Bukan Meringankan, Ahli Pidana Unpar Telanjangi Unsur Pidana Henry Gunawan

Lanjutan Kasus Penggelapan dan Penipuan Jual Beli Tanah di Celaket, Malang

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Ahli pidana yang dihadirkan oleh Henry J Gunawan, terdakwa kasus penggelapan dan penipuan jual beli tanah di Celaket, Malang, bukannya meringankan melainkan justru menjadi bumerang.

Kehadiran Lektor Kepala Program Studi Hukum Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) Bandung, C. Djisman Samosir, SH, MH, sebagai saksi dalam persidangan diruang candra, PN Surabaya, Rabu (3/1/2018), membuat kubu Henry Gunawan tidak berkutik.

Keterangan Djisman yang digadang-gadang akan mampu meloloskan Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso, membuat terdakwa Henry dan tim penasehat hukumnya terjebak atas pertanyaannya sendiri.

Henry melalui tim pembelanya membedah tentang unsur pasal penggelapan dan penipuan yang didakwakan jaksa. Pertanyaan demi pertanyaan kemudian dilemparkan pada Djisman.

Dalam fakta persidangan yang terungkap sebelumnya, terdakwa Henry telah menjual objek tanah milik Hermanto melalui penguasaan sertifikat tanah yang dipinjam ke Notaris Caroline C Kalempung (pelapor) dengan dalih mau diperpanjang, akan tetapi sertifikat tersebut justru dibalik nama oleh terdakwa Henry dan dijual ke orang lain.

Nah, pertanyaan yang dilempar ke Djisman bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, namun pertanyaan dalam bentuk ilustrasi itu malah menelanjangi Henry Gunawan.

“Dalam hal ini, si pelaku menguasai barang yang bukan haknya, di mana dilakukan dengan sengaja dan mengetahui kehendaknya,” terang Djisman.

Penggelapan juga bisa diartikan, kata Djisman, penyalahgunaan dari barang yang dipinjam atau disewa. “Jadi ada unsur yang dipenuhi, yakni ada tindakan salah yang dilakukan dengan sengaja dan ada penguasaan atas barang tersebut,” sambung Djisman.

Sementara unsur penipuan itu, Lanjut Djisman, dilakukan pelaku dengan menggunakan nama palsu, martabat palsu dengan tipu muslihat merugikan orang lain, yang dengan sengaja untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan rangkaian kata-kata bohong akan menggerakkan hati orang lain untuk menyerahkan barang miliknya.

“Kalau salah satu masuk maka itu masuk dalam unsur penipuan. Artinya ada perbuatan nyata si pelaku,maka korban menjadi tergerak untuk menyerahkan barang,” terang Djisman.

Ditambahkan Dijsman, Henry juga dapat diminta pertanggungjawaban hukum atas tindakannya yang telah menyuruh bawahannya untuk meminjam sertifikat ke Notaris Caroline.

“Pelaku bisa diartikan melakukan, turut melakukan, yang nyuruh melakukan dan yang mengambil atau menyimpan barangnya hasil kejahatan. Tapi beda pertanggung jawaban kesalahan dalam perbuatannya,” jelas Djisman menjawab pertanyaan tim penasehat hukum terdakwa Henry secara ilustrasi kasus.

Sementara ganti JPU bertanya dengan pertanyaan serupa. Dijsman menjawab, unsur pidana penggelapan akan terpenuhi apabila pelaku menguasai barang yang bukan miliknya dengan tipu daya.

“Contohnya, bukan Komisaris tapi ngaku komisaris dan kebohongan itu cukup satu kali saja dilakukan atas dasar kedudukan, martabat, sifat palsu dan berbohong untuk membuat orang lain tergerak maka sudah masuk unsur pidana,” jawab Djisman menjawab pertanyaan Jaksa Ali Prakoso di akhir persidangan.

Seperti diketahui, Henry J Gunawan adalah terdakwa kasus penggelapan dan penipuan jual tanah senilai Rp 4,5 miliar. Bos PT GBP ini dilaporkan Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu, Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10,5 miliar.nv/man

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post