Henry Gunawan Rekayasa Saksi, Modus Penipuannya Dibeber Ketua P3TB

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Keterangan empat pedagang Pasar Turi untuk meringankan Henry Jacosity Gunawan, ivestor dan pengelola Pasar Turi terkait
kasus penipuan dan penggelapan,
dianggap tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

Muhammad Taufiq Al Djufri selaku Ketua Perhimpunan Pedagang Pasar Turi Baru (P3TB) menyebut, jika keterangan yang disampaikan empat saksi yakni Ita Sulistiyani, Mas’ud, Djaniadi alias Kho Ping, dan Tan Yong An di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (16/5/2018), tidak disampaikan secara utuh dan hanya setengah-setengah dari peristiwa yang terjadi.

Dalam persidangan Rabu itu, Henry Gunawan dianggap telah menghadirkan saksi rekayasa, di mana salah satu saksi bernama Ita Sulistyani bukanlah pedagang Pasar Turi, melainkan merupakan pegawai dari saksi Djaniadi alias Kho Ping.

Bahkan Henry Gunawan saat ini terlihat panik. Selain takut masuk penjara, dia juga nekat menghadirkan saksi rekayasa. “Itu saksi rekayasa saking takutnya masuk penjara,” sindir Taufiq, Kamis (17/5/2018).

Sejumlah data dan modus penipuan terdakwa Henry Gunawan pun dibeberkan Taufiq, termasuk cara terdakwa meraup keuntungan pribadi dari penjualan stan kepada para pedagang Pasar Turi.

“Pedagang tidak pernah meminta sertifikat strata title, dan itu iming-iming dari Henry melalui pengumuman pembayaran pelunasan pembelian stan pada 19 Maret 2013,” ungkap Taufiq.

Untuk melancarkan tipu dayanya, lanjut Taufiq, terdakwa Henry mengajak pertemuan dengan para pedagang di Hotel Mercure sebanyak dua kali, yakni 26 Februari dan 4 Maret 2013. “Pada pertemuan itu ada tiga poin yang disampaikan Henry pada para pedagang,” sambungnya.

Dijelaskan Taufiq, ada tiga poin yang disampaikan Henry pada pertemuan itu, diantaranya yang pertama, Henry memperkenalkan diri sebagai pemilik PT Gala Bumi Perkasa (GBP).

Poin kedua Henry memberikan pernyataan jika pengelola Pasar Turi bukan lagi PT Gala Megah Invesment, melainkan sudah beralih ditangan PT GBP selaku pemenang tender.

“Poin ketiga, Henry mengatakan kalau kami mau ikut dia kaya, maka dia akan jual Pasar Turi dengan sertifikat strata title. Dengan strata title itulah harga jual stan bisa tinggi dan mudah ambil kredit di bank,” terang Taufiq menirukan ucapan Henry.

Tertarik dengan progam Henry pada penjualan stan yang bersertifikat strata title, para pedagang akhirnya menyetujui pelunasan 80 persen atas pembelian stan tersebut dan melakukan penandatanganan PPJB.

Pelunasan pembayaran 80 persen itu dilakukan pada Oktober 2013, yang terdiri dari pembayaran sertifikat sebesar Rp 10 juta/stan, pembayaran BHTB sebesar 5 Persen dari harga stand dan pembayaran Notaris sebesar Rp 1,5 juta/stand.

“Yang 20 persen dibayar pedagang secara mengangsur mulai bulan Maret hingga Desember 2012 dan pelunasan 80 persennya hingga Desember 2013 mencapai 1,3 triliun lebih,” jelasnya.

Namun setelah lunas pembayaran 80 persen dibayar oleh Pedagang, janji Henry tak kunjung terealisasi. Pada pertengahan Oktober 2014, para pedagang akhirnya mengkroscek kebenaran janji Henry yang bisa membuat standnya bersertifikat strata title ke Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

“Ternyata Bu Risma menyatakan kalau Pasar Turi tidak bisa strata title, kalau bisa distrata title-kan Bu Risma bisa ditangkap KPK,” terang Taufiq menirukan ucapan Bu Risma.

Pernyatan Bu Risma itu akhirnya diklarifikasikan ke Henry. Namun lanjut Taufiq, kedatangannya itu malah disambut sikap arogan. “Kami malah diusir dari kantornya dan diancam pembelian stand pedagang yang sudah dibayar lunas akan dihanguskan,” urai Taufiq.

Modus penipuan Henry akhirnya terungkap setelah diketahui jika pengajuan sertifikat stata title itu baru diajukan ke Pemkot Surabaya pada 7 Oktober 2014 dan ditolak oleh Pemkot Surabaya pada 14 Oktober 2014. Padahal program penjualan stand bersertifikat strata title itu sudah dibayar lunas para pedagang pada 2013. “Dari situlah akhirnya kami membawa kasus ini ke ranah hukum,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Taufik adalah salah satu korban tipu gelap terdakwa Henry yang telah membeli sejumlah stand di Pasar Turi Baru. Dia membeli 9 stand dan sudah dibayar lunas sebanyak 8 stand senilai Rp 2,3 miliar, belum termasuk biaya pungutan sertifikat hak kepemilikannya, senilai Rp. 338 juta.

Tak hanya Taufik, terdakwa Henry juga dilaporkan menipu 20 orang pedagang Pasar Turi Baru Lainnya, yang sudah membayar lunas dari kewajiban mereka.

Tak tangung-tanggung, hasil penipuan dengan modus biaya pungutan sertifikat hak milik atas kios pedagang yang didapat terdakwa Henry mencapai Rp 1.365.251.278.927 (satu triliun, tiga ratus enam puluh lima milliar, dua ratus lima puluh satu juta, dua ratus tujuh puluh delapan ribu, sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah).

Atas perbuatanya, Terdakwa Henry didakwa JPU telah melanggar pasal-pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 tentang penggelapan.nv/man

Up Next

Related Posts

Discussion about this post