Dua Professor Tiongkok Kunjungi Uwika Gelar Penelitian Bahasa Mandarin

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Dua orang Professor dari Chongqing Normal University, Hou Wanchun dan Liu Wei, mengunjungi Universitas Widya Kartika (Uwika) Surabaya guna menggelar dialog penelitian mengenai hubungan Indonesia dengan Tiongkok dari segala aspek, antara lain ekonomi, budaya, pendidikan khususnya untuk penguatan pendidikan bahasa Mandarin, Senin (23/4/2018).

Kegiatan tersebut diikuti oleh dekan dan para dosen serta jajaran Rektorat Uwika. Selain itu juga hadir Chandra Wuryanto Woo (Staf Ahli Rektor Bidang Kerjasama Internasional Uwika), Mr. Xiao Ren Fei (Direktur Confucius Institute), Dr. Ali Mustofa, S.S., M.Pd. (Dekan Confucius Institute Pusat Bahasa Universitas Negeri Surabaya), dan Dr. Maria Mintowati, M.Pd. (Kaprodi Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Surabaya).

Pelajaran bahasa Mandarin berkaitan dengan ekonomi Cina yaitu dipengaruhi oleh hubungan akulturasi masyarakat yang makin luas, di antaranya kunjungan 20 juta wisatawan Tiongkok ke Indonesia. Pemerintah Tiongkok sendiri juga menargetkan 50 juta kunjungan wisatawan Indonesia ke Tiongkok.

“Kebutuhan akan tour guide sangat besar. Maka pengajaran bahasa Mandarin menduduki prioritas karena sangat penting sekali. Seperti investor Tiongkok yang datang ke Indonesia membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia dan secara tidak langsung masyarakat harus belajar bahasa Mandarin,” papar Hou Wan Chun.

Hal tersebut tentunya juga akan berdampak terhadap perkembangan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu bahasa Mandarin mendapat perhatian serius dan memerlukan perkembangan pesat agar memenuhi kebutuhan pasar saat ini. Sebab bahasa merupakan dasar dari ekonomi.

Terlebih kebijakan pemerintah terkait invasi ekonomi Cina di Indonesia memberi dampak cukup besar. Pihaknya berharap jika perekonomian Tiongkok maju maka perekonomian Indonesia juga akan maju dan mempengaruhi pendidikan bahasa Mandarin.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Uwika Murphin J Sembiring mengatakan bahwa ini adalah masa yang tepat hubungan Indonesia – Cina dalam bidang ekonomi pendidikan dan pariwisata.

“Jika menguasai bahasa Mandarin maka gaji dan posisi akan beda. Bahasa merupakan hal yang penting dan membantu hubungan ekonomi,” jelas Murphin.

Tonggak sejarah perkembangan bahasa Mandarin sendiri mulai bergeliat sejak 1998 silam. Dimana pendidikan bahasa Mandarin di Indonesia kembali pulih dan puncaknya tahun 2000 mengalami perkembangan pesat hingga sekarang. Jika dilihat kebutuhan masyarakat akan bahasa Mandarin makin tahun makin meningkat. Dipengaruhi oleh pengusaha Indonesia keturunan maupun universitas negeri yang ada di Indonesia.

“Kita bisa melihatnya dari pertumbuhan mahasiswa. Sebuah momen bahwa bahasa Mandarin sudah berkembang pesat selama 20 tahun. Kami ingin memperluas lagi pendidikan bahasa Mandarin sampai pelosok Indonesia,” pungkas Hou.Pak_Dik

Up Next

Related Posts

Discussion about this post