ke lokasi ini pasti melihat gapura selamat datang di Kampung Kue.

    Suasana kampung tak ubahnya kampung-kampung padat orang lain. Namun saat masuk ke sana, beberapa orang tampak sibuk membuat kue.

    “Lagi buat kue ini, ada pesanan dari orang,” kata seorang ibu bernama Choirul Mahpuduah, Kamis (7/12/2017).

    Memang suasana di Kampung Kue pada pagi hari, sangat sepi. Tidak seperti yang dibayangkan orang. Hanya ada sebagian orang yang sedang menggoreng dan membuat kue.

    Denyut perekonomian dan transaksi di gang kecil ini sudah berlangsung sejak pukul 03.00 WIB. Suasana di sini akan nampak seperti pasar. Ada sekiar 65 orang pembuat kue berjejer di sepanjang kampung.

    “Jika sampeyan datang pada pukul tiga dini hari, pasti akan merasakan suasana yang sesungguhnya,” tutur Pak Harno, yang mengaku sudah 35 tahun membuat kue.

    Aroma khas dari pembuatan jajanan mulai dari gorengan hingga kue tradisional itu pun menyeruak ke hidung, terasa sedang jika siapa pun masuk kampung itu. Jika dilihat, sepanjang mata memandang, hampir semua warga di kompleks ini membuat kue. Maka tak heran jika komplek ini disebut kampung kue.

    Di sudut lorong lainnya, ada juga para ibu yang mulai menata meja sebagai tempat mereka menjajakan kue. Sebagian juga terlihat ibu-ibu menjinjing keranjang berisi kue dan mulai menata di atas meja, sebuah lapak kecil sumber rezeki mereka.

    Pembuat kue lainnya, Pariadi yang melakukan kegiatan itu sejak 16 tahun lalu itu dikenal dengan kue tradisional seperti putu ayu, risoles, lemper dan pisang landak. Semuanya dipatok dengan harga bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 2.000.

    Sedikitnya ada 50 varian kue kering dan 50 varian kue basah. Dan dari banyaknya pembuat kue tersebut, kata Pariadi, hanya ada 6 orang saja yang telah mendapatkan sertifikat halal dari dinas terkait. Namun demikian, bukan berarti semua kue-kue yang dibuat warga Kampung Kue tidak berkualitas.

    “Mereka belum mendapatkan ijin karena sibuk dengan banyaknya pesanan. Sehingga tidak sempat mengurus ijin. Kalau soal kualitas semua sama,” terangnya

    Sementara, Andy Budiman, Caleg DPR RI Dapil Jatim I, Surabaya – Sidoarjo dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak dapat menyembunyikan kekagumannya saat bertandang ke Kampung Kue.

    “Kampung Kue ini merupakan sebuah gambaran ekonomi masa depan. Saya melihat ekonomi yang baik sebagai masa depan bangsa. Dan yang namanya ekonomi masa depan bisa dilihat dari dua hal. Yang pertama networking atau jaringan dan kreativitas,” terang Andy.