Beranda Headline Borobudur Today 2018 “Abstract Party”

Borobudur Today 2018 “Abstract Party”

16
Oei Hong Djien dan para seniman perupa.

SIAGAINDONESIA.COM – Candi Borobudur dapat dianggap sebagai bentuk yang sempurna untuk sebuah wujud seni abstrak. Candi ini terwujud dari bentuk garis-garis dan lingkaran-lingkaran dengan stupa-stupa dan relief-relief yang ada di dalamnya. Bangunan ini berbentuk susunan geometris sebagai Mandala yang menggambarkan alam semesta. Sehingga, bagi para seniman, candi ini dianggap sebagai bentuk yang sempurna untuk sebuah seni abstrak.

Banyak seniman melukis karya seni abstrak sebagai hasil meditasi. Mereka mengawali berkarya dengan mengosongkan pikirannya untuk menemukan bagian paling dalam perasaan dirinya, untuk mendengarkan getaran-getaran kehidupan dan kebebasan yang mengalir dalam dirinya guna membuat komunikasi antara mikrokosmos dan makrokosmos. “Sehingga, bila saya ditanya tentang arti seni abstrak, sangat sulit untuk menemukan jawaban yang benar,” jelas Anton Larenz, penulis seni asal Jerman, dalam tulisannya ‘Natural motion, emotional vision’ yang disampaikan pada acara pembukaan Pameran Seni Rupa ‘Abstract Party’ di Limanjawi Art House, Tingal Kulon, Borobudur, Magelang, Minggu, 11 Maret 2018. Pameran ini digelar selama satu bulan sampai dengan tanggal 10 April 2018.

Banyak orang yang masih merasa bingung ketika mereka melihat karya seni abstrak. Dan banyak yang meragukan maknanya, bahkan sering membandingkan lukisan itu dengan gambar coretan anak-anak. Tetapi bagi seniman, sebuah karya seni abstrak yang perspektif jauh dari pengertian itu, terkait dalam proses karya dan penciptaannya. Karya seni abstrak yang asli Indonesia adalah batik yang bersifat ornamental. Karya batik ini ada bermacam-macam gaya dengan garapan geometris dan proses penciptaan yang meditatif.

Edy Sunaryo, perupa dan dosen senirupa mewakili rekan-rekannya yang berpartisipasi dalam pameran ini mengungkapkan, pelopor senirupa abstrak adalah Fadjar Sidiq para era tahun 1970-an. Senirupa abstrak perlu daya imajinasi yang tinggi, bila tidak maka karya senirupa yang dihasilkan hanya standard. Terkait dengan makna lukisan abstrak, dia menganalogikan dengan musik klasik. Artinya, sulit untuk mengartikannya tetapi dapat dinikmati keindahannya. “Untuk menikmati karya seni abstrak tidak dengan rasional, tetapi dengan rasa. Kepekaan rasa itulah yang dapat memahami dari keindahan lukisan abstrak,” jelasnya.

Oei Hong Djien, dokter yang kurator dan kolektor senirupa mengatakan, makna karya senirupa abstrak sangat luas. Untuk menikmatinya, patokan yang mudah adalah warna bagus dan enak di mata. Dulu di Indonesia senirupa abstrak dapat dikatakan tidak laku. Tetapi kini, karya seni abstrak banyak peminatnya. Melewati jalan panjang, karya senirupa abstrak kini lebih dihargai. Kepada para seniman dia berpesan, jangan ikut-ikutan dalam berkarya seni abstrak. Karena bisa tersandung, bahkan terpuruk bila berkarya seni abstrak hanya berdasar ikut-ikutan.

Umar Chusaeni, pemilik ‘Limanjawi Art House’ menjelaskan, perhelatan tahunan ‘Borobudur Today’ yang sudah keempat kali, tahun ini bertajuk ‘Abstract Party’. Ini menjadi bukti kesungguhan ‘Limanjawi Art House’ dan ‘Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) 15’ dalam mendukung dan membangun wacana seni di Borobudur. Di daerah wisata Borobudur, perkembangan seni tidak hanya terjadi dalam wacana seni yang berkembang dari jaringan utama seni modern, seperti akademi seni, jaringan museum dan galeri seni. Peran industri pariwisata juga memiliki dampak dalam pilihan-pilihan praktik seni yang dikembangkan oleh para seniman di daerah ini.

Pameran senirupa ‘Abstract Party’ dibuka oleh dr. Oei Hong Djien yang ditandai dengan sapuan kuas di atas kanvas untuk mengawali sebuah lukisan abstract. Pameran ini diikuti 24 orang seniman senirupa senior dari Magelang, Yogyakarta, dan kota-kota lain, serta mancanegara yaitu dari China dan Vietnam. Mereka adalah Adi Wirawan, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Akmal Jaya, Basrizal Al Bara, Budi Ubrux, Dedy Sufriadi, Deddy PAW, Deskhairi, Edy Sunaryo, Heri Kris, Januari, Joko ‘Gundul’ Sulistiono, Kexin Zhang (China), Mola, Nasirun, Nguyen Ngoc Dan (Vietnam), Pini Fe, Pupuk Daru Purnomo, Riduan, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Utoyo Hadi, Win Dwi Laksono, Yasumi Ishii dan Yoga Wantoro.  Pembukaan pameran dimeriahkan dengan pementasan kesenian rakyat dari Sanggar Seni Saujana dari desa Krogowanan, Sawangan, Magelang, membaca puisi, dan pentas musik.*(ask)