Mengapa Gerakan 2019 Ganti Presiden Makin Populer?

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Gerakan 2019 Ganti Presiden tidak hanya menjadi viral di Indonesia, tapi sudah mendunia. Hal itu bisa dilihat dari beredarnya spanduk bertuliskan #2019Ganti Presiden di beberapa negara. Bahkan foto-fotonya menjadi viral di media sosial.

Gerakan 2019 Ganri Presiden awalnya dilakukan oleh Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera melalui akun Twitter-nya @MardaniAliSera. Dia menulis #2019GantiPresiden.

Melalui gerakan tersebut, Mardani membagikan gelang yang bertuliskan #2019GantiPresiden. Gelang karet tersebut disebut sebagai komunikasi milenial.

Dari situ kemudian menjadi viral. Tidak hanya gelang karet, kini merembet ke kaus #2019GantiPresiden, bahkan ada pula spanduk dengan ukuran besar.

Seperti di Medan, spanduk berukuran raksasa #2019GantiPresiden dibentangkan di halaman sebuah Masjid.

Di beberapa negara, spanduk #2019GantiPresiden sudah beredar. Seperti di Jepang, Jerman Turki, dan Inggris.

Bahkan semakin populernya #2019GantiPresiden, seorang Ahmad Dani hadir di sidang perdana Pengadilan Jakarta Selatan dengan mengenakan kaos tersebut. Kaos tersebut bergambar mirip seperti logo pusat perbelanjaan, namun kata-kata di dalamnya diplesetkan dengan tulisan #2019GantiPresiden.

“Saya setiap hari pakai kaos ‘Ganti Presiden 2019’. Setiap hari saya pakai kaos seperti ini, bahkan sholat lima waktu pun saya pakai juga kaosnya,” kata Dhani.

Secara tegas Dhani mengatakan jika dirinya termasuk ke dalam orang-orang yang mendukung pergantian presiden pada tahun 2019 mendatang. “Sangat ingin sekali (ganti Presiden). Karena saya Partai Gerindra ya (dukung) Prabowo dong,” pungkasnya.

Dhani juga mengungkapkkan bahwa dirinya memiliki banyak persediaan kaos semacam itu. Selain itu, Dhani juga menuturkan bahwa kaos tulisan ganti presiden 2019 yang ia punya dipakainya selama setiap hari. “Macam-macam ini bentuknya (desainnya), kebetulan dapatnya yang ini,” terangnya.

Menurut Mardani, tidak ada yang salah dari gerakan #2019GantiPresiden. Hal itu sah, legal, dan konstitusional dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 Pasal 22 E yang menyebut pemilihan presiden dan wakil presiden diselenggarakan lima tahun sekali. Mardani menilai hal itu diperlukan untuk mendidik masyarakat dalam berpolitik.

Sementara itu menanggapi viralnya #2019GantiPresiden, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak panik. Dia menyebut ada oknum yang sengaja membuat kaos dengan sablon tagar tersebut.

“Sekarang isunya ganti lagi, isu kaus. #2019gantipresiden di kaus,” ujar Jokowi saat pidato dalam acara Konvensi Nasional 2018 di Puri Begawan, Kota Bogor pada Sabtu (7/4/2018) lalu.

Melanjutkan kalimatnya, Jokowi kemudian mengatakan, “Masak kaus bisa sampai ganti presiden.”

Dirinya mengatakan jika hanya Tuhan dan rakyatlah yang mampu mengganti presiden dalam pemilihan presiden (pilpres) mendatang.”Juga ada kehendak dari Allah SWT. Masak pakai kaus itu bisa ganti presiden, enggak bisa,” ungkap Jokowi.

Meski ramai diperbincangkan, kehadiran tagar #2019GantiPresiden dianggap wajar oleh para pengamat politik dan pemilu. Direktur Populi Center, Usep S Ahyar misalnya, menganggap kehadiran tagar itu bagian dari upaya lawan politik Jokowi mencari dukungan.

“Di samping itu, sebagai upaya menakar seberapa besar dari kelompok masyarakat yang menginginkan pergantian presiden di 2019, dan dari kelompok mana saja,” kata Usep.

Alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu berkata, tema pergantian presiden di Pilpres 2019 baru digulirkan sebatas untuk menyatukan sentimen anti-petahana. Gerakan itu, kata dia, belum jelas menawarkan sosok pengganti Presiden yang mau dijagokan dalam pemilu.

Menurut Usep, belum adanya sosok yang dijagokan oleh para penggerak tagar “2019 Ganti Presiden” terjadi karena masih rendahnya elektabilitas tokoh-tokoh selain Jokowi. Dalam berbagai survei pemilu 2019 yang sudah diselenggarakan, dua nama capres potensial yang kerap muncul adalah Jokowi dan Prabowo Subianto.

“Ini masih gerakan membangun sentimen terhadap petahana yang belum jelas penggantiannya seperti apa… Membangun sentimen ‘asal bukan’ kelompok lain yang berkuasa saja masih cukup, tapi adu gagasan tentang bagaimana membawa bangsa ini lebih baik di masa depan, kayaknya itu lebih penting,” kata Usep.

Kewajaran atas munculnya slogan “2019 Ganti Presiden” juga diakui peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI), Luky Sandra Amalia. Menurut dia, tagar itu tak perlu dipermasalahkan meski ramai diperbincangkan.

“Dari kalimatnya, hashtag tersebut jelas berharap mengalahkan petahana dan itu hal yang biasa. It’s not a big deal,” kata Sandra.

Alumnus Universitas Airlangga itu berkata, tak akan ada pengaruh banyak dari tagar #2019GantiPresiden terhadap elektabilitas calon presiden dan wakil presiden di pemilu mendatang.

Menurut Sandra, hasil pemilu tidak hanya dipengaruhi satu atau dua faktor saja, seperti tren yang sedang berkembang di masyarakat. Karena itu, kehadiran tema pergantian presiden dianggap tidak akan berpengaruh signifikan terhadap keterpilihan capres.

“Elektabilitas pasangan calon harus diukur dengan banyak variabel dan dilakukan secara berkelanjutan, tidak bisa hanya diukur dengan satu variabel dan dalam satu momen saja. Jadi, hashtag itu tidak akan berpengaruh banyak ke elektabilitas paslon,” ujar Sandra.

Pengamat politik dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Rully Akbar juga senada dengan Usep dan Sandra. Menurutnya, pembicaraan tagar #2019GantiPresiden menjadi ramai karena proses pemilu 2019 semakin dekat.

Pendaftaran bakal capres dan cawapres pemilu 2019 akan dimulai pada 4-10 Agustus 2018. Setelah itu, penetapan kandidat dilakukan 20 September 2018 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).jak

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post