Beranda featured Jokowi Dikelilingi Para Jenderal

Jokowi Dikelilingi Para Jenderal

36
0
Presiden Jokowi saat melantik Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).

SIAGAINDONESIA.COM Sebagian pendukung kepengurusan Partai Hanura versi Hotel Ambhara, yang dipimpin duet Daryatmo dan Sudding, meyakini partainya bakal dipimpin oleh Jenderal (Purn) Muldoko. Sayangnya, eks Panglima TNI itu malah dilantik Presiden Jokowi sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki.

Selain Moeldoko, sebagian pihak di kubu tersebut juga berharap Jenderal (Purn) Wiranto kembali menduduki posisi Ketua Umum Hanura. Tapi, Wiranto dengan tegas sudah mengatakan akan fokus dengan tugasnya sebagai Menkopolhulam.

Ya, kehadiran Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), menambah deretan ‘bintang’ TNI yang berada di lingkaran Presiden Jokowi. Menurut Moeldoko yang baru saja jadi Kepala Staf Kepresidenan, hal ini semakin baik untuk membuat keputusan.

Di awal pembentukan Kabinet Kerja, Jokowi menunjuk 2 purnawirawan TNI untuk masuk kabinet yaitu Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno sebagai Menko Polhukam dan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu sebagai Menhan. Belakangan, Tedjo dicopot dari jabatannya pada Agustus 2015.

Tedjo digantikan oleh sesama purnawirawan TNI yaitu Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Panjaitan. Pada Juli 2016, Luhut digeser menjadi Menko Kemaritiman sementara kursi Menko Polhukam diduduki oleh Jenderal TNI (Purn) Wiranto.

“Saya pikir sesuatu kalau bervariasi akan lebih indah dilihat. Kan begitu saja. Jadi semakin bervariasi, pasti banyak hal yang–apa ya–kalau kita membuat keputusan itu mesti banyak berbagai pertimbangan,” ungkap Moeldoko usai serah terima jabatan di Gedung Bina Graha, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2018).

Moeldoko berpikir bahwa semakin banyak orang, maka semakin banyak pula masukan untuk membuat keputusan. Namun ia enggan menilai apa maksud Jokowi menambah purnawirawan TNI di kabinetnya.

“Saya tidak bisa menilai Presiden. Intinya siapapun yang diberi kepercayaan oleh presiden, sebuah kehormatan yang harus dijalankan,” kata Moeldoko.

Masuknya Jenderal di sekeliling Jokowi diyakini bukan tanpa maksud tertentu. Pasalnya, ini dinilai sebagai modal Jokowi meningkatkan daya tawar politik di hadapan lawan politiknya menjelang Pilpres 2019. Langkah ini untuk memperkuat posisinya sebagai inkumben yang akan mencalonkan kembali. Sebab dengan begitu, publik akan ditunjukkan bahwa ia tak hanya didukung oleh masyarakat sipil tapi juga TNI. Apalagi tingkat kepercayaan rakyat terhadap TNI amat tinggi.

Pengamat politik Peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) Siti Zuhro meyakini, pengangkatan purnawirawan jenderal ini bisa menjadi sinyal dari Presiden Jokowi untuk merespons kekuatan oposisi Gerindra, PKS, dan PAN. Apalagi selama ini Prabowo juga dikelilingi oleh jenderal.

“Tentunya karena ketua umumnya Gerindra yang mantan jenderal itu, dalam kemunculan calon-calon di Pilkada juga mereka banyak mengusung para Jenderal TNI. Belum lagi di struktur partainya banyak jenderal juga, hal itu juga harus ditimpali Jokowi dengan hal yang sama,” ujarnya.
Menurut Siti, para jenderal itu disiapkan Jokowi sebagai lawan tanding yang setara bagi koalisi Prabowo. Mereka dianggap sebagai sarana untuk melawan dan mengacak-acak kekuatan koalisi Prabowo di 2019.

“Jadi posisi Jokowi sebagai calon incumbent itu harus menghadirkan lawan tanding yang setara untuk political bargaining yang memberikan efek politik mengacak-acak (koalisi Gerindra, PKS dan PAN), hingga tak gentar lagi sebagai incumbent untuk maju lagi,” ujarnya.