Henry Gunawan Terjebak Pertanyaan Kuasa Hukumnya Soal Utang Piutang

Kasus Penggelapan dan Penipuan Jual Beli Tanah

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Henry J Gunawan atas jual beli tanah di Celaket, Malang, kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (5/2/2018).

Dalam sidang, Henry Gunawan mengaku meminjam uang sebesar Rp 5 miliar dari Heng Hoek Sui dan diakui sebagai utang piutang.

Namun Henry tak bisa berkelit saat salah satu dari tim kuasa hukumnya menanyakan bukti formal atas klaim pengakuan hutang piutang tersebut, Henry mengaku bahwa kesepakatan itu hanya dituangkan dalam kesepakatan lisan.

“Uang Rp 5 miliar itu utang piutang antara saya dengan Hoek Sui.” kilah Henry dihadapan ketua Majelis Hakim Unggul Warso.

Ketika disinggung terkait timbulnya Ikatan Jual Beli (IJB), Henry justru malah memberikan jawaban sekenanya. “Saya tidak kenal dengan Hermanto. Utang piutang itu atas nama pribadi bukan PT, cuma kesepakatan lisan, saya biasa gitu pak sejak dia (Hoek Soei) membeli pabrik saya pada tahun 1984,” terang Henry.

Bahkan jawaban selanjutnya yang dilontarkan Henry terkesan ngelantur, bahkan membias dari dakwaan JPU. “Pada tahun 2010 dia (Hoek Sui) mulai merancang sesuatu yang saya tidak tau. Saya lihat semua akte gak jelas, ini saya mau ajukan pembatalan,” imbuhnya.

Dalam keterangan saksi Hoek Sui sebelumnya dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Hoek Sui bercerita bahwa dirinya ditawari dua (2) obyek properti oleh Henry dan salah satu dari obyek yang ditawarkan oleh Henry adalah SHGB Nomer 66.

Setelah melihat luas tanahnya, Hoek Sui mengaku tidak tertarik dengan obyek properti yang ditawarkan oleh Henry. Hoek Sui kemudian menawarkan obyek SHGB no 66 itu pada Hermanto, hingga akhirnya terjadilah kesepakatan jual beli dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,5 miliar dengan rincian Rp 5 miliar untuk obyek properti yang ada di jalan Tengku Umar Surabaya dan Rp 4,5 miliar untuk obyek SHGB Nomer 66 yang ada di Malang.

”SHGB No 66 yang berada di Malang senilai Rp 4,5 miliar dan yang di Tengku Umar Rp 5 miliar,” ujar Hoek Sui.

Hermanto sendiri adalah keponakan dari Heng Hoek Sui. Karena dirinya belum memiliki uang, Heng Hoek Sui mengaku dialah yang menghandle transaksi pembayarannya dari Hermanto pada Pihak GBP.

Masalah kemudian muncul, SHGB yang saat itu dipegang oleh Notaris Caroline C Kalampung untuk dilakukan administrasi proses balik nama ternyata dibawa oleh Yuli, dengan dalih dipinjam sementara untuk dilakukan pengurusan perpanjangan SHGB.

Yuli sendiri diketahui menjabat sebagai legal di perusahaan PT Gala Bumi Perkasa (PT GBP).
Nah, karena SHGB itu belum di balik nama, pihak PT GBP ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual kembali SHGB No 66 milik Hermanto.

Dari informasi yang dihimpun, pihak PT GBP menjual kembali obyek properti SHGB Nomer 66 milik Hermanto itu kepada orang lain dengan harga sebesar Rp 10 miliar.

Atas semua kejadian itu Notaris Caroline C Kalampung Akirnya melaporkan Henry J Gunawan pada Polisi karena dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas transaksi jual beli properti ilegal itu.

Setelah dilakukan penyelidikan dan mengumpulkan alat bukti, penyidik Polrestabes Surabaya menetapkan Henry J Gunawan sebagai tersangka.

Perkara Bos Pasar Turi itu kemudian bergulir ke Pengadilan, JPU menjerat Henry dengan dakwaan melanggar pasal 372 jo 378 tentang dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Henry pun terancam hukuman maksimal 4 tahun penjara.

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post