Beranda Headline Teror Ulama, Pelakunya Bukan Orang Gila Tapi ‘Permainan Lama’

[Video] Teror Ulama, Pelakunya Bukan Orang Gila Tapi ‘Permainan Lama’

1526
0

SIAGAINDONESIA.COM DR. Rizal Ramli menganggap perbedaan beragama seharusnya bukan menjadi hambatan. Tapi justru menjadi modal kuat bagi kemajuan bangsa. Indonesia mesti memberi contoh meski bisa berbeda beda tetapi satu Indonesia.

 “Itu bukan (karakter) bangsa kita. Kita sudah biasa kok beda agama, beda suku. Jangan sampai kita diadu,”  kata pria yang akrab disapa RR.
Nah, RR menuturkan adanya upaya adu domba antaragama di Indonesia. Dia tidak percaya pelaku pembunuhan pemuka agama dan perusakan tempat ibadah adalah orang yang mengalami gangguan jiwa.

“Saya tanya ke psikolog, orang gila itu memori kesadarannya hanya satu menit. Setelah itu, sudah tidak waras lagi. Nah, kalau membunuh kiai di Jawa Barat, atau kejadian di gereja, itu proses aksinya kan membutuhkan waktu 10 menit. Orang gila enggak bisa,” tuturnya di Surabaya, Sabtu, (17/2/2018).

Menurutnya, alasan orang gila sengaja dicari agar pemeriksaannya tidak dilanjutkan. Padahal, situasi di daerah-daerah sudah panas.

“Makanya hari ini saya datang ke kelenteng di Pasuruan, kemudian ke pondok pesantren. Dan ke gereja. Saya katakan pada mereka bahwa ini ada orang brengsek yang main. Jadi jangan terprovokasi,” katanya.

Rizal pun mencontohkan kasus serupa pada sekitar belasan tahun silam, tentang kiai yang diculik dan dibunuh oleh “ninja” selama sebulan. “Kasus tersebut juga serupa dengan kasus saat ini. Mulai gereja dibakar, romo dianiaya, kiai dianiaya, yang jarak waktunya juga berurutan,” ujar mantan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman ini.

Adanya perbedaan di Indonesia sepantasnya dijadikan sumber kekuatan. Perbedaan membuat bangsa Indonesia saling melengkapi.

“Kita sudah biasa kok beda agama beda suku, tidak masalah, malah jadi kekuatan. Perbedaaan itu kekuatan,” terang pria yang namanya disebut survei KedaiKopi sebagai figur yang mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.

Karena itu, RR menghimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang dihembuskan pihak-pihak tidak bertanggungjawab. Apalagi saat ini tensi politik Indonesia sedang meningkat jelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019. Dalam hal ini peran pemuka pemuka agama sangat penting untuk meredam peristiwa agar tidak berkembang dan menimbulkan konflik horizontal.