Terbukti Lakukan Penggelapan, Hakim PN Surabaya Vonis Percobaan Henry Gunawan

Bos PT Gala Bumi Perkasa Tidak Dijebloskan Rutan

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Bos PT Gala Bumi Perkasa (PT GBP) sekaligus pengembang Pasar Turi, Henry Jacosity Gunawan divonis bersalah telah melakukan penggelapan sertifikat tanah yang dilaporkan Notaris Caroline C Kalempung.

Hakim Unggul Mukti Warso mengatakan, tidak ada alasan pembenar dan alasan pemaaf yang dapat menghapus perbuatan pidana terdakwa Henry Gunawan.

“Terdakwa Henry Jacosity Gunawan haruslah dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan,” demikian dibacakan Hakim Unggul dalam amar putusannya di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/4/2018).

Sebelum menjatuhkan vonis, Hakim Unggul membacakan pertimbangan hukumnya yang  menyatakan tidak sependapat dengan pembelaan tim penasehat hukum terdakwa. Menurut Hakim Unggul laporan Notaris Caroline C Kalempung benar adanya dan menyatakan keterangan saksi dua petinggi PT GBP, yakni Raja Sirait dan Yuli Ekawati tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

“Keterangan Mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait dan Staf Legal PT GBP, Yuli Eka Wati tidak berdasar,” terangnya.

Selain membenarkan laporan Notaris Caroline, Hakim Unggul juga membenarkan keabsahan transaksi jual beli dua objek tanah yang dilakukan antara terdakwa Henry Gunawan dengan Hermanto.

“Saksi Hermanto sudah membayar lunas dan diterima oleh terdakwa Henry Jacosity Gunawan senilai 4,5 milliar rupiah untuk tanah di Claket Malang dan 500 juta rupiah untuk pembayaran objek di Jalan Teuku Umar Surabaya,” imbuhnya.

Sayangnya meski telah divonis bersalah melanggar pasal 372 KUHP,  putusan Hakim Unggul justru menguntungkan terdakwa. Pasalnya, Henry Gunawan tidak dijebloskan ke rumah tahanan (Rutan) negara.  Pengusaha properti lulusan Sekolah Dasar (SD) tersebut hanya divonis hukuman percobaan.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 8 bulan dengan masa percobaan selama 1 tahun,” kata Hakim Unggul.

Atas putusan tersebut, pihak terdakwa melalui tim kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir. Begitu juga dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso. “Kami juga pikir-pikir,” ujar JPU Ali Prakoso saat menjawab pertanyaan hakim Unggul.

Vonis hakim Unggul Mukti Warso ini jauh lebih rendah dari surat tuntutan JPU Ali Prakoso dari Kejari Surabaya, yang menuntut terdakwa Henry Gunawan dengan hukuman 4 tahun penjara dengan perintah penahanan.

Terpisah, Siddik Latuconsina selaku tim penasehat hukum terdakwa Henry Gunawan mengaku kecewa atas putusan hakim. “Putusan mejelis hakim ini ngambang,” singkat Siddik usai persidangan.

Dari pantauan di persidangan, terdakwa Henry Gunawan terlihat tegang. Dia berkali-kali menggelengkan kepala dan memandang tim penasehat hukumnya saat hakim membacakan pertimbangan hukumnya.

Tak hanya itu, terdakwa Henry Gunawan juga langsung ngacir meninggalkan ruang sidang tanpa ada sepatah kata pada awak media.

Kasus pidana ini bermula dari jual beli tanah antara terdakwa Henry Gunawan dengan Hermanto, klien dari Notaris Caroline C Kalempung. Tanah yang dijual belikan itu berada di Claket, Malang Jawa Timur seharga Rp 4,5 miliar dan objek lain di Jalan Teuku Umar Surabaya senilai Rp 500 juta.

Selanjutnya sertifikat tanah di Claket Malang tersebut dipinjam terdakwa Henry di Notaris Caroline C Kalempung guna perpanjangan SHGB. Ironisnya , sertifikat itu tak kunjung dikembalikan dan oleh terdakwa Henry, tanah yang sudah dibayar lunas oleh Hermanto itu justru dijual lagi ke orang lain dengan harga yang lebih tinggi yakni Rp 10,5 miliar.nv/mang

Up Next

Related Posts

Discussion about this post