Beranda Headline Bom Surabaya Melibatkan Wanita dan Anak Ulah Orang Sakit Jiwa Berdalih Jihad

Bom Surabaya Melibatkan Wanita dan Anak Ulah Orang Sakit Jiwa Berdalih Jihad

192
0
Terdakwa terorisme Aman Abdurrahman.

SIAGAINDONESIA.COM Terdakwa terorisme Aman Abdurrahman menyatakan tak akan membacakan pembelaan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jumat (25/5/2018). Karena menurutnya hal itu tak akan mempengaruhi vonis.

“Pembelaan tidak akan mempengaruhi vonis yang sudah disiapkan untuk saya,” ucap Aman.

Bahkan pemimpin jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu menantang Majelis Hakim untuk menjatuhinya hukuman mati. “Vonis seumur hidup atau vonis mati silakan saja, jangan ragu atau berat hati. Tidak ada sedikit pun saya gentar dan rasa takut, di dalam hati saya dengan hukuman zalim kalian ini,” katanya lagi di akhir pembacaan pledoi.

Namun yang perlu dicermati dari pertanyaan Aman adalah saat dia menyatakan bahwa hanya orang sakit jiwa yang menamakan serangkaian teror di Surabaya sebagai jihad. Aman bahkan mengutuk pelaku yang melibatkan wanita dan anak-anak dalam aksi teror tersebut.

“Kejadian ibu menuntun anak meledakkan diri di parkiran gereja, adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang yang memahami ajaran Islam dan tuntunan jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya. Begitu juga dengan seorang ayah yang membonceng anak kecilnya dan meledakkan diri di depan kantor polisi, si anak terpental dan alhamdulillah masih hidup. Itu tindakan keji dengan dalih jihad,” katanya.

“Dua kejadian di Surabaya itu saya katakan, orang-orang yang melakukan atau menamakannya jihad adalah orang-orang yang sakit jiwanya dan frustasi dengan kehidupan. Islam berlepas dari tindakan semacam itu,” ucapnya.

Meskipun pihaknya mengakui menggolongkan aparat dan pemerintah sebagai kafir, Oman mengklaim tidak pernah menyerukan ajakan kepada para pengikutnya untuk menyerang aparat keamanan dan orang-orang Nasrani. Hal itu, menurut dia, karena Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kaumnya untuk mengganggu umat agama lain, baik dari jiwa maupun hartanya, selama umat tersebut tidak mengganggu atau memerangi kaum Muslim.

“Walaupun saya kafirkan aparat pemerintah ini, akan tetapi sampai detik ini saya dalam kajian atau tulisan yang disebarluaskan, saya belum melontarkan seruan kepada saudara-saudara kami yang hidup di tengah masyarakat ini untuk menyerang aparat keamanan,” katanya.

“Jadi, hanya orang yang bodoh lah yang berbuat semacam itu, yang tidak paham ajaran Islam dengan benar. Saya sampaikan ini agar dipahami oleh semua dan supaya Islam khilafah tidak dikaitkan dengan hal-hal serupa yang bisa saja terjadi kemudian hari, tapi semoga tidak terjadi,” tuturnya.

Sementara secara terpisah, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meminta agar pernyataan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, diviralkan. “Tolong nanti viralkan pernyataan Aman Abdurahman di sidang,” ujar Kapolri di Mapolda Jambi, Jumat (26/5/2018).

Kapolri menilai pernyataan Aman Abdurahman sangat penting untuk meredam aksi teror seperti yang terjadi di Surabaya yakni melakukan bom bunuh diri di Gereja, bahkan melibatkan anak-anak.

Tito percaya hal itu karena Aman Abdurahman adalah pimpinan JAD, kelompok yang diduga sebagai dalang bom Surabaya dan aksi teror di sejumlah daerah. “Amman Abdurahman menyampaikan bahwa melakukan serangan kepada orang kafir, termasuk umat Nasrani, sepanjang dia tidak mengganggu tidak boleh dan haram, berdosa, apalagi melakukan bom bunuh diri, membawa anak, itu masuk neraka. Itu bukan kata saya,” kata Kapolri.

Aman sendiri dalam persidangan menolak dakwaan jaksa yang menyebutnya sebagai dalang atas sejumlah serangan teror pada tahun 2016 dan 2017 dengan memberikan arahan atau pengaruh dari dalam penjara.