Beranda Headline ISI Yogyakarta Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa Kepada Putu Wijaya

ISI Yogyakarta Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa Kepada Putu Wijaya

340
0

SIAGAINDONESIA.COM Institut Seni Indonesia atau ISI Yogyakarta memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada I Gusti Ngurah Putu Wijaya, Shdibidang teater. Pemberian anugerah ini berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka ISI Yogyakarta di Gedung Konser Hall ISI Yogyakarta, Rabu 21 Februari 2018.

Pemberian gelar akademik yang tertinggi dan prestisius ini dengan pertimbangan pencapaian karya-karyanya yang luar biasa demikian juga jasanya dalam pengembangan ilmu dan dunia teater modern Indonesia serta penemuan dan inovasi dalam kreatifitasnya yang mempengaruhi luas dalam kehidupan sosial dan kemanusian.

Rektor ISI Yogyakarta Agus Burhan mengatakan penganugerahan Dr H.C. terlaksana dengan proses persiapan cukup panjang, Dimulai dari tahun 2016, yaitu mulai pengusulan dari tingkat jurusan/program studi dan seleksi ketat dari tingkat fakultas hingga akhirnya persetujuan di tingkat institut. Proses kemudian masih menunggu penetapan dari tingkat kementerian. Sampai akhirnya, acara penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa kepada I Gusti Ngurah Putu Wijaya, SH.

“Pemberian gelar Doktor Honoris Causa juga telah mendapatkan pertimbangan yang ketat dan dalam proses yang panjang dari sivitas akademika dan Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan, berbagai stake holder dunia teater modern Indonesia, Senat ISI Yogyakarta serta penilaian dan persetujuan dari Menristek Dikti,” ucapnya.

Burhan menyatakan Mas Putu sebutan akrab Putu Wijaya bukan lagi sosok asing bagi ISI Yogyakarta katena Putu Wijaya mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI), dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969). Dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Putu juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia tampil dalam karyanya sendiri Bila Malam Bertambah Malam (1967), dan Lautan Bernyanyi LAUTAN (1969). Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta.

“Di bidang seni modern di Indonesia. Putu Wijaya adalah fenomena. Kehadirannya menjadi kontribusi nyata bagi kreativitas dan produktivitas luar biasa seniman yang memilih sastra dan teater sebagai pilihan hidup,” ucapnya.

Burhan menambahkan ampai di umurnya ke-74 saat ini. Di saat Putu menjalani proses penyembuhan dari sakitnya, tetap saja karyanya mengalir deras. Bahkan bertambah dengan kanvas lukisnya. Selama sakit fisiknya itu rupanya dia tidak mau sakit otak dan batinnya. Putu masih terus berkarya. Masih akan membuat ratusan drama pendek. Bahkan sudah bermonolog lagi. Semangatnya untuk berkarya di bidang kesenian memang luar biasa.

Putu Wijaya adalah legenda tradisi yang selalu bertransformasi menjadi baru. Dalam pidato ilmiahnya TRADISI BARU, Putu menjabarkan ruang-ruang pembebasan pada nilai tradisi kedaerahannya. Seni tradisi dengan sifatnya yang cair, plastis, dan dinamis, telah terdidik dalam ruang dan waktu panjang, sehingga bagi Putu nilai-nilai tradisi menjadi “jurus” ampuh menemukan jati diri seni tradisi di tengah “wajah” ke-Indonesiaan yang mengglobal. Tradisi baru adalah transformasi nilai-nilai budaya kedaerahan menjadi tatanan nilai budaya negara-kebangsaan.

“Semoga tradisi baru menginspirasi teater dan seni lainnya di ISI Yogyakarta untuk menjadi fasilitator pencetus sikap toleran masyarakat terhadap semua pertunjukan apa pun jenisnya dan dari mana pun datangnya,” ungkapnya.