Yang Menggandeng Rizal Ramli Pasti Menang

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah sibuk mengumpulkan para ulama di Istana Bogor. Bahkan pada pertemuan Jokowi dengan 96 ulama dari Jawa Barat di Istana Bogor, Pada Selasa (10/4/2018), Jokowi bertemu dengan 96 ulama. Selanjutnya pada Minggu (22/4/2018), Jokowi menemui Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Banyak yang menilai, tujuan Jokowi mengundang ulama terkait dukungan Pilpres 2019. yang paling mengemuka adalah usulan Cawapres dari kalangan ulama. Usulan ini cukup beralasan mengingat Jokowi kerap dilanda isu miring. Dengan memilih RI-2 dari ulama, selain bisa menepis tuduhan Jokowi sebagai sosok yang berseberangan dengan aspirasi Islam, juga menjadi kredit point untuk menggaet pemilih dari umat muslim.

Itu soal Jokowi. Bagaimana dengan kompetitornya, siapakah Cawapres yang diusulkan untuk mendampingi Prabowo Subianto (PS) di Pilpres 2019?

Saat ini Gerindra dikabarkan telah mengantongi 15 nama kandidat calon pendamping PS. Dari 15 nama tersebut, beberapa di antaranya merupakan nama-nama yang sangat familiar di masyarakat.

Ada nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (GN), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, serta mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli. Kemudian Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dan Ketua Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Paling gencar penggiringan opini GN yang disebut-sebut layak menjadi Capres dari Gerindra. Sementara untuk PS, dia cukup menjadi king maker seperti yang dilakukan Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi pada Pilpres 2014 silam.

Namun info yang diterima redaksi, PS hingga kini tetap menjadi Capres Gerindra. Tidak ada istilah king maker. Bahkan nama GN tidak masuk dalam radar Gerindra, baik bursa Capres maupun Cawapres.

Justru untuk posisi pendamping PS yang paling mencolok adalah Rizal Ramli (RR). Pertemuan mantan Menko Perekonomian dan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno di Kafe JakBistro, di kawasan Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (20/4/2018) lalu, menegaskan posisi RR di mata Gerindra.

Seperti diketahui Sandiaga Uno adalah Ketua Tim Pemilihan Cawapres untuk Prabowo Subianto. Tentunya pertemuan antara RR dan Sandiaga dapat diartikan sebagai ‘audisi’. Tampaknya Sandiaga ingin melihat sejauh mana keseriusan RR dalam Pilpres 2019 apabila dipilih mendampingi PS, apakah layak atau tidak.

Dalam pertemuan itu, RR bercerita ke Sandiaga soal Pulau Malaria untuk 100 orang paling brengsek di Indonesia. Yang dimaksud ‘orang brengsek’ adalah koruptor. “Hari pertama saya jadi Presiden saya akan tangkap 100 orang paling brengsek di Indonesia,” kata RR.

Sudah lama RR memiliki rencana untuk membuat pulau malaria di Indonesia Tengah, tepatnya di Pulau Matasiri, Kalimantan Selatan. Menurut RR, di sana  terkenal malaria. Pulau itu diduga menjadi tempat endemik bagi salah satu jenis nyamuk penyebab malaria.

RR tidak mau mengikuti jejak Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menembak mati gembong narkoba. Sebab itu melanggar hak asasi manusia. Sedangkan jika 100 orang yang dibuang ke pulau malaria meninggal, RR berpendapat kesalahan bukan terletak pada dirinya.

“Seandainya mereka sakit karena malaria dan meninggal, yang melanggar hak asasi manusia bukan Rizal Ramli tetapi nyamuk malaria,” ujarnya.

Selama 10 menit nonstop RR menjabarkan visi misinya setelah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu membuka acara secara singkat. RR menuturkan, jika menjabat presiden, pada hari kedua dia akan membuat kebijakan agar partai dibiayai sepenuhnya oleh negara.

“Pada hari kedua, saya akan keluarkan Perppu atau Keppres supaya parpol seluruhnya dibiayai oleh negara,” imbuhnya.

Selanjutnya, dia berupaya Indonesia merebut kepemimpinan secara de facto di ASEAN, seperti di era Presiden Soeharto. “Kami ingin 2019 ambil alih kepemimpinan Asian secara de facto, karena saya mau memanfaatkan ASEAN untuk ekspansi ekonomi Indonesia,” sebutnya.

Sepak terjang Rajawali Ngepret

Memang semenjak RR mendeklarasikan sebagai Calon Presiden 2019, dia langsung tancap gas melakukan road show ke daerah-daerah. Selama berkeliling Nusantara, RR juga mensosialisasikan program-program kerja dan visi misi. Hal ini menunjukkan keseriusan RR untuk maju sebagai Capres demi perbaikan Indonesia menjadi lebih baik. Jelas ini berbeda dengan yang dilakukan GN yang terkesan monoton bila ditanya soal Pilpres 2019.

RR bahkan tidak ragu untuk riwa riwi menerima undangan awak media sebagai narasumber. Seperti yang dilakukan RR dalam beberapa pekan ini menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Dalam setiap kesempatan, RR tidak segan mengkritik kebijakan pemerintahan Jokowi yang dinilainya tidak pro rakyat. Saking banyaknya kritikan pedas RR terhadap pemerintah yang dianggapnya tidak berpihak pada kepentingan bangsa dan negara, dia pun mendapat julukan ‘Rajawali Ngepret’.

Ada banyak kepretan RR, baik saat masih menjabat Menko Bidang Kemaritiman maupun hingga dicopot oleh Jokowi. Paling diingat publik saat RR ngepret reklamasi teluk Jakarta.

Menurut RR, yang namanya reklamasi di seluruh dunia adalah hal yang biasa. Namun ada risikonya. Risiko terhadap lingkungan hidup, kemungkinan banjir, risiko terhadap jalur lalu lintas laut, dan sebagainya. Namun perencanaan tata ruang yang benar juga diperlukan. Di dalam melaksanakan reklamasi Teluk Jakarta, ada tiga kepentingan yang harus diperhatikan, yakni kepentingan negara, rakyat termasuk nelayan, dan investor.

Di situlah RR mengeluarkan jurus kepret andalannya. “Ada yang tidak sepakat? Tangan saya gatel nih pengen ngepret,” kata RR. Akibat kepretan RR, mengerjakan Pulau C dan D adalah PT Kapuk Naga Indah (KNI) disegel Pemprov DKI Jakarta. Proyek reklamasi Pulau C dan D dihentikan total. Penyegelan dilakukan hingga pengelola mendapatkan izin mendirikan bangunan. Setelah dihentikan, namun pemerintah pusat tampaknya berniat melanjutkan lagi dengan menerbitkan Perpres Jabodetabekpunjur.

Kepretan RR berlanjut. Dia mengepret utang negara yang jumlahnya sangat besar. Membayar pokok dan bunga utang sebesar Rp514,5 triliun pada 2017. Bandingkan dengan biaya pendidikan sekitar hanya Rp416,1 triliun, dan infrastruktur Rp387,3 triliun. Jadi untuk mebayar utang pokok dan bunga lebih besar dari alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur.

“Itu kan aneh, kok prioritas anggaran nomor satu bayar pokok dan bunga utang, kenapa ini tak disentuh, kenapa nggak cari jalan untuk mengurangi beban utang?” kritik RR yang ditujukan pada Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

RR juga menyayangkan anggaran yang lain yang dipotong-potong semua, seperti subsidi energi turun hingga 66,2%, pajak dinaikin, mahasiswa diminta supaya punya NPWP, PTKP diturunin, petani gula mau diuber, rekening sampai Rp200 juta mau diintip. “Kenapa sih nggak fokus mengelola utang supaya bebannya lebih terkendali?” kata RR.

RR juga mengkritisi gelar Menteri Terbaik Dunia yang didapat Sri Mulyani. Menurutnya penghargaan tersebut kurang layak, karena kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih lemah. Dia mengatakan lembaga internasional yang memberikan penghargaan tersebut, yakni Ernst and Young hanyalah auditor dan akuntan yang bagus. Namun, lembaga ini tidak mengerti soal makroekonomi sebagai parameter penghargaan tersebut. “Dengan ekonomi melemah, rakyat semakin tertekan malah dapat penghargaan,” kepret RR.

Dia mengaku khawatir jika kinerja ekonomi 2018 dan 2019 masih seperti ini, maka masyarakat akan mencari calon Presiden alternatif. Oleh sebab itu dia meminta Presiden Jokowi melakukan perubahan secara drastis. “Menurut saya pak Jokowi ada di persimpangan jalan kalau begini terus,” ujarnya.

RR juga mengkritik pemerintah yang dituding tidak memiliki rencana yang jelas dalam tata kelola pangan. Kebijakan impor yang diambil Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita bukanlah solusi terbaik.

Kata RR, Mendag Enggar tidak bisa mengelola perdagangan dengan baik sehingga yang terjadi justru mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Maraknya impor pangan belakangan ini, membuat defisit neraca perdagangan. Bukan sekali, tapi berturut-turut.

Dalam kepretannya RR mengingatkan pemerintah untuk menghapus sistem kuota impor. Pasalnya, sistem ini menyuburkan kartel. Hal ini kemudian yang kemudian membuat negara merugi. Namun, tampaknya pemerintah sampai sekarang tidak mau mengubah sistem itu. Padahal, jika sejak dulu pemerintah mau melakukan perubahan dalam hal impor, Indonesia bakal diuntungkan. Tidak seperti sekarang, Indonesia berada dalam kungkungan kartel di mana mereka kerap memainkan harga harga.

Soal hukum, RR tidak kalah pedasnya mengkritik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menangani kasus korupsi Bank Century, termasuk lambannya menetapkan Boediono sebagai tersangka.

“Yang dilakukan KPK adalah menutupi kejahatan Bank Century, sehingga tidak bisa diproses secara tuntas. Jika KPK menghalang-halangi penyelesaian kasus Bank Century, harus di-impeach,” tegasnya.

RR mengepret, kejahatan Bank Century merupakan kejahatan kerah putih dan prosesnya cukup terang benderang. Saat Boediono menjadi Menteri Keuangan, obligasi BLBI pada awalnya tidak ada bunga dan tidak bisa diperdagangkan di pasar. Namun Boediono selaku Menteri Keuangan mengambil kebijakan memberi bunga atas BLBI tersebut, dan bisa diperdagangkan di pasar. Akhirnya kupon BLBI pun ramai diborong oleh investor dalam dan luar negeri. Hasilnya, Pemerintah Indoneisa harus membayar bunga BLBI sebesar Rp60 triliun setiap tahun selama 30 tahun. Sehingga total yang harus dibayar dari pemerintah dari bunga BLBI ini Rp1.800 triliun.

“Ini kejahatan kerah putih, harus ada yang tanggung jawab karena bebannya nanti yang menanggung rakyat. Rakyat harus dipotong subsidinya, harga-harga harus dinaikan karena negara defisit akibat kebijakan ugal-ugalan tersebut,” tegasnya.

Cawapres pro rakyat

Rasanya tidak berlebihan jika RR masuk bursa Cawapres dari partai Gerindra. Sebab, dia memang layak mengikuti konstelasi pemilihan presiden. Apalagi RR bertekad ingin membawa perubahan untuk Indonesia sesuai dengan pembukaan UUD1945 tercapai.

‎”Sejak mahasiswa di dalam sistem atau di luar sistem, saya selalu perjuangkan agar bangsa kita lebih baik. Bahwa sebagai konsekuensi itu, saya harus ikut pemilihan presiden atau apa? Itu soal kedua. Tapi yang penting saya punya tekad ingin mengubah Indonesia agar supaya kita capai cita-cita kemerdekaan kita,” demikian RR.

Banyak koleganya yang mendukung RR untuk menjadi Capres atau Cawapres, mengingat sepak terjang RR yang dikenal anti neolib. Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Rachmawati Soekarnoputri mengakui RR sudah masuk bursa Cawapres PS untuk Pemilihan Presiden 2019. Dia menganggap RR salah satu nama yang layak dan diperhitungkan. “Ya kalau saya hitung banyak juga sih. (Rizal Ramli), ya ada juga,” kata Rachmawati.

Rachmawati menekankan Indonesia membutuhkan figur pemimpin yang bukan jago pencitraan semata, tetapi figur yang memiliki visi dan misi. Rachma mengatakan RR sosok yang teguh dan berkomitmen menerapkan ajaran-ajaran Bung Karno.

“Kita bukan melihat figur yang populis tetapi visi dan misi, ideologi apa yang mau diwujudkan. Ini justru yang lebih penting, apa yang akan dikerjakan nanti,” tambahnya.

Meski demikian, faktor PS sebagai penentu juga mempengaruhi keputusan. Sebab Cawapres yang akan diusung haruslah memiliki chemistry dengan PS. Rachmawati mencontohkan, satu visi dengan PS seperti mengingatkan nasib kondisi Indonesia pada tahun 2030 yang terancam bubar. “Ini jadi satu perhatian khusus bangsa Indonesia ke depan bagaimana pun juga cawapresnya sendiri juga harus mengerti harus sinkron dan bisa bekerja sama dengan capresnya,” katanya.

Mengutip kata-kata pengamat Indonesian Public Institute (IPI) Dr Jerry Massie. Dia menilai siapa saja Capres yang menggandeng Rizal Ramli di Pilpres 2019, dialah yang berpeluang menang. Pasalnya RR yang dikenal sebagai Tokoh Perubahan ini selalu memiliki solusi untuk bangsa yang tentu saja selalu berpihak kepada rakyat. Track record dan pengalaman RR di dalam maupun luar negeri sudah jelas dan teruji. Dia dua kali jadi Menko dan jadi penasehat ekonomi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Jika Jokowi menggandeng RR, maka dia yang akan menang bertarung. Sebaliknya jika PS yang menggandeng sosok ‘Rajawali Ngepret’ tersebut, akan menjadi kunci kemenangan di Pilpres 2019.

 

 

 

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post