Beranda Headline Terindikasi Korupsi Besar-besaran, Anis-Sandi Sangat Layak Evaluasi PT PJA

Terindikasi Korupsi Besar-besaran, Anis-Sandi Sangat Layak Evaluasi PT PJA

18
0
Pemerintahan Anis-Sandi segera melakukan evaluasi kinerja BUMD DKI Jakarta. Evaluasi ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pembenahan tata kelola BUMD. Salah satu kinerja BUMD yang paling disorot karena kinerjanya buruk dan terindikasi korupsi adalah PT PJA dan PT JakPro.

SIAGAINDONESIA.COM Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyatakan, bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini telah memulai proses evaluasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta. Evaluasi ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pembenahan tata kelola BUMD yang dimiliki oleh DKI Jakarta.

“Tentunya Pemprov akan melihat kinerja mereka satu persatu, sebagai evaluasi untuk menentukan langkah (kebijakan) apa yang akan diambil nantinya. Namun, pastinya langkah strategis ini memerlukan waktu. Jadi, warga DKI saya mohon untuk mau bersabar dulu,’’ terang Sandi, di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Senin (28/1/2018).

Sejauh ini, menurut Sandi yang berlatar belakang pengusaha sukses dan identik dengan penggagas program kerakyatan OKE OCE ini, upaya evaluasi sudah dilakukan pemprov melalui kajian beberapa BUMD, seperti  evaluasi pada PT MRT Jakarta. Interaksi serupa dipastikan juga akan dilakukan pada semua BUMD besar lainnya, terutama BUMD yang berpotensi mendukung kinerja pemerintah serta memberi kontribusi besar pada PAD DKI, namun progresnya tidak sesuai harapan.

“Sudah pasti kajian evaluasi ini bertujuan untuk menata kelola kembali BUMD agar kinerjanya professional dan dinamis. Artinya, kalau ada permasalahan pada BUMD ya harus diperbaiki. Apalagi jika ada penyakit yang mengarah kronis, bisa dirampingkan,” terang Sandi memberi warning bagi BUMD yang dimaksud.

Saat dikonfirmasi awak media, BUMD mana saja yang dimaksud, Sandi enggan menyebutkan. Namun saat didesak apakah PT JakPro (PT Jakarta Propertindo) dan PT PJA (PT Pembangunan Jaya Ancol) termasuk dalam BUMD yang dievaluasi, Sandi hanya menjawab dengan tersenyum.

Seperti diketahui, Pantai Impian Jaya Ancol merupakan salah satu destinasi pariwisata taman dan pantai milik Pemprov DKI. Menempati  kawasan terintegrasi seluas 552 hektare, kawasan Ancol meliputi pengelolaan kawasan pariwisata–rekreasi dan resor– dan kegiatan usaha penunjang: entertainment, konvensi dan wisata belanja.

Destinasi pariwisata pantai yang sudah lama dikenal masyarakat dan menjadi saksi sejarah kemegahan live show artis-artis berkelas internasional yang menghibur puluhan juta pengunjung  di tempat ini–sepanjang  tahun– dan memberi kontribusi besar pemasukan bagi PJA.

Tentu kita tidak lupa dengan konser Jeniffer Lopez alias JLo (2012),  Iron Maiden (2001), Loudness (2009), Gun & Roses (2004) hingga Helloween (2011).

Lalu mengapa Ancol saat ini tidak semegah dan seramai dulu? Kemana kemegahan konser berkelas internasional yang pernah hadir meramaikan Ancol hingga menyedot puluhan juta pengunjung?

PJA sendiri saat ini merupakan pengelolanya dan sudah go public sejak 2 Juli 2004 dengan kepemilikan saham 72% oleh Pemda DKI Jakarta dan 18% oleh PJA dan 10% masyarakat. Dalam tiga tahun terakhir laporan keuangan PJA mengalami kemeroson dalam perolehan keuntungan hingga masuk periode zona BUMD DKI dengan kinerja terburuk.

Berdasarkan data hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT PJA yang digelar di Hall Candi Bentar, Putri Duyung, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (25/5/2017), menunjukkan buruknya kinerja perusahaan plat merah ini.

Segmen rekreasi masih menjadi tulang punggung bisnis perseroan dan mendominasi pemasukan PJA, yakni sebesar 84,23% dari pendapatan di tahun 2016. Sedang pendapatan dari segmen rekreasi dan resor berkisar diangka 16,21% dari Rp. 930,30 Milyar di tahun 2015 menajdi Rp 1,080 triliun di Tahun 2016. Adapun jumlah pengunjung dari 17,8 juta di tahun 2016 menjadi 18,08 juta di tahun 2017.

Dengan demikian per 31 Desember 2016, pendapatan yang berhasil dibukukan perseroan hanya sebesar Rp 1,248 triliun, tumbuh 13,44% dari realisasi tahun 2015 sebasar Rp 1,131 triliun.  Namun laba perseroan mengalami penurunan drastis alias anjlok Rp. 291 miliar ditahun 2015 menjadi Rp. 131 miliar di tahun 2016.