Beranda budaya Ruwat Rawat Borobudur ke XV – 2018

Ruwat Rawat Borobudur ke XV – 2018

16
Kirab Budaya Ruwat Rawat Borobudur XV

SIAGAINDONESIA.COM – Kesadaran masyarakat akan pentingnya keserasian dalam pengelolaan dan pelestarian warisan budaya kini sudah semakin tinggi. Hal ini terlihat dalam kegiatan-kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat ‘Warung Info Jagad Cleguk’. LSM yang diketuai Sucoro ini telah berkiprah, diantaranya menyelenggarakan Sekolah Lapangan Kawasan Borobudur, menggali dan menyelenggarakan kembali acara-acara tradisi masyarakat di sekitar Candi Borobudur. Melalui kegiatan ini masyarakat semakin yakin bahwa Borobudur adalah sumber daya budaya dan juga warisan bagi bangsa Indonesia. Karena sumber daya budaya seperti Borobudur ini mempunyai kekuatan yang luar biasa dan dapat dimanfaatkan untuk membantu bangsa dalam menapak perjalanan ke masa depan. Untuk itu  warisan budaya  ini  harus tetap dijaga agar kekuatan yang dimiliki itu tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi penerus tanpa berkurang nilainya.

“Ruwat Rawat Borobudur”, ruwat bermakna sebuah laku budaya yang berorentasi pada pencerahan pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Dan rawat berarti pendidikan dan pengetahuan yang mendorong pada upaya keselarasan atas pelestarian dan pemanfaatan Warisan Budaya Borobudur. Kegiatan Ruwat Rawat Borobudur bertujuan untuk menguatkan kawasan Borobudur menjadi salah satu “Destinasi wisata” yang berbasis pada kebudayaan.  Meski warga masyarakat tetap harus menghormati bahwa Candi Borobudur juga merupakan sebuah tempat ibadah bagi umat agama Buddha.

Menurut Ketua LSM ‘Warung Info Jagad Jleguk’ Sucoro, kegiatan ini bertujuan untuk lebih menguatkan Kawasan Borobudur sebagai salah satu destinasi wisata, candi dan lingkungannya dapat menjadi tujuan wisata dunia. Masyarakat Borobudur juga akan lebih memiliki pengetahuan dalam kepariwisataan, cerdas dan mempunyai cara pandang yang lebih bijak dalam bersikap untuk menghadapi perkembangan pada masa yang akan datang, terkait dengan pelestarian dan pemanfaatan potensi Candi Borobudur sebagai warisan budaya. Kegiatan ini juga sebagai upaya untuk melestarikan makna keberadaan candi dan harmoni kehidupan di Borobudur. Ini sebagai pendidikan untuk mendalami watak atau karakter kejiwaan manusia, sebagai pencerahan batin bagi yang mampu menghayati dan memahami hidup yang bermakna.

Candi Borobudur dan lingkungannya  yang sekarang telah menjadi tujuan wisata dunia agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, yang di dalamnya terdapat unsur seniman. Mereka diharapkan dapat menjadi kader pariwisata yang cerdas dan memiliki cara pandang yang lebih bijak dalam bersikap untuk menghadapi perkembangan yang akan datang terkait dengan pelestarian dan pemanfaatan potensi Candi Borobudur sebagai warisan budaya yang telah dikembangkan menjadi tempat pariwisata.

Masyarakat sekitar Borobudur yang memiliki akar budaya/adat istiadat yang akhir-akhir ini mulai hilang. Padahal potensi budaya ini dapat menjadi penyangga kelestarian Warisan Budaya Borobudur yang sekaligus dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kepariwisataan di  Kawasan Borobudur. Budaya dan kesenian yang dimiliki masyarakat ini dapat menjadi salah satu obyek yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur.

Tujuan ‘Ruwat Rawat Borobudur’ untuk melestarikan dan mengembangkan potensi budaya lokal di daerah Borobudur dan sekitarnya. Disamping untuk mendorong terselenggaranya acara nasional/internasional yang memadai dalam mengembangkan wisata kawasan Borobudur. Rangkaian acaranya dengan menyajikan pementasan budaya yang mengkolaborasikan aspek tradisi masyarakat lokal dengan Warisan Budaya Borobudur sebagai sumber daya budaya. Ruwat Rawat Borobudur merupakan ruang komunikasi budaya yang diharapkan dapat mensinergikan seluruh komponen atau stakeholder pariwisata, biro perjalanan wisata, pelaku wisata, budayawan lokal, nasional dan manca negara serta pemerintah.

Kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ke-XV Tahun 2018 diselenggarakan dari tanggal 6 Maret sampai dengan 6 Mei 2018. Kegiatan ini diawali dengan Safari Budaya dan Bakti Sosial pada tanggal 6 Maret 2018.  Perjalanan Safari Budaya dari pelataran sisi barat Candi Borobudur dan berakhir di dusun Gleyoran desa Sambeng, dengan membagikan bingkisan sayur-mayur kepada masyarakat.