Tanah Milik Puskopkar yang Diserobot Henry Gunawan Tidak Laku Dijual

    96
    0
    Bos PT Gala Bumi Perkasa Henry Gunawan saat hendak menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Oleh Puskopkar Jatim, Henry Gunawan dianggap telah menyerobot tanahnya seluas 24 hektar untuk dijadikan pergudangan.

    SIAGAINDONESIA.COM Bos PT Gala Bumi Perkasa Henry Gunawan tidak hanya sekali terlibat sengketa tanah. Saat ini di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Henry Gunawan harus menghadapi Notaris Caroline C Kalampung dengan tuduhan penggelapan dan penipuan jual tanah senilai Rp 4,5 miliar.

    Kasus lain yang masih proses sidang, Henry Gunawan juga dituding telah melakukan penggelapan dan penipuan terhadap 3.600 pedagang di Pasar Turi. Untuk kasus Pasar Turi, Henry dibantu pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra.

    Sementara pada kasus lain, Henry melawan Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) Jatim. Sayangnya, kasus penyerobotan tanah milik Puskopkar Jatim seluas 24 hektar di Desa Pranti, Juanda, Jawa Timur ini, hingga kini mandek di tengah jalan.

    Dari pihak Henry Gunawan, Puskopkar Jatim, dan Reny Susetyowardhani, hingga kini tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sengketa lahan tersebut.

    Ketua Puskopkar Jatim Tri Harsono mengatakan, sampai saat ini pihaknya masih terus berjuang untuk mempertahankan aset milik 2,9 juta karyawan dan anggota Puskopkar yang menjadi jaminan kredit Bank BTN senilai Rp 24 miliar dan telah diserobot Henry Gunawan.

    “Statusnya masih quo (tanpa kepemilikan). Meski Henry Gunawan membangun puluhan pergudangan, tapi sampai sekarang tempat itu tidak bisa dijualbelikan atau dipindahtangan ke pembeli. Ini adalah bentuk perjuangan kami,” terang Tri Harsono saat dikonfirmasi di kantornya, Senin (29/1/2018).

    Ditambahkan Tri Harsono, dari pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Pemkab Sidoarjo juga tidak berani membuatkan sertifikat atas lahan tersebut. Sehingga banyak pembeli yang ragu membeli pergudangan tersebut. “Masalahnya statusnya masih konflik. Jadi kalau Henry memang ngotot menyerobot, ya terima saja akibatnya,” tegasnya.

    Dari pantauan di lapangan, sebagian tanah seluas 24 hektar di Desa Pranti, Juanda, telah dibangun puluhan pergudangan. Namun hingga kini penggarapannya mandek karena tidak satu pun yang bersedia membeli lahan sengketa tersebut. Entah sudah berapa miliar Henry Gunawan membangun pergudangan tersebut.

    Sebagian tanah milik Puskopkar Jatim seluas 24 hektar di Desa Pranti, Juanda, telah dibangun puluhan pergudangan. Namun hingga kini penggarapannya mandek karena tidak satu pun yang bersedia membeli lahan sengketa tersebut.
    Sebagian tanah milik Puskopkar Jatim seluas 24 hektar di Desa Pranti, Juanda, telah dibangun puluhan pergudangan. Namun hingga kini pembangunannya mandek karena tidak satu pun pembeli yang bersedia membeli gudang dari lahan sengketa tersebut.

    Bahkan pada tahan awal dibangun pergudangan, PT Gala Bumi Perkasa dan PT Permata Inti sebagai pengembang (milik Henry Gunawan), telah memasang iklan jor-joran di koran harian terbitan Surabaya secara berturut-turut pada 17 Februari 2015. Hari pertama, iklan satu halaman warna, dan hari berikutnya iklan advetorial setengah halaman.

    Iklan PT Gala Bumi Perkasa di koran tersebut sebenarnya telah menginjak-injak hukum. Sebab lahan itu diiklankan untuk ditawarkan komersial kepada publik bahwa akan dibangun pusat pergudangan komersial dan pusat industri modern di kawasan Juanda, menurut BPN Kanwil Jatim masih bersengketa alias quo.

    “Ya itulah cara kerja (mafia) Henry. Dia telah menyerobot tanah kami dan membangunnya. Tapi kami tidak tinggal diam. Kami terus melawan. Puskopkar memang belum berhasil merebut tanah itu, tapi kami berhasil menghentikan penjualan pergudangan,” ujar Tri.

    Kasus penyerobotan tanah milik Puskopkar yang dilakukan Henry Gunawan, sebenarnya sudah dibawa ke ranah hukum. Pihak Puskopkar telah melaporkan Renny Susetyowardhani yang disebut sebagai kaki tangan Henry Gunawan ke Polda Jatim. Secara perdata Henry Gunawan juga telah dilaporkan ke Kejati Jatim. Kepala BPN Sidoarjo juga dilaporkan ke Polres atas dugaan pemalsuan akta bidang dan berkongkalikong dengan Henry Gunawan. Namun semua laporan itu sia-sia. Aparat penegak hukum seolah tidak berkutik melawan Henry.