Dua “Urusan Bangsa” Kiai Qosim yang Tak Diketahui Publik

Kiai Sederhana itu Tutup Usia Saat Sujud Sholat Magrib, Tasbih Masih di Tangan

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Banyak yang kaget mendengar KH Sholeh Qosim, mendadak tutup usia. Pengasuh Pondok Pesantren Al Ismailiyah Ngelom Sepanjang Sidoarjo itu wafat pada usia 88 tahun pada Kamis (10/5/2018) pukul 18.30 atau ba’da Magrib.

Kabar tersebut cukup mengagetkan sebab siang harinya, Kiai Qosim masih mengikuti kegiatan Jantiko Mantab (Jatman) semaan Al Quran di Jombang. Tidak hanya itu, pada Minggu (13/5/2018), Kiai Qosim rencananya juga hadir di Masjid Mapolda Jatim untuk acara Istighotsah.

Namun Allah berkehendak lain. Kiai yang juga bekas anggota laskar Sabilillah dalam perang kemerdekaan tahun 1943 dan berjuang pada 10 November di Surabaya, harus bertemu Sang Khaliq.

Tidak ada tanda-tanda serius Kiai Qosim sakit. Namun kepergiannya ditandai dengan perbuatan yang baik. Yah, Kiai Qosim meninggal dalam keadaan sujud dan tasbih masih di tangan saat menjalankan salat Magrib.

Hal itu diungkapkan Ahmad Miftah Haque, cucu Kiai Qosim. Kata pria yang akrab disapa Gus Mif ini, saat Magrib almarhum sholat Maghrib sendirian di rumah. Saat sujud Kiai Qosim tak kunjung beranjak dari tempat sholat sehingga Tholiah, bibi Gus Mif berusaha masuk ke kamar untuk melihat.

“Saat ditemui, almarhum wafat dalam posisi sujud,” ujar cucu KH Sholeh Qosim putra dari Gus Khusnul Sholeh, Kamis (10/5/2018).

Oleh pihak keluarga, lanjut Gus Mif, almarhum kemudian dibawa ke dokter untuk memastikan apakah benar-benar wafat atau tidak.

“Pihak rumah sakit menyatakan bahwa beliau telah wafat. Kami atas nama keluarga besar KH Sholeh Qosim dan Ponpes Al Ismailiyah Ngelom Sepanjang Sidoarjo mohon maaf yang sebesar-besarnya jika almarhum memiliki khilaf dan salah,” katanya.

Tolikara dan Islam Nusantara

Banyak kenangan dari Kiai Qosim yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup. Saat peringatan HUT ke-72 TNI 5 Oktober 2017 lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta Presiden Joko Widodo untuk menyerahkan tumpeng kepada tiga orang terpilih. Mereka adalah Paimin (yang sudah berusia 92 tahun), Kiai Sholeh Qosim. Keduanya adalah pejuang bersenjata di masa lalu, dan terakhir Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, sebagai wakil TNI masa kini.

Diketahui, sesepuh NU Sidoarjo tersebut datang ke peringatan HUT TNI ke-72 di Cilegon, Banten, atas undangan Gatot Nurmantyo.

“Saya ditelepon Pak Gatot Nurmantyo untuk datang ke dalam perayaan HUT TNI. Panglima bilang, saya harus hadir di Cilegon pada tanggal 5 Oktober. Nanti akan ada orang yang menjemput. Semua sudah dipersiapkan,” cerita pria yang lahir di Sidoarjo tahun 1930 ini.

Kehadiran Kiai Qosim waktu itu sempat membuat publik kaget. Pasalnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memberi potongan tumpeng langsung menyalami Kiai Qosim dan dengan takzim mencium tangan beliau. Kejadian itu pun menjadi viral di dunia maya.

Presiden Jokowi mencium tangan Kiai Qosim usai memberi potongan tumpeng dalam peringatan HUT ke-72 TNI di Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017.

Presiden Jokowi mencium tangan Kiai Qosim usai memberi potongan tumpeng dalam peringatan HUT ke-72 TNI di Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017.

“Saya ditelepon Imam Nachrowi. Dia cerita, ditanya banyak orang setelah acara itu (HUT ke-72 TNI). Dia tanya, kok bisa sampai begitu. Ya, saya jawab, tidak tahu. Saya cuma diundang saja,” kata Kiai Qosim saat itu kepada redaksi di kediamannya.

Saat itu kedekatan Kiai Qosim dengan Jenderal Gatot sempat menjadi tanda tanya. Rupanya Jenderal Gatot tidak hanya mengenal Kiai Qosim sebagai anggota laskar Sabilillah di era kemerdekaan, namun Kiai Qosim pernah dua kali dilibatkan Jenderal Gatot untuk menyelesaikan urusan bangsa.

Semasa hidup, Kiai Qosim memang enggan menceritakan “urusan bangsa” yang dimaksud. Maklum beliau sangat ingin menjauhi sifat-sifat riya’.

Kiai Qosim juga mewanti-wanti redaksi agar tidak menceritakan dua “urusan bangsa” itu selama beliau masih hidup. Bahkan beliau menyarankan agar menanyakan langsung ke Jenderal Gatot perihal tersebut. “Alangkah baiknya beliau (Panglima TNI) yang cerita. Itu bukan ranah saya menjawabnya,” jelas sang kiai.

Namun setelah beliau wafat, redaksi merasa perlu untuk mengabarkan dua “urusan bangsa” yang sangat penting tersebut sebagai pengingat bagi rakyat Indonesia.

Ada dua urusan antara Kiai Qosim dan Jenderal Gatot di mana hal itu menjadi penentu arah perdamaian dan persatuan bangsa.

Pertama, kasus intoleran pembakaran masjid di Tolikara, Papua pada 2015 lalu. Kasus ini berpotensi memecah belah umat. Saat itu Jenderal Gatot meminta kepada Kiai Qosim untuk menjadi penengah antara komunitas Muslim dan komunitas Nasrani di Tolikara. Peran Kiai Qosim dalam perdamaian umat beragama di Tolikara sangat vital. Namun beliau menolak disebut perdamaian itu atas jasanya, melainkan semua pihak turut berperan dalam menjaga perdamaian Tolikara. “Saya cuma penengah saja,” kata Kiai Qosim kepada redaksi yang kemudian mewanti-wanti untuk tidak menceritakan kepada publik.

Dalam perdamaian di Tolikara menghasilkan kesepakatan yang dilakukan penyelesaian secara adat. Ada tiga butir kesepakatan yang dihasilkan. Selain penyelesaian masalah secara adat, kesepakatan lainnya, memberikan kebebasan beribadah kepada umat Islam Tolikara, termasuk proses pembangunan masjidnya.
Semua pihak siap menjaga kondisi kehidupan yang harmonis, penuh persaudaraan dan toleransi.

Kiai Qosim membaca doa dalam Haul ke-8 Gus Dur di Ponpes Tebuireng. Tampak dengan khusuk KH Salahuddin Wahid, Khofifah Indar Parawansa dan DR Rizal Ramli.

Kiai Qosim membaca doa dalam Haul ke-8 Gus Dur di Ponpes Tebuireng. Tampak dengan khusuk KH Salahuddin Wahid, Khofifah Indar Parawansa dan DR Rizal Ramli.

Pasca Tolikara, Jenderal Gatot kembali menghubungi Kiai Qosim.
Sejumlah ulama se-Indonesia diundang berkumpul ke Linggarjati, Jawa Barat.

Seperti diketahui Islam yang terus berubah seiiring dengan kemajuan jaman. Pondasi Islam memang sudah kokoh, namun sengkarut di Islam masih kerap terjadi. Sementara itu, gerakan-gerakan revivalisme Islam mulai tumbuh dan langsung mengambil jalur politik-kekuasaan. Polarisasi dalam Islam tidak dapat dihindari lagi, yang berpotensi memecah belah umat Islam. Sehingga butuh gagasan dan ide untuk kembali mempekokoh umat. Di sinilah para ulama berkumpul untuk menentukan arah bangsa ini.

Satu persatu ulama menyampaikan ide dan gagasannya. Namun ketika sampai pada Kiai Qosim, beliau cukup simpel menyampaikan gagasannya. Di hadapan para ulama dan Jenderal Gatot, Kiai Qosim mengungkap konsep Islam Nusantara.

“Saya cuma bilang, sebelum Islam masuk, kita adalah Nusantara. Para wali sebelumnya syiar Islam ke seluruh penjuru Nusantara dengan ciri khas persentuhan, perpaduan dari ajaran, perilaku, budaya dan citarasa masing-masing daerah. Kenapa kita tidak menggunakan konsep Islam Nusantara,” ujar Kiai Qosim.

Konsep dan gagasan Kiai Qosim soal Islam Nusantara ini kemudian diterima oleh para ulama. Bahwa konsep tersebut merupakan yang ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’.

Istilah Islam Nusantara belakangan gencar dikampanyekan oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Bahkan ulama dari 33 negara yang menjadi peserta International Summit of the Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) menyatakan akan mengembangkan Islam moderat ala Islam Nusantara di negara masing-masing.

Bahkan almarhum Kiai Hasyim Muzadi, sesepuh NU yang saat itu menjabat sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) sekaligus Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) berpidato di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang konsep Islam Nusantara. Secara cerdas Hasyim Muzadi menjawab sejumlah tuduhan PBB bahwa umat Islam Indonesia anti toleransi beragama. Pidato Hasyim Muzadi soal Islam Nusantara itu ‘menggetarkan’ negara-negara di seluruh dunia.

Tidak ketinggalan Presiden Jokowi menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara. Hal itu disampaikan dalam pidatonya saat membuka Munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal.

“Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Presiden Jokowi.

Itulah sekelumit perjuangan Kiai Qosim yang membuatnya diakui oleh banyak orang. Meski beliau telah wafat, namun pemikirannya soal Islam Nusantara dibutuhkan masyarakat dunia karena ciri khasnya mengedepankan “jalan tengah”, bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.nov

Up Next

Related Posts

Discussion about this post