Gaya Rambut Pasha ‘Ungu’ Tidak Etis

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Sigit Purnomo atau dikenal Pasha ‘Ungu’ disorot publik. Pasalnya, sebagai wakil wali kota Palu itu dinilai tidak memiliki wibawa sebagai pejabat publik.

Hal ini lantaran penampilan terbarunya yang dianggap banyak netizen tak pantas. Gaya rambut Pasha yang dikuncir itulah yang menjadi sorotan.

Dalam foto tersebut, terlihat Pasha masih mengenakan pakaian pejabat.

Namun rambutnya terlihat di kucir ke belakang dengan mengenakan karet gelang.

Melihat hal ini, banyak netizen yang menganggap penampilan terbaru Pasha ini tidak pantas bagi seorang pejabat.

Karena para netizen ini khawatir akan ditiru oleh masyarakat yang lain.

@fajariasyamsiar: “Walikota ga ad wibawanya.”

@prelovedjktstory: “Back to basic. Anak band jadi walkot ya gini deh. Heran lagian, bisa ya orang pilih yg gaada background politiknya sama sekali.”

@vsweety.childs: “Kok boleh sih? Ga ada wibawanya sama skali.”

@stefy.el: “Boleh sih boleh. Cuma gk ada wibawanya.”

Ya, banyak yang menilai jika Pasha belum pantas untuk terjun ke dunia politik. Pasha ternyata tak bisa melepas posisinya sebagai vokalis di band Ungu. Bahkan beberapa waktu lalu, Pasha sempat kena tegur DPR karena dirinya menggelar konser di Singapura.

Terkait dengan penampilan Pasha ini, terjadi kesimpangsiuran di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kepala Pusat Penerangan Kemdagri Arief M Edie, Senin (22/1/2018), gaya rambut Pasha dinilai tidak etis sebagai kepala daerah. Sebab gaya berpakaian menjadi salah satu poin yang diatur dalam Undang-Undang (UU).

“Ada UU Aparatur Sipil Negara di nomor 5 tahun 2014, kemudian Permendagri nomor 6 tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Mendagri Nomor 60 tahun 2007 tentang Pakaian Dinas PNS di lingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Pusat,” sebut Arief.

Dalam bab II UU No 5 tahun 2014 dijelaskan mengenai asas, prinsip, nilai dasar, serta kode etik dan kode perilaku ASN. Salah satu poin yang tercantum di pasal 4 adalah soal memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur dan memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, dan berdaya guna, berhasil guna dan santun.

“Ada poin kata etika dan santun dalam pasal tersebut. Mengenai rambut, rapi dan sopan,” lanjut Arief.

Ia menjelaskan kategori rapi dan sopan adalah rambut tidak menutupi telinga, bagian rambut belakang tidak menyentuh kerah baju, dan rambut atas tidak menutup mata. Arief kemudian mengkritik soal rambut Pasha yang dikucir atas.

“Untuk penggunaan kuncir atau cukur gundul tidak seimbang menurut saya tidak rapi. Karena kerapian itu seimbang, kalau separuh gundul, separuh panjang menimbulkan pertanyaan,” sambungnya.

Arief juga menyatakan gaya rambut Pasha yang dipotong dengan gaya skin fade dan dikucir itu tidak pas. Sebagai kepala daerah, Pasha dinilai malah menimbulkan konflik dengan gaya rambutnya itu.

“Peraturan permendagri yang mengatur pakaian dinas PNS, yang coklat sesuai dengan ketentuan, hanya rambut memang tidak pas di depan publik. Tidak pas ketika dia jadi panutan masyarakat dia bikin konflik, karena konflik kepentingan, kan lain-lain harus rapi dia malah gondrong dikucir itu kan identik dengan rambut perempuan,” paparnya.

Namun hal ini berbeda dari pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo.  Tjahjo mengatakan seragam dinas dan tanda jabatan yang dipakai Pasha ‘Ungu’ sudah benar. Ia juga tidak mempermasalahkan soal rambut Pasha yang dikuncir.

“Menurut saya, Pasha sebagai kepala daerah, dari foto yang beredar, tidak menyalahi UU atau peraturan. Seragam sudah benar, potongan rambut wajar, mau cepak atau mau gundul, sah-sah saja. Yang diatur tidak boleh gondrong atau panjang,” ujar Tjahjo kepada wartawan, Senin (22/1/2018).

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post