Beranda featured Mengapa Gerakan 2019 Ganti Presiden Makin Populer?

Mengapa Gerakan 2019 Ganti Presiden Makin Populer?

80
Spanduk bertuliskan #2019GantiPresiden makin populer di masyarakat.

SIAGAINDONESIA.COM Gerakan 2019 Ganti Presiden tidak hanya menjadi viral di Indonesia, tapi sudah mendunia. Hal itu bisa dilihat dari beredarnya spanduk bertuliskan #2019Ganti Presiden di beberapa negara. Bahkan foto-fotonya menjadi viral di media sosial.

Gerakan 2019 Ganri Presiden awalnya dilakukan oleh Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera melalui akun Twitter-nya @MardaniAliSera. Dia menulis #2019GantiPresiden.

Melalui gerakan tersebut, Mardani membagikan gelang yang bertuliskan #2019GantiPresiden. Gelang karet tersebut disebut sebagai komunikasi milenial.

Dari situ kemudian menjadi viral. Tidak hanya gelang karet, kini merembet ke kaus #2019GantiPresiden, bahkan ada pula spanduk dengan ukuran besar.

Seperti di Medan, spanduk berukuran raksasa #2019GantiPresiden dibentangkan di halaman sebuah Masjid.

Di beberapa negara, spanduk #2019GantiPresiden sudah beredar. Seperti di Jepang, Jerman Turki, dan Inggris.

Bahkan semakin populernya #2019GantiPresiden, seorang Ahmad Dani hadir di sidang perdana Pengadilan Jakarta Selatan dengan mengenakan kaos tersebut. Kaos tersebut bergambar mirip seperti logo pusat perbelanjaan, namun kata-kata di dalamnya diplesetkan dengan tulisan #2019GantiPresiden.

“Saya setiap hari pakai kaos ‘Ganti Presiden 2019’. Setiap hari saya pakai kaos seperti ini, bahkan sholat lima waktu pun saya pakai juga kaosnya,” kata Dhani.

Secara tegas Dhani mengatakan jika dirinya termasuk ke dalam orang-orang yang mendukung pergantian presiden pada tahun 2019 mendatang. “Sangat ingin sekali (ganti Presiden). Karena saya Partai Gerindra ya (dukung) Prabowo dong,” pungkasnya.

Dhani juga mengungkapkkan bahwa dirinya memiliki banyak persediaan kaos semacam itu. Selain itu, Dhani juga menuturkan bahwa kaos tulisan ganti presiden 2019 yang ia punya dipakainya selama setiap hari. “Macam-macam ini bentuknya (desainnya), kebetulan dapatnya yang ini,” terangnya.

Menurut Mardani, tidak ada yang salah dari gerakan #2019GantiPresiden. Hal itu sah, legal, dan konstitusional dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 Pasal 22 E yang menyebut pemilihan presiden dan wakil presiden diselenggarakan lima tahun sekali. Mardani menilai hal itu diperlukan untuk mendidik masyarakat dalam berpolitik.

Sementara itu menanggapi viralnya #2019GantiPresiden, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak panik. Dia menyebut ada oknum yang sengaja membuat kaos dengan sablon tagar tersebut.

“Sekarang isunya ganti lagi, isu kaus. #2019gantipresiden di kaus,” ujar Jokowi saat pidato dalam acara Konvensi Nasional 2018 di Puri Begawan, Kota Bogor pada Sabtu (7/4/2018) lalu.

Melanjutkan kalimatnya, Jokowi kemudian mengatakan, “Masak kaus bisa sampai ganti presiden.”

Dirinya mengatakan jika hanya Tuhan dan rakyatlah yang mampu mengganti presiden dalam pemilihan presiden (pilpres) mendatang.”Juga ada kehendak dari Allah SWT. Masak pakai kaus itu bisa ganti presiden, enggak bisa,” ungkap Jokowi.

Meski ramai diperbincangkan, kehadiran tagar #2019GantiPresiden dianggap wajar oleh para pengamat politik dan pemilu. Direktur Populi Center, Usep S Ahyar misalnya, menganggap kehadiran tagar itu bagian dari upaya lawan politik Jokowi mencari dukungan.

“Di samping itu, sebagai upaya menakar seberapa besar dari kelompok masyarakat yang menginginkan pergantian presiden di 2019, dan dari kelompok mana saja,” kata Usep.

Alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu berkata, tema pergantian presiden di Pilpres 2019 baru digulirkan sebatas untuk menyatukan sentimen anti-petahana. Gerakan itu, kata dia, belum jelas menawarkan sosok pengganti Presiden yang mau dijagokan dalam pemilu.

Menurut Usep, belum adanya sosok yang dijagokan oleh para penggerak tagar “2019 Ganti Presiden” terjadi karena masih rendahnya elektabilitas tokoh-tokoh selain Jokowi. Dalam berbagai survei pemilu 2019 yang sudah diselenggarakan, dua nama capres potensial yang kerap muncul adalah Jokowi dan Prabowo Subianto.