Tokoh Minke “Bumi Manusia” Difilmkan, Begini Khawatirnya Para Penikmat Sastra

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer difilmkan akhirnya terjawab sudah. Falcon Pictures yang akan memproduksi film tersebut. Film ini juga akan disutradarai Hanung Bramantyo dan skenarionya ditulis Salman Aristo.

Pemeran Dilan, Iqbaal Ramadhan, yang didapuk menjadi tokoh utama Minke. Lalu ada Sha Ine Febriyanti yang bakal memerankan sosok Nyai Ontosoroh. Sedangkan aktris muda Mawar Eva de Jongh akan memerankan putri Nyai Ontosoroh, Annelies.

Iqbaal sendiri mengaku telah mempersiapkan untuk perannya tersebut. Peran Minke sendiri digambarkan sebagai sosok pemuda yang cerdas dan revolusioner. Secara penampilan, Iqbaal harus menambah bobot tubuhnya agar terlihat lebih berisi. Bukan hanya itu, ia juga harus menumbuhkan kumis tipis sesuai penampilan pemuda pada tahun 1900-an.

“(Belajar bahasa) Belanda, Jawa, terus gue juga harus naikin berat badan, numbuhin kumis,” ujarnya.

Sementara untuk Ine Febriyanti, tawaran main film ini diambilnya karena ia sudah lama mendambakan untuk menjadi sosok Nyai Ontosoroh.

“Karakter Nyai Ontorosoh itu peran yang aku impikan. Aku menganggap Ontorosoh adalah wanita agung,” kata Ine Febriyanti ketika ditemui dalam rilis film ‘Bumi Manusia’ yang dilakukan oleh Hanung dan Falcon Pictures di lokasi syuting, di Desa Gamplong, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (24/5/2018).

Seperti diketahui, semenjak aktif di dunia seni peran sejak tahun 1992, aktris Ine Febriyanti jarang sekali atau bahkan tidak pernah menerima tawaran film industri.

Wanita yang akrab disapa Ine itu pun lebih memilih aktif di panggung teater serta beberapa film indie untuk terus mengasah bakat aktingnya selama ini.

Namun, rekor tidak pernah berakting di film industri terpecahkan ketika ia menerima tawaran film layar lebar bertajuk Bumi Manusia yang diangkat dari novel sejarah karya sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Sementara bagi Hanung, kesempatan menyutradarai film Bumi manusia terasa seperti impian jadi kenyataan. “Saya pertama baca Bumi Manusia dari SMA, lalu baca saat kuliah,” ujar Hanung.

Keinginannya untuk menyutradarai film ini diutarakan langsung ketika dia mengunjungi Pram ke rumahnya. “Pram cuma ketawa,” ungkap dia.

Sastrawan itu menjelaskan pada Hanung bahwa novel tersebut juga menarik minat sutradara Oliver Stone, tapi masih dipertimbangkan oleh Pram.

Menurut Hanung, kala itu Pram mengatakan, “Jadi mohon maaf kalau saya terkesan tidak mendukung seorang mahasiswa seperti bung karena saya adalah orang yang hidup dari menulis, jadi mohon bung bisa mengerti saya.”

Mimpinya kandas, tapi hanya sementara. Kemudian datang tawaran membuat film Bumi Manusia, di mana ia mengajak penulis naskah Salman Aristo untuk bergabung namun ditolak karena ia merasa belum siap. Proyek itu tidak berlanjut.

Sejak itu Hanung terus menelurkan karya, termasuk film-film biopik tentang Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah, Soekarno sampai Kartini. Pada akhirnya, tawaran menghidupkan kisah Pram ke layar lebar kembali datang. Lagi-lagi Hanung meminta Salman Aristo untuk menulis naskah, kali ini permintaannya diterima.

“Barangkali dari perjalanan seperti itu saya dipertemukan kembali dengan Bumi Manusia,” ujar dia. “Mungkin kalau saat itu saya filmkan, Bumi Manusia akan jadi film period pertama yang saya bikin dan enggak akan maksimal karena saya masih belajar.”

Namun demikian, bukan berarti film Bumi Manusia ini tidak mendapatkan kritik. Khusus untuk peran Minke, muncul kritikan dari para penikmat sastra setelah mengetahui Bumi Manusia akan difilmkan pun setelah mengetahui para cast-nya. Dalam kasus ini, para kritikus cukup serius mengkritik Iqbaal yang akan membawakan karakter tersebut, mengingat karakter Minke dinilai sakral oleh para penikmat sastra.

Banyak spekulasi bermunculan ketika terpilihnya Iqbaal sebagai Minke, bahwa Falcon Picture dinilai mengambil kesempatan dari kesuksesan film Dilan 1990 yang berhasil meraup kurang lebih sebanyak tujuh juta penonton.

Wajar saja kekhawatiran itu muncul, sebab akan menghilangkan esensi sebenarnya tentang perjuangan kolonialisme dan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kisah cinta Annelis Malema dan Minke memang menarik dan romantis, namun itu hanyalah pemanis dalam cerita. Justru perjuangan Minke melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya lebih penting untuk dikedepankan.

Novel Bumi manusia tidak sekadar novel cinta-cintaan semata. Bumi Manusia merupakan novel progresif yang mampu membangkitkan semangat revolusioner. Ketajaman pena Pram terlihat di novel Bumi Manusia.

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi Pulau Buru yang ditulis ketika Pram mendekam di Pulau Buru. Pram menulis kisah ini di bekas kertas bungkusan semen sebelum akhirnya ditulis pada 1975.

Novel yang kisahnya berlatar belakang kebangkitan nasional pada 1890-1918 ini sempat dilarang beredar pada masa Orde Baru. Kini buku tersebut sudah dicetak dalam 43 bahasa di seluruh dunia.

Bumi Manusia juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk pementasan teater berjudul Bunga Penutup Abad pada 2016 yang dimainkan Reza Rahadian, Happy Salma, dan Chelsea Islan.

Adapun nama besar Pramoedya Ananta Toer telah terdengar hingga Eropa. Novel Bumi Manusia juga pernah dijadikan materi kuliah sastra di Universitas Queen Mary, London.

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post