Beranda News Dirut PT Energy 9 Benyamin Ellyas Jadi Target DPO

Dirut PT Energy 9 Benyamin Ellyas Jadi Target DPO

89
0

SIAGAINDONESIA.COM Konser DJ internasional bertajuk “The Ocean of White” di ICE BSD City, Tangerang, baru sepekan lalu berlalu. Performance sederet musisi dance elektronik internasional juga tidak lagi membekas dan diperbincangkan.

Sebaliknya, kabar puluhan pekerja asing ilegal dibalik konser tersebut, masih melekat dan menjadi pembicaraan banyak kalangan. Nama Benyamin Ellyas dan PT. Energi 9 disebut-sebut yang bertanggung jawab atas 20 orang pekerja asing ilegal di balik konser tersebut. Mereka sengaja didatangkan langsung dari Singapura untuk menset uppanggung konser, sound, lighting dan multi media peralatan PT. Show Tech. Pte. Ltd Singapore yang masuk ke Indonesia secaradoor to door melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

PT. Sow Tech pasti menghindari publikasi terkait peralatan yang dikirim ke Indonesia dengan 8 kontainer tersebut, karena berharga mahal. Diperkirakan harganya mencapai Rp. 120 miliar. Dengan besaran harga tersebut PT. Show Tech Pte. Ltd seharusnya membayar bea masuk (PPN 10% + PPJK 10%) ke kas negara sekurangnya Rp. 24 miliar. Mustahil mereka membayar sebesar itu, dan u besar kemungkinan masuk melalui jalur ‘bawa tangan’  untuk lolos dari pelabuan.

Benyamin Ellyas –biasa disebut Ellyas–selaku Direktur Utama PT. Energi 9, sebuah perusahaan yang baru beroleh SK Menkumham pada 4 juli 2017, juga disebut sebut bekerjasama dengan PT. Show Tech Pte. Ltd Singapore, karena menyadari namanya sudah backlist dikalangan vendor peralatan konser di tanah air akibat banyakngemplang alias tidak bayar. Bahkan, Ellyas pernah menjual sejumlah peralatan konser  senilai miliaran rupiah milik sebuah perusahaan di Jakarta, dan pembayarannya  langsung masuk ke rekening pribadi dan tidak dibayarkan ke perusahaan pemilik barang.

Wajar bila Ellyas kini menjadi buruan banyak pihak karena memiliki banyak sangkutan kasus dan penggelapan barang dengan sejumlah vendor di Indonesia. Menurut sumber, jika dikalkulasi utang Ellyas diperkirakan tidak sekitar Rp. 50 milliar. Mereka merasa kecewa lantaran Ellyas pada awalnya hanya janji janji dan tidak pernah menyelesaikan tanggung jawabnya atas sejumlah transaksi, setidaknya sejak dua tahun lalu, hingga konser DJ internasional tersebut digelar.

Salah satu yang merasa dirugikan, saat konser di ICE BSD City Tangerang, saat bertemu dengan team redaksi, seorang pria berperawakan tegap  menanyakan keberadaan Elyas.  “Kenal dengan orang ini, namanya Benyamin Ellyas, tahu dimana dia?,’’ kata Yet No, salah satu utusan perusahaan  berinisial SI yang dikemplang oleh Ellyas sambil menunjukkan bukti transaksi yang tertera: penyewaan paket rigging, genset dan perlengkapan untuk konser Kemerdekaan 2016 di Senayan, Jakarta, lengkap berikut tagihan bermaterai dan berstempel perusahaan.

Selang beberapa jam kemudian, sejumlah pria bertampang sangar  juga menyebut-nyebut nama Ellyas pada salah satu petugas jaga pintu masuk di hall ICE BSD City Tangerang. Saat dikonfirmasi mereka dari kelompok Bearland yang sudah lama  mencari Ellyas, baik dirumahnya Puri Indah Kembangan Timur Raya, Jakarta Barat, Gudang di jalan Tecno,  maupun dikantornya Gedung Equity Tower, Sudirman,  Senayan Jakarta, namun yang dicari belum juga terlihat batang hidungnya. Mereka mengaku membawa surat kuasa dari  perusahaan berinisial GRI, bermaterai dan berstampel perusahaan dan ditandatangani Direkturnya berinisial DN.

Disayangkan, sampai konser DJ internasional berlangsung, rupanya Ellyas yang mereka cari-cari juga tidak keliatan batang hidungnya. Tidak ditempat atau sudah pergi meninggalkan acara saat mengetaui banyak pihak yang mencari dirinya.

Dari pengakuan beberapa orang yang mencarinya, sebut saja LG dan DC mengakui Ellyas  adalah sosok yang sangat licin dan cerdik. “Nih orang tuh emang tukang tipu dan licin. Sudah tidak teritung berapa banyak vendor alat konser yang dikemplangnya,’’ tukas DC, laki-laki gempal asal Timor.

Selain vendor dan pengusaha peralatan konser yang merasa dikecewakan, dua institusi pengawasan orang asing: Dit Intel Pengawasan Orang Asing (POA) Polda Metro Jaya dan Kementerian Hukum dan Ham RI bidang Penindakan dan Pencegahan Orang Asing juga merasa dipermalukan dan dirugikan dengan ulah Ellyas yang suda mengobok-obok wilayah hukumnya.

Sebagaimana diungkap Kasie Penindakan dan Pencegahan Kemenkumham wilayah Tangerang Kota, Asmi, mengaku tidak akan mentolerir dan menindak tegas orang asing yang menyalahi aturan dengan bekerja secara ilegal di Indonesia. “Pasti kami tindaklanjuti. Kalau masih beraktifitas ilegal di sini akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,’’ tegas Asmi.

Praktis, saat ini Ellyas menjadi target DPO banyak pihak. Sampai kapan ia bisa lari dan sembunyi dari jeratan hukum yang dilanggarnya. Waktu yang akan menjawab bagi siapapun yang berbuat kejahatan di republik ini. esa