Terbongkar, Begini Modus Henry Gunawan Kelabui Pedagang Pasar Turi

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan terdakwa Henry J Gunawan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (31/1/2018).

Ketua Perhimpunan Pedagang Pasar Turi Baru (P3TB), Muhammad Taufik Al-Djufri dihadirkan Jaksa Penuntut Umum sebagai saksi. Pria yang akrab dipanggil Taufik ini membeberkan sejumlah bukti tipu daya bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) itu untuk meraup keuntungan pribadi pasca kebakaran Pasar Turi.

Pasca kebakaran Pasar Turi, PT GBP memenangkan tender pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi Baru dari Pemkot Surabaya. Dalam membangun dan mengelola Pasar Turi Baru, jelas Taufik, Henry mengumpulkan para pedagang di Hotel Mercure sebanyak dua kali. Tepatnya pada 26 Februari 2013 dan 4 Maret 2013.

Dalam pertemuan tersebut, Henry memberi janji manis kepada para pedagang. Terdakwa berjanji akan membuat semua pedagang kaya raya dengan membeli stand baru Pasar Turi. Terdakwa juga berjanji akan memberi sertifikat starta title yang nilainya di atas Rp 1 miliar dan bisa diagunkan ke bank.

“Dari iming-iming itu saya (pedagang Pasar Turi) bersedia membayar lunas kewajiban saya sebagai pembeli stand, di antaranya sertifikat senilai Rp 10 juta, BPHTB 5 persen dari harga stand, biaya notaris Rp 1,5 juta dan PPN 10 persen serta dilanjutkan PPJB dengan PT GBP,” terang Taufik saat bersaksi.

Seiring berjalannya waktu, janji-janji Henry Gunawan tidak kunjung terealisasi. Hingga akhirnya pada pertengahan 2014, para pedagang wadul ke Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) untuk menanyakan status sertifikat strata title tersebut.

Yang membuat kaget pedagang, Risma mengatakan bahwa pedagang Pasar Turi Baru tidak bisa mendapatkan hak stata title itu. “Kami langsung ditemui Bu Risma, tapi apa yang dijanjikan terdakwa Henry terkait status starta title itu tidak benar dan mengapa kok tetap saja dijual, padahal itu belum menjadi haknya, sebab baru HGB atas HPL,” kata Taufik.

Atas keterangan Risma itu, saksi Taufik bersama para pedagang kemudian mendatangi kantor PT GBP untuk mengklarifikasi keterangan Risma.

Apa yang terjadi? Dengan seenaknya terdakwa Henry mengusir saksi Taufik dan para pedagang untuk keluar dari kantornya. “Dia bilang, sudah gak usah ngurusin strata title bukan urusanmu, keluar…keluar…” tandas Taufik menirukan gaya Henry.

Di sini para pedagang merasa telah ditipu mentah-mentah oleh Henry Gunawan. Pasalnya, mereka telah menyetor sejumlah uang demi merealisasi janji-janji Henry Gunawan.

Sayangnya, keterangan saksi Taufik dibantah oleh terdakwa. Dia mengaku tidak pernah mengenal dan bertemu (para pedagang) di kantornya serta tidak pernah mengatakan hal-hal yang disampaikan saksi. Bahkan Henry bertanya balik ke saksi Taufik apakah tiap bulan ada pembayaran pajak dan pembayaran listrik.

“Belum menjadi kewajiban saya untuk membayar, karena belum diserah terimakan,” sahut Taufik menjawab pertanyaan Henry.

Taufik menambahkan, PPN yang dibayarkan ke PT GBP tidak pernah diberikan bukti tanda terima pembayaran pajak. Tapi Henry justru balik bertanya jika dirinya tidak pernah diminta, makanya tidak diberikan ke saksi. “Wong gak minta kok,” cetus Henry yang langsung disoraki pengunjung sidang.

Karena merasa tidak pernah menerima bukti pembayaran pajak tersebut, saksi Taufik akhirnya bertanya lisan ke kantor pajak. Ternyata diketahui PT GPB belum pernah meyetorkan atas PPN jual beli stand yang dibeli saksi maupun pedagang lainnya. “Orang pajaknya nunjukan bukti, kalau memang pajaknya belum pernah disetorkan,” imbuh Taufik di akhir keterangannya.

Seperti diketahui, Taufik adalah salah satu korban tipu gelap terdakwa Henry yang telah membeli sejumlah stand di Pasar Turi Baru. Dia membeli 9 stand dan sudah dibayar lunas sebanyak 8 stand senilai Rp 2,3 miliar, belum termasuk biaya pungutan sertifikat hak kepemilikannya, senilai Rp 338 juta.

Tak hanya Taufik, terdakwa Henry juga menipu 20 orang pedagang Pasar Turi Baru lainnya, yang sudah membayar lunas dari kewajiban mereka. Tak tangung-tanggung, hasil penipuan dengan modus biaya pungutan sertifikat hak milik atas kios pedagang yang didapat terdakwa Henry mencapai Rp 1.013. 944.000 (satu miliar, tiga belas juta, sembilan ratus empat puluh empat ribu rupiah).

Atas perbuatannya terdakwa Henry Gunawan kini didakwa JPU telah melanggar pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 tentang penggelapan.nv/man

Up Next

Related Posts

Discussion about this post