Kolaborasi Budaya Nusantara Antara Sunda-Jawa Melalui Kebhinnekaan

Menempatkan Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Arsitek Nusantara Kuno yang Berbudaya dan Berkehidupan

Comment

SIAGAINDONESIA.COM Bhinneka Tunggal Ika menjadi kearifan lokal bagi masyarakat adat Sunda Wiwitan yang muncul sebagai ilustrasi dari jati diri Indonesia sekaligus solusi untuk menjembatani kemajemukan bangsa.

Secara umum, kearifan lokal dapat dilihat sebagai suatu bentuk akumulasi pengetahuan yang tumbuh dalam setiap interaksi masyarakat yang berkaitan dengan keseimbangan alam yang diproses secara turun temurun sebagai suatu bagian dari norma dan nilai-nilai bersama.

Seperti yang dilakukan komunitas masyarakat adat Sunda Wiwitan saat mendatangi wilayah Ujung Galuh, tepatnya di Kenjeran, Surabaya, Kamis (7/5/2018) lalu. Kedatangan mereka untuk menggelar ritual kebudayaan nusantara dengan mengkolaborasi tradisi spiritual masyarakat Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ujung Galuh dipilih karena dulunya bekas pelabuhan besar kerajaan Majapahit. Di Ujung Galuh inilah penyatuan nusantara dilakukan dengan membuat aliansi kerajaan-kerajaan. Pada masa lampau untuk mencapai kerajaan-kerajaan se-nusantara digunakan alat transportasi berupa kapal laut besar yang mampu menerjang ombak tinggi dan ganas. Majapahit adalah kerajaan pertanian yang terletak di tengah pulau Jawa bagian timur, sama sekali bukan kerajaan pesisir yang menempel di pantai.

Gelar budaya nusantara Sunda-Jawa.

Gelar budaya nusantara Sunda-Jawa.

Tema yang diangkat adalah “Amur Kahuripan” berarti fasilitator. Menurut Gin Gin, perwakilan dari Sunda Wiwitan, semua anak bangsa adalah fasilitator atau mediator yang menjaga dan mewarisi budaya bangsa. Karena itu dalam kolaborasi tradisi Sunda dan Jawa, Gin Gin mengatakan telah dilakukan serangkaian pertemuan dengan mengajak para pelaku budaya dari beberapa daerah untuk diskusi bersama masyarakat adat Sunda Wiwitan. Selain diskusi, acara dilanjutkan dengan prosesi adat Sunda Wiwitan kemudian disusul dengan larung sesaji ke laut Jawa.

“Kolaborasi ini merupakan bentuk keberagaman kedua latar budaya dan tradisi spiritual, ya semacam kekayaan warna budaya bangsa. Semangat Bhinneka Tunggal Ika inilah yang kita jadikan perekat bangsa. Galuh sendiri memiliki makna hati nurani. Dalam gelar budaya kami memaknainya dengan ‘Mangunggaluh ka Bhinekaan Bangsa’. Adanya akumulasi dari karakter yang beragam ini dapat menampilkan rasa kebangsaan. Dalam hal ini, butuh kesadaran kultural sebagai perekatnya. Inilah yang nantinya dapat mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan serta penguatannya,” ucap Gin Gin.

Setelah ada kesadaran, maka harapan karakter bangsa yang terbentuk mencerminkan keragaman nilai-nilai yang menjadi dasar dalam perkembangan moral bangsa tentu bukan menjadi hal yang tak mungkin terwujud.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat keberagaman bangsa.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat keberagaman bangsa.

Tidak bisa dipungkiri, Bhinneka Tunggal Ika merupakan hasil arsitek nusantara kuno yang dipercaya oleh rakyat sebagai tempat berbudaya dan berkehidupan. Dengan menghubungkan antara aspek duniawi dan spiritual, para pelaku budaya percaya bahwa ‘karya arsitektur’ tersebut bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tentunya jika karya arsitektur tersebut diterapkan saat ini tentang kenusantaraan, bukan tidak mungkin keserupaan itu bisa bersesuaian dengan modernitas masa kini yang lebih universal.

Gin Gin menambahkan, gelar budaya sakral di Ujung Galuh bertujuan menyatukan hati anak bangsa melalui spiritual untuk mencintai dan mempertahankan warisan leluhur berupa tradisi dan budaya luhung. Setiap manusia Indonesia yang sehat akal budinya pasti percaya bahwa aspek spiritual ini penting dan tidak dapat dihindarkan.

Dalam praktik spiritual, Sunda Wiwitan kerap mengadakan upacara adat yang melibatkan makhluk hidup serta alam, seperti umumnya juga masyarakat Jawa. Keterlibatan alam dalam upacara spiritual bukan lagi dianggap hal yang tabu oleh masyarakat. “Menjaga budaya bangsa sama dengan menjaga dan mempertahankan keutuhan negara, serta tanah air Indonesia,” terangnya.

Memang ada kekhawatiran karena begitu seringnya terdengar dan terlihat sikap yang cenderung bergagasan dasar penyeragaman dan intoleran. Masyarakat Sunda sendiri sejak zaman dahulu tidak sekadar memaknai Sunda sebagai sebuah etnis, tetapi juga kesadaran geografis dan filosofis.

“Dasar pertemuan Sunda dan Jawa telah memberi semangat persaudaraan yang utuh dalam ruang lingkup kebhinnekaan. Dari sini akan tumbuh rasa percaya diri untuk mengatasi kecenderungan tumbuhnya sikap intoleran dan fanatik dengan bersatu dan bekerjasama,” tutup Gin Gin.

Dalam kesempatan itu, masyarakat adat Sunda Wiwitan juga mengundang saudara-saudara di Jawa Timur untuk hadir dalam perhelatan dan perjamuan budaya sakral leluhur di Gunung Tangkuban Parahu, yaitu “Upacara Ngertakeun Bumi Lamba” pada 24 Juni 2018.nov

 

Up Next

Related Posts

Discussion about this post